Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"barisan" poems
Cinta aku walau mati Masih hidup Dalam tulisan ku Dalam setiap bibit kata cinta Melalui dakwat air mata Dan setiap barisan lara Cinta aku walau sudah lama pergi Masih bernafas Dalam bait bait permata Sulaman nafas cinta pertama Di atas sehelai selendang Yang dulu mengikat erat akal dan nyawa Cinta aku tetap hidup dan bernafas Di atas empat penjuru putih batasan terakhir nyawa cinta ini Yang jasad sudah lama hilang Ditelan masa manusia
0
Jun 9, 2018
Jun 9, 2018 at 12:54 PM UTC
Masih (Still)
Satu, Aku harap kau mengerti mengapa argumen-argumen kita tidak dapat mengalahkan ego ku untuk terus bertahan bersamamu. Dua, Aku harap, kau pun juga mengerti bahwa semua yang aku lakukan tidak sedikitpun bertuju untuk menyakiti hati mu. Tiga, Aku sangat berharap kau mengerti, rasa yang lebih dari sepasang sahabat akan merusak segalanya. Kini kau lihat, bukan? Aku kehilangan cintaku, begitu pula sahabatku.
0
Mar 13, 2018
Mar 13, 2018 at 3:17 AM UTC
Barisan kata untuk sahabatku.
Aku selalu suka caramu menceritakan dunia, dengan barisan kata yang asing, membuatku harus memutar otakku yang rendah kapasitasnya ini. Aku selalu suka caramu bahagia, bahkan kamu tidak tersenyum ketika bahagia. Hebatnya kamu, bahagiamu bisa sampai ku rasa tanpa senyumanmu yang hadir. Aku selalu suka caramu bersedih, kamu selalu kehabisan kata. Melampiaskannya dengan hal yang bisa mematikanmu, namun pada akhirnya kamu juga butuh pelukanku. Aku selalu suka caramu marah, kamu selalu terdiam. Sampai pada akhirnya kata maaf terucap, karena kamu takut aku akan terganggu dengan marahmu. Aku selalu suka caramu optimis, membanggakan dirimu sendiri sampai lupa kalau di dunia ini ada orang sehebat Pak Habibie. Aku selalu suka caramu pesimis, tidak henti menyalahkan diri sendiri, tapi tidak memakan waktu lama. Setelah itu kamu bangkit lagi. Tapi satu yang tidak aku suka, caramu yang selalu mematikan rasa. Kamu tidak pernah membiarkan rasa-rasa dalam dirimu menyala. Kamu benci rasa. Sama seperti aku membenci diriku sendiri. Tapi tidak apa, Nanti kita sama-sama belajar untuk merasa lagi, ya? Namun, akan lebih baik jika pada akhirnya kita yang bisa saling menumbuhkan rasa.
0
Feb 26, 2020
Feb 26, 2020 at 2:16 PM UTC
02.16
356 putaran bumi, kita beradu rasa Raga saling terlekat erat, tak terasa Rapat serapat barisan bata, tak terduga, terbiasa Memadukan jari, tanpa perlu banyak bicara Saling menyaut, berjalan searah Memang arus yang membimbingku Langit bumi berselurus mengantarmu Bingkisan besar para dewa untukku Berkat kebesaran yang Maha Segala
0
Mar 24, 2020
Mar 24, 2020 at 8:59 AM UTC
ANARGYA
9.39 sudah muncul kembali kembali mengakhiri kali ini, untuk yang kedua kali firasatku, yang terakhir itu kali ini sudah tidak ada mengakhiri harus terima kalau sudah begini ah salah memaksa jiwa raga untuk mengerti apa yang otak ingini logisku kembali berputar bersinar sinar tetapi kejam lihat, hatiku sudah mati rasa hambar sebenarnya sedih sangat gila tetapi sudah sering hambar mau dicari siapa yang salah aku tetap ada barisan paling belakang mungkin anak ini memang bukan untuknya pantas saja tidak, apalagi untuk bersanding terimakasih sudah pernah mau mau membantu mau menjaga aku akan pakai ilmumu harus keras ya, aku akan keras kepada diriku sendiri walaupun sudah tidak ada sang pemberi ilmu mungkin ini balasanku ini salahku semuanya hidupku hambar lagi lagi, terimakasih pernah mau
0
Oct 20, 2018
Oct 20, 2018 at 10:48 AM UTC
hambar;hari satu