Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bercerita" poems
Palembang, Kamis 6 Januari 2011 Hari ini aku seneng banget Aku sedang dekat dengan seseorang Dan aku tak yakin menyebutnya cinta Karena aku tuk saat ini tak percaya dengan cinta Cinta memang indah sih Tapi aku sedang tidak beruntung saat aku dengan mantan Aku sekarang bisa merasakan dua belas rasa cinta Sayang, kangen, senang, kecewa, cemas, marah, perih, sedih, menyesal, bimbang, benci, dan lain-lain Oleh karena iti aku tak sanggup bertemu cinta Lebih baik tunggu saja hingga aku siap Tapi bila aku mendapatkan satu kesempatan lagi Aku berjanji tuk mengambilnya Tak akan ku sia-siakan kesempatan itu Sungguh aku berjanji Aku tak sanggup untuk bercerita tentang nya Karena ku takut rasa itu akan berubah Dan yang ku rasa akan berbeda Pasti itu akan menyakiti hatiku Sangat Dan yang manusia tahu Mereka tidak mau tersakiti Apalagi oleh cinta :)
0
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 2:06 AM UTC
12 Rasa Cinta
Kau... membenciku kah? tidak menyukaiku? atau mungkin kau iri padaku? Kau begitu munafik! dulu aku selalu bercerita tentangnya padamu, meskipun aku dan dia sudah tak lagi bersama kau pun tahu aku masih sangat sangat menyukainya. Kau tahu aku mengaguminya berbulan bulan, kau juga tahu untuk mendapatkan hatinya seperti berlari mendapatkan satu bintang kecil. Walau pada akhir nya aku hanya jadi pelampiasan perasaannya, tapi aku masih sangat menyukainya pada waktu itu meski kenyataannya harus seperti itu. Aku teman mu, dan aku juga tahu kau juga temannya lebih dekat dari sekedar pertemananku denganmu. tapi apa kau tak bisa mengahargai perasaanku sebagai temanmu? kau tahu semua isi hatiku tentangnya, tapi mengapa kau sekarang? memadu kasih dengan dirinya yang sampai detik ini kau tahu aku masih sangat mengaguminya! kau jahat! kau benar-benar penghianat bertopeng pertemanan! kau bukan lagi temanku sekarang. Itu terlalu sakit, sangat sakit untuk ku percaya. kau bahkan hanya mengatakan maaf hanya untuk sekali seumur hidupmu?! itukah dirimu yang sebenarnya? menikamku tanpa ampun. kalian berdua sama saja, tak ada gunanya aku mempertahankan seorang teman penghianat, dan sorang pengagum yang gila perempuan. 'seorang pencuri kekasih sesungguhnya mencuri seorang penghianat!'
0
Oct 10, 2013
Oct 10, 2013 at 11:30 PM UTC
Dikamusku ada 'MANTAN TEMAN' sekarang!
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
Palembang, 26 April 2015 Dear Mama, Aku ingin bercerita Aku seperti orang buta, Mama Aku tidak bisa melihat mana hal yang baik, mana hal yang buruk Aku tidak bisa membedakan di antara keduanya, Mama Mama Sayang, Aku ingin bercerita Aku seperti orang lumpuh, Mama Aku tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri Bahkan aku memilih berdiam diri daripada menghadapinya Mamaku yang Cantik, Aku ingin bercerita Aku seperti orang tuli Aku sedikitpun aku tidak menghiraukan dunia sekitar Aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri Mama, Aku ingin bercerita Aku pembuat onar di sini, aku ingin pulang ke pelukanmu Aku ingin jadi anak baik Seperti saat masih di dalam pengasuhanmu Mama, aku rindu Mama
0
Apr 26, 2015
Apr 26, 2015 at 12:51 PM UTC
Dear Mama
aku bernama sepi... tanpa ayah, ibu, sahabat, apalagi seorang kekasih hidupku tak bahagia... tapi aku tak pernah frustasi aku tak pernah berpaling dari realita... karna ini memang nasibku... aku bernama sepi... tanpa ayah, ibu, sahabat, apalagi seorang kekasih! berbahagialah kau yang memiliki semuanya! sepi lalu meninggalkanku bahagiakah aku?
0
Sep 20, 2009
Sep 20, 2009 at 11:50 PM UTC
sepi bercerita padaku tentang hidupnya
Ada indah di balik kata-kata. Tak perlu langsung tersurat, Kata-kata pun bisa dirasa. Bukan untuk mencari mata, Hanya untuk sekedar bercerita
0
Jul 15, 2020
Jul 15, 2020 at 11:50 AM UTC
Tanpa Kata
Hari ini aku ingin bercerita Bagaimana sebuah rasa berubah menjadi sebuah asa Saat itu.. Aku melihatmu Berjalan, tapi tetap pada bayangan yang sama Bagaimana bisa? Kau sudah melewati beberapa cahaya Yang bahkan berbeda beda Aku penasaran Rasa untuk membawamu dari bayangan itu muncul Aku berharap usahaku berhasil Sebuah rasa yang berubah menjadi asa Lagi. Aku bermimpi Agar kau tak berhubungan lagi dengan bayangan lalu mu Aku bertindak. Membantumu Lagi, asa itu berasal dari rasa yang sama. Rasa untuk membantumu bangkit dari bayangan itu. Namun, lambat laun rasa itu berubah Berubah menjadi asa untuk kita memiliki bayangan yang sama Ketika waktunya tiba, ku kira aku berhasil Ternyata... sangat jauh dari kata itu Kau lebih memilih menghentikan usahaku, tindakanku Dengan alasan “aku butuh jeda” Baik. Ku turuti maumu aku bahkan masih berpikur positif. Tapi semakin larut, kau tak juga kembali Oh. Dan kusadari, Kau pergi, bersama bayangan itu lagi Kau menjauhi ku dan mendekati bayangan itu, lagi Sungguh aku tak sanggup mencernanya Rasa itu. Asa itu. Bahkan kau tak pernah menganggapnya, kan? Sungguh, apakah kau mengerti maksud dari segala cerita tentang rasaku? Tentang asaku? Kau pergi tanpa mengucapkab selamat tinggal. Bukan. Setidaknya kau bisa memujiku Memuji atas rasa dan asa ku. Sekali lagi, karena rasa ini, asa ku muncul kembali Ya, sebuah asa. Asa untuk melenyapkan segala rasaku padamu Baik itu rasa penasaran, ingin menolong, atau rasa ingin memiliki bayangan bersama mu
0
May 19, 2019
May 19, 2019 at 1:23 PM UTC
Rasa dengan reaksi asa
Hari ini aku ingin bercerita Bagaimana sebuah rasa berubah menjadi sebuah asa Saat itu.. Aku melihatmu Berjalan, tapi tetap pada bayangan yang sama Bagaimana bisa? Kau sudah melewati beberapa cahaya Yang bahkan berbeda beda Aku penasaran Rasa untuk membawamu dari bayangan itu muncul Aku berharap usahaku berhasil Sebuah rasa yang berubah menjadi asa Lagi. Aku bermimpi Agar kau tak berhubungan lagi dengan bayangan lalu mu Aku bertindak. Membantumu Lagi, asa itu berasal dari rasa yang sama. Rasa untuk membantumu bangkit dari bayangan itu. Namun, lambat laun rasa itu berubah Berubah menjadi asa untuk kita memiliki bayangan yang sama Ketika waktunya tiba, ku kira aku berhasil Ternyata... sangat jauh dari kata itu Kau lebih memilih menghentikan usahaku, tindakanku Dengan alasan “aku butuh jeda” Baik. Ku turuti maumu aku bahkan masih berpikur positif. Tapi semakin larut, kau tak juga kembali Oh. Dan kusadari, Kau pergi, bersama bayangan itu lagi Kau menjauhi ku dan mendekati bayangan itu, lagi Sungguh aku tak sanggup mencernanya Rasa itu. Asa itu. Bahkan kau tak pernah menganggapnya, kan? Sungguh, apakah kau mengerti maksud dari segala cerita tentang rasaku? Tentang asaku? Kau pergi tanpa mengucapkab selamat tinggal. Bukan. Setidaknya kau bisa memujiku Memuji atas rasa dan asa ku. Sekali lagi, karena rasa ini, asa ku muncul kembali Ya, sebuah asa. Asa untuk melenyapkan segala rasaku padamu Baik itu rasa penasaran, ingin menolong, atau rasa ingin memiliki bayangan bersama mu
Continue reading...
40
sudah kuceritakan pada senja tentang hari yang kulewati bersama mentari bahkan hujan dan aku merangkai kisahku tapi kadang aku bercerita pada malam malah, bulan dan bintang juga ikut bercengkrama iya, jika hari tak hujan mereka berani menemuiku aku mencoba mengerti bahasa mereka sama hal nya yang mereka lakukan tapi kuakui mereka pendengar yang baik aku masih berdiri didekat jendela memahami gestur dan menunggu jawaban mereka atas pertanyaan yang kuajukan  tentang seseorang dan menitip pesan rahasia untuknya
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:27 AM UTC
Rahasiaku
tatapan kosong yang mencerminkan kesuraman itu, membunuh jiwaku perlahan namun pasti, sekarang aku sekarat. aku tidak menuntut banyak hal dalam hidup, hanya butuh teman untuk bercerita dan bercengkrama. sekarang sepi, akankah sampai mati?
0
Jan 16, 2019
Jan 16, 2019 at 8:48 AM UTC
Sepi Hingga Mati
Hmmm.... Lagi ingin berkata tanpa nada puitis ingin bercerita tentang dia si anjing jalanan. Kabarnya, dia masih di ambang temaram merindu tentram. Sedengarku, dia mengejar tanpa berlari lalu terjatuh. Pantang menyerah seyakinku, namun rapuh sejadinya. Aku tidak pernah melihatnya bersama anjing lainnya. Mungkin, dia ingin sendiri. Atau dia bisa sendiri. Atau terbiasa sendiri? Aah, aku hanya menunggu waktu menjawabnya ... Seperti biasa.
0
Aug 17, 2018
Aug 17, 2018 at 10:40 AM UTC
HMmMMMmmm
Tadi , si penjaga bintang berbisik kepada ku Seperti biasa Sesi bercerita yang kami adakan setiap malamnya Dia bercerita tentang betapa cantik nya bintang bersinar setiap malam Aku bercerita tentang kamu Sama persis dengan si penjaga bintang Aku mengatakan betapa tadi mata ku tak bisa teralihkan dari kamu Yang penting sekarang Pejamkan matamu Semoga ucapan rindu ku membuat mu terlelap Selamat tidur sayang
0
Feb 28, 2017
Feb 28, 2017 at 10:49 AM UTC
Selamat tidur (sayang)
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
Biarkan aku bercerita, tentang anggun nya malam kala kita bersama. Dua insan yang terlihat saling suka. Tertawa lepas tentang angan yang berkelana. Menyanyikan lagu kesukaan yang ternyata sama. Berbaring dan saling tatap. Biarkan aku bercerita, Tentang isak tangis sang wanita kala rindu menyergap. Penantian panjang pesan yang tak dibalas. Lagu yang tak lagi terdengar menyenangkan. Berbaring dengan harapan sang pujangga kembali datang.
0
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 11:09 AM UTC
Biarkan aku bercerita
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
0
May 27, 2019
May 27, 2019 at 12:42 AM UTC
Sumpah Dibayar Mata
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
Continue reading...
35
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
0
Jan 5, 2020
Jan 5, 2020 at 11:23 AM UTC
catatan waktu itu1
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
Continue reading...
32
Ditarik, kami diarahkan membaca apapun yang tidak ada penjelasannya. Dikodratkan harus paham isi kepala makhluk yang hanya sesekali berkata iya dan tidak. Kami terpingkal, Puan. Bagaimana tidak?; Kain yang kau gunting sendiri dan pintal dengan rajut sedari subuh sudah cantik--tapi kau merasa kurang, dan kami adalah penyebabnya katamu. Duduk kami melingkar bersama dengan gelas gelas berisi teh melati, Hangat membaur aroma kebingungan kaum kami. Sekali beberapa menit kami terpingkal lagi, berusaha terus membaca setiap halaman kosong dan beberapa titik saja di sudut kiri kanannya. Tidak ada barang satupun buku yang mengerti keinginan puan. Cemasnya puan ingin dilindungi, Lembutnya puan yang ingin dikasihi, Ah, apalagi tangisan yang tiba-tiba terisak di malam sehabis mimpi. Tersenyum kami menahan tawa dan kantuk, sembari melihat-lihat wajah puan yang tertunduk mengharap ditanya mengenai hari ini. Semenit dua menit kami lihat lekat-lekat wajah puan. Kami bisa tidur malam ini, Jawaban kebingungan lelaki bukan tertulis pada buku-buku; tapi dua bola mata yang senantiasa banyak bercerita setiap ia duduk hening tanpa berbicara. Ah, engkau puan~ Buku pelajaran yang tak ada tamatnya. B_A 10 Mei 2019
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 12:23 AM UTC
Ah, engkau puan~
Malang; Biarkan aku bercerita, tentang anggun nya malam kala kita bersama. Dua insan yang terlihat saling suka. Tertawa lepas tentang angan yang berkelana. Menyanyikan lagu kesukaan yang ternyata sama. Berbaring dan saling tatap. Menyadari cinta selalu ada.
0
Dec 29, 2018
Dec 29, 2018 at 12:27 PM UTC
Malang.
membingkai itu ada tujuannya dilapisi kaca biar tidak terkotori aku mengamplas ingatan yang sempat luntur terbawa pada lamunan utuh & seruan sendu silam, bertumpu berapi-api enggan berkeputusan asal sampai kini, aku masih patuh pada prinsipku kamu memintaku, namun hatiku berprasangka itu rancangan induk bukan asli pemintaanmu kupilih menepikan diri diam-diam berharap kamu bercerita lebih dalam tapi nihil, malah indukmu maju aku mau, tapi apa keputusan ini benar pepetan restu, tekanan waktu dihimpit ketakutan indukmu atas cemooh orang, siapa? tetangga? saudara? keengganan bersepaham kuuji kamu dari belakang menantang setara, seimbang, sejajar lontaran kata pengundang debat berlindung atas wejangan duda muda yang baik "dua jenis prinsip tujuan pernikahan" satu, untuk memulai keluarga baru dua, untuk menyatukan keluarga dengan kesadaran kupilih yang bertolak denganmu karena saat itu aku belumuran ragu sejauh mana kedewasaanmu? kamu gagal pada tesmu, tapi aku tetap bertahan kala itu, setelah semua berjarak, mungkin kamu sadar ikatan pernikahan bukanlah hal main-main kubedah diriku, ada setitik kekecewaan seumpama semesta menghajarku dengan keras tapi Ia tidak melepaskanku pada maut disadarkanNya pula, inilah jawaban doa "jauhkanlah aku dari yang jahat & dekatkanlah dengan yang baik" jari manisku takkan tersemat cincin duri sebab ranting emas berbunga daisy telah memekarkan diri
0
Jul 23, 2019
Jul 23, 2019 at 7:37 AM UTC
Wejangan Duda
“Whats wrong?” “Kenapa? Ada apa?” Kalimat yang selalu ku tunggu Saat aku butuh wadah bercerita Bentuk kepeduliankah? Atau hanya seutas penasaran? Aku tidak peduli Setidaknya, kau masih ada saat aku butuh sandaran Dan tempat berbagi cerita Walaupun kita sedang berjarak, Tidak selucu dan semenggemaskan dulu Tapi terimakasih Karena selalu siaga ada disisiku
0
May 15, 2019
May 15, 2019 at 7:06 PM UTC
Arti hadirmu
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
0
Jun 18, 2019
Jun 18, 2019 at 11:16 AM UTC
Buku Harian Gadis Kecil Berpipi Bulat
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
Continue reading...
58
Bagaimana kalau surga dan neraka itu tidak ada, dan kau aku kita berlomba untuk hidup paling abadi berdampingan semestinya ? Namun sekarang aku bercermin dengan realita. mungkin kita berada di ruang yang sama, sibuk bercerita hari kemarin dan besok. lalu kau harus pergi, sehingga hanya jejak senyum hari ini yang tersisa dalam perjalanan sendiri-sendiri. Jadi izinkan aku mengucapkan: “Hati - hati di jalan ya. Semoga selamat dan menemukan tujuan. Semoga pula sampai jumpa. Semoga semua semoga karena 1000 doa ikut serta. Aku pamit.”
0
Oct 3, 2019
Oct 3, 2019 at 4:31 PM UTC
Dialog Sendiri Dini Hari
Jika Tuhan tidak pernah sampai Lalu aku ada dimana? Ditumpukan sisa rautan pensil, katamu Habis, kandas menyisakan kehitaman diujung-ujung tajamnya Jika Tuhan tidak pernah mengirim pesan Lalu aku bercerita dimana? Pada kerumunan isi kota yang melenakan Padat, riuh semua ingin berbicara Tuhanku mendengar, Tuhanmu juga Kemudian bagaimana dengan kebebasan? Ia ada, tanpa diminta. B_A 24 Agustus 2022
0
Aug 23, 2022
Aug 23, 2022 at 7:34 PM UTC
Jika
Semesta, aku sedang senang Mungkin awalnya dia duluan yang senang Tapi dia berikan aku kata dalam suara Bukan sekedar huruf Tapi ini bukan tentang dia yang kamu tau Bukan, bukan dia yang berhasil singgah dihati Masih dia yang menjadi sahabat dalam sepi Dia yang bercerita dalam hujan Seolah suaranya datang bersama angin Tapi anehnya, yang aku rasakan hanya bahagia Tidak ada takut sedikitpun Tidak ada niatan buruk tersirat apalagi tersurat Senyumnya sejuk seolah membawa pelangi Sehabis hujanku reda
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:35 AM UTC
Senyum sejuk