Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"ataupun" poems
Dear Nakama...       Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J Dear Nakama...       Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan? Dear Nakama...       Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L Dear Nakama...       Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti,  akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu... Dear Nakama...       Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja... Dear Nakama...       Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”...  :’( Dear Nakama...       Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu... Dear Nakama...       Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu... Dear Nakama...       Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh... Dear Nakama...       Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita! Dear Nakama...       Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja... Semoga kau berkenan untuk memaafkanku... Sahabatmu : Haruna J
0
Jul 31, 2014
Jul 31, 2014 at 5:52 PM UTC
Dear NAKAMA
Dear Nakama...       Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J Dear Nakama...       Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan? Dear Nakama...       Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L Dear Nakama...       Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti,  akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu... Dear Nakama...       Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja... Dear Nakama...       Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”...  :’( Dear Nakama...       Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu... Dear Nakama...       Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu... Dear Nakama...       Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh... Dear Nakama...       Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita! Dear Nakama...       Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja... Semoga kau berkenan untuk memaafkanku... Sahabatmu : Haruna J
Continue reading...
24
Palembang, Selasa 29 November 2011 Aku yang selalu menyalahkan diri sendiri atas kesalahan ku Terus menerus berfikir apa pantas tuk mendapatkan itu Bila berdoa saja pun aku selalu bolos Aku yang kata orang tak sadar diri Selalu dan selalu membela diri Memang iya, aku melakukannya sendiri Aku yang sedang-sedang saja Tak pintar, tak menarik pun tak beruang Masih mau bersedekah untuk batin ini juga Aku yang segalanya Segalanya bohong, malas, bodoh Hanya bisa menangis ataupun acuh seperti orang hilang Aku yang masa depannnya suram Tak berani berucap mau jadi apa Kalau mengadu pada-Nya saja aku sungkan Aku yang hidupnya menyedihkan Duduk memangku harapan Menunggu keajaiban Tuhan
0
Nov 29, 2011
Nov 29, 2011 at 7:44 AM UTC
Aku Yang Menunggu Keajaiban Tuhan
Jika malam berbicara mengenai cintanya terhadap rembulan Tak perlu kau berkata lagi melalui isyarat ataupun senandung Cukuplah diam dan resapi setiap kecupan diantara angin malam Dan jangan ganggu bintang karena mereka nyaman dan tenang dalam kejauhan Biarlah malam yang melengkapimu Menjagamu dalam tidurmu Pengantar untuk segala mimpimu Semoga Tuhan bersamamu sampai fajar berikutnya
0
Sep 15, 2016
Sep 15, 2016 at 5:13 AM UTC
Malam
Tujuh lapis langit, Tiga lapis bumi, Petualang mengembara, Jauh dari tanah, Menjelajah samudera, Rindu pada darat, Ku lepaskan pada laguna, Hujan di libas badai, Sanubari hati ini Impikan haruman cindai, Oh Juwita, Tiap detik pasti rindu, Lafas tiada noktah ataupun koma, Hanya ombak dan bayu berlagu, Awan berarak syahdu, Bintang malam menjadi arah, Ku harap, Aku tidak sesat ke jalan yang salah.
0
Jul 1, 2023
Jul 1, 2023 at 2:56 AM UTC
Juwita
Aku menulis Menulis lagi hal yang semu Makna yang tak pasti Aku berpikir keras, kata demi kata ku ketik Klik, Klik, Klik Berharap kelak tulisanku terpajang indah di tembok lorong Aku tidak melihat ke depan, ataupun ke belakang Aku hanya fokus pada layar yang ada di depanku Memandang, membaca, memahami Mengimajinasikan visual hidupku ke dalam kata Terus Klik, Klik, klik Aku berusaha tak terputus, terus mengetik Tiada orang lain yang ada dipikiranku Tidak diiidiii, ibuku, bahkan kawanku Hanya berpikir, huruf apalagi yang harus ku tulis setelah huruf ini? Klik, klik, klik, Aku mulai melambat Namun ku tak pernah menyerah Tak ingin kutinggal Kini pikiranku buntu Di saat aku mulai meninggalkan layarku Sejenak imajinasiku berbicara "You can not be changed... But you can make a change." . . . Tak ada lagi Klik, Klik, Klik Aku hanya memikirkannya Dan semua selesai Hanya dengan satu KLIK
0
May 28, 2013
May 28, 2013 at 7:55 AM UTC
KLIK
Teriakan demi teriakan Kami... menangis... Sakit... sakit... Kenapa? Mengapa? Setiap detik hati kami Selalu resah dan gelisah Terbelenggu, kami terbelenggu Apa salah kami? Apa yang jadi dendam? Anak cucu kami Tak bersalah? Tak tahu menahu? Tapi mengapa? Kau binasakan mereka? Kau hancurkan kami? Mengapa kami, tempat tinggal kami? Kenapa? Mengapa? Tolong... tolong... Tuhan Apa rencana-Mu? Apa yang Kau inginkan? Kami sabar, kami diam! Seakan menunggu ajal datang Kami diam, kami takut Suara ledakan hancurkan hati kami Kenapa? Tak ada pembelaan? Mengapa? Harus ada perang? Kami lemah kami tak berdaya! Kami hanya bisa menunggu! Entah apa yang ditunggu. Ajalkah... Damaikah... Ataupun derita... Ya Tuhan kami... Mengapa ini terjadi??
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:58 AM UTC
Tanya Rakyat Palestina
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
0
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
Laut punya caranya
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Continue reading...
36
Poligami itu hukumnya mubah (QS. An Nisa 3) tidak ada thalab (seruan) disana secara jazm (yang menguatkan) untuk disebut berhukum sunnah, ataupun wajib. Dan tidak ada illat ataupun syarat yang menjadikannya wajib ataupun sunah. Di ayat tersebut ada frase "ma thoba" (yang kalian senangi), jadi disitu Allah memberi pilihan (atas keMahatahuannya Allah atas mahluk-Nya), karena memang mubah itu statusnya "pilihan" Kalau dianalogikan, seperti orang makan lauk kerupuk. Ada yang suka/memilih makan pake kerupuk, ada yang nggak suka. Bukan berarti yang suka makan kerupuk, lebih terpuji, dan yang tidak suka makan kerupuk, tidak terpuji. Atau sebaliknya. Dan 'adil' bukanlah illat atau syarat, dibolehkannya seorang laki-laki (suami) untuk berpoligami (menikah lagi)... Sederhananya begitu cara memahami 'hukum Allah' yang satu ini. Jangan sampai suka dan ketidaksukaan kita terhadap sesuatu membuat kita salah persepsi tentang hukum yang satu ini... Wallahu'alam ======================== Semoga yang baca nggak salah persepsi ya...
0
Mar 19, 2015
Mar 19, 2015 at 12:57 AM UTC
POLIGAMI
Ya Langit ini terlalu indah untuk dilihat saja Tanah ini terlalu luas sebagai sebuah pijakan Bisakah aku melihat sisi langit lainnya? Bisakah aku mengenal sudut pijakan lainnya? Aku juga ingin bertemu dengan senja di langit utara Apalagi saat fajar mengintip di langit selatan Aku tidak dari timur Ataupun barat Aku ditengah. Ditengah tengah kebingungan Aku hanya ingin mengenal tanah di sudut barat daya Di sisi tenggara Menyapa tanaman dan makhluk hidup lainnya Salahkah aku? Aku hanya makhluk yang serba ingin tahu Tolong, jelaskan padaku mengapa ini salah Mengapa ini dilarang?! Aku juga ingin menikmati sinar sang surya dari sisi yang berbeda Apakah aku terhukum? Aku bukan peminta Apalagi pengemis Tapi kali ini, bisakah kau jelaskan padaku? Apa? Mengapa?
0
Nov 7, 2018
Nov 7, 2018 at 12:35 PM UTC
Mohonku
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
Pernahkah kita memikirkan, bagaimana cara Maria melahirkan Yesus P i k i r k a n l a h.... Ya...benar sama seperti manusia, seperti seorang ibu yang melahirkan Menahan sakit dan berpeluh Tak seorang dokter ataupun bidan membantu Hanya tangan Tuhan, Sang Allah Bapa yang memberikan kekuatan Menopang dan dapat menjalankan persalinan dengan sempurna Maria seorang perawan yang tidak pernah melahirkan sebelumnya Melakukan kehendak Tuhan seperti yang sudah dikatakannya: "Jadilah kepadaku seperti kehendakMu" Berserah ditanganNya, diantara kesendirian dan kemustahilan Berseru kepada Tuhan:' KehendakMu Tuhan kulaksanakan!" Jadilah kita seperti Maria pada jaman ini Berserah akan kehendak Tuhan Walau jalan tak lapang, walau rintangan tak kurang Tetapi tanganNya tak pernah melepaskan kita Pelukkannya tak pernah kurang kehangatan KasihNya yang selalu menyertai IMANUEL...
0
Dec 20, 2016
Dec 20, 2016 at 9:12 PM UTC
Imanuel
Bersama suara tawa Terdengung hasrat hati sedikit kata Dia yang berbaik hati Dan saya yang bersakit sakit Merangkak dibawah kebaikannya Menggumam kala dia tertawa Gapai senyumnya yang tak kasat hati Bahkan, rela tenggelam dalam pasir khayalnya Hm, apakah ini saatnya? Pengakuan akan hasrat hati sebenarnya? Mengenai rasa dan karsa Di akhir petang ini, Bersama riakan air dan sapaan ombak Bahkan ditemani oleh anak kepiting lucu Dan lembayung surya sebagai saksi Saya, sang khalayak yang tengah berdiri Memintanya untuk berhenti Baik dalam melangkah, ataupun berlari Karena saya akan mencari sisi ujung lembayung surya yang lain Dan dia tak perlu tahu jika memang tak ingin Terima kasih
0
Aug 7, 2019
Aug 7, 2019 at 11:56 AM UTC
Ujung Lembayung Surya
Raguku telah kau hapus Namun bungkammu sendiri yang membuatmu mampus Tak terkesan serius Mana kutahu kau mau berlabuh atau lanjut terus Kamu kira aku jenius Kau saja telah berhenti mengurus Tiada perhatian, peduli, ataupun aplaus Gelagatmu tandus Payah kau, si rakus Secuil sesal ini membius Sayangnya tak ada rumus Hanya bersisa putus Ah sudah pupus Tak mau lagi ku terjerumus Kamu tetap jadi kultus
0
May 22, 2019
May 22, 2019 at 4:41 AM UTC
Us
pasal V: tentang rasa sesal; dan sebuah penyesalan. -sebenarnya bukan salahku semua ini terjadi, hanya saja, memang benar aku juga ikut andil membiarkan semua ini terjadi. dan dikarenakan semuanya telah terjadi begitu saja, maka kini yang tersisa dan muncul ada lah rasa sesal. penyesalan. - faktanya, kau juga turut andil dalam permasalahan ini, apapun itu, yang jelas, semua yang terjadi diantara kita, kau juga bertanggung jawab. sebab ketika dahulu hal itu pernah terjadi, kau dan aku dulu, adalah kita. -dan tentu seperti tadi yang telah kukatakan, tidak hanya dirimu yang salah, nyatanya diriku juga turut ikut dalam masalah ini. walau tentu saja, tak bisa sepenuhnya kukatakan bahwa hanya satu orang yang bertanggung jawab di antara kita. sebab sekali lagi, kau dan aku, pernah terikat satu sama lain. - sebab penyesalan selalu diakhir, maka kau harus tau salahku, yang mana salahku adalah membiarkan semua itu terjadi begitu saja, sementara entah merasa sungkan ataupun malu, hanya kutatap semua itu terjadi, kau mundur perlahanlahan, sementaraku masih ingin menggenggammu. -dan kau juga hars tau kesalahanmu, walau dari sudut pandangku. adalah ketika aku masih ingin menggenggammu, kau justru merenggangkan genggamanku, melepasnya dengan lembut, kemudian pergi dengan perlahan. kau seolaholah melihatku sebagai bukan lagi prioritasmu, namun tetap saja, masih tak kuikhlaskan kepergianmu setelah semua ini. dan rasa sesal ku yang teramat sangat adalah, ketikaku pernah memilih berbahagia; denganmu. prdks.
0
Sep 26, 2017
Sep 26, 2017 at 11:58 AM UTC
sajaksajakrasa
pasal V: tentang rasa sesal; dan sebuah penyesalan. -sebenarnya bukan salahku semua ini terjadi, hanya saja, memang benar aku juga ikut andil membiarkan semua ini terjadi. dan dikarenakan semuanya telah terjadi begitu saja, maka kini yang tersisa dan muncul ada lah rasa sesal. penyesalan. - faktanya, kau juga turut andil dalam permasalahan ini, apapun itu, yang jelas, semua yang terjadi diantara kita, kau juga bertanggung jawab. sebab ketika dahulu hal itu pernah terjadi, kau dan aku dulu, adalah kita. -dan tentu seperti tadi yang telah kukatakan, tidak hanya dirimu yang salah, nyatanya diriku juga turut ikut dalam masalah ini. walau tentu saja, tak bisa sepenuhnya kukatakan bahwa hanya satu orang yang bertanggung jawab di antara kita. sebab sekali lagi, kau dan aku, pernah terikat satu sama lain. - sebab penyesalan selalu diakhir, maka kau harus tau salahku, yang mana salahku adalah membiarkan semua itu terjadi begitu saja, sementara entah merasa sungkan ataupun malu, hanya kutatap semua itu terjadi, kau mundur perlahanlahan, sementaraku masih ingin menggenggammu. -dan kau juga hars tau kesalahanmu, walau dari sudut pandangku. adalah ketika aku masih ingin menggenggammu, kau justru merenggangkan genggamanku, melepasnya dengan lembut, kemudian pergi dengan perlahan. kau seolaholah melihatku sebagai bukan lagi prioritasmu, namun tetap saja, masih tak kuikhlaskan kepergianmu setelah semua ini. dan rasa sesal ku yang teramat sangat adalah, ketikaku pernah memilih berbahagia; denganmu. prdks.
Continue reading...
7
Jiwa yang berlalu lalang Dibawah ratusan ataupun ribuan Payung hitam yang mengembang Berlindung dari jeritan nestapa . Hanya tersisa kantuk yang menguap Di sepanjang trotoar jalan ataupun dalam kemacetan dan asap rokok yang mengepul di pinggir halte bus yang ramai tak jelas . Sesekali, seseorang akan menoleh Dari jendela mobil dan berkata "Aku tak melihat apa-apa" Lalu tenggelam dalam sinisnya Diantara bising klakson mobil Ataupun kesibukan siluet kota . Layaknya seperti papan reklame Yang terpampang nyata Dengan warna monokrom "Selamat datang bagi pendatang baru, dan Selamat tinggal."
0
May 9, 2019
May 9, 2019 at 1:38 PM UTC
Sang Makhluk Sosial.
Burung malam yang mengaku pagi. Lampu dimatikan. Aku melihat Venus begitu terang, Mars di bawahnya redup. }}} Tiga anak Iblis terlelap. Tanaman-tanaman dibinasakan.‰ Tidak ada satu, se, ataupun tuhan. Hawa begitu kejam. Dingin*
0
Jun 27, 2020
Jun 27, 2020 at 5:46 PM UTC
OKLASASADU
Bosan dan jenuh Ada saat dimana aku merasa tidak ada seorang pun yang mengerti keadaanku. Ada saat dimana aku ingin hilang. Ada saat dimana aku tidak mengerti aku bernafas untuk apa. Ada saat dimana ketika aku mencapai titik dimana aku tidak memiliki hidup. Aku muak... Kadang aku muak terhadap sekelilingku, muak terhadap orang-orang terdekatku, dan bahkan aku muak terhadap diriku sendiri. Saat aku ataupun mereka tidak sesuai ekspektasiku. Ketika itu sudah mulai merasuk ke pikiran. Kembali, Aku tegaskan kepada pikiran, bahwa aku hidup untuk-NYA. Sering... Pikiran dan rasa muak memakan tujuanku, hingga aku tetap kembali terlunta-lunta dengan kebosanan dan kejenuhan berebut menarik kekanan-kiriku. Memakan rasa syukur dan kasih sayang yang mereka berikan kepadaku. Membuat butiran debu di setiap pikiran untuk tetap hidup. Aku harus bersyukur... HARUS.
0
Mar 21, 2020
Mar 21, 2020 at 11:29 PM UTC
Bosan dan Jenuh Bertemu Akrab
Di dunia ini tidak ada yang pasti Selain semua manusia kelak pasti mati Maka selagi waktu belum berhenti Lakukanlah segala sesuatu sepenuh hati Hidupku, hidupmu, semua punya jalur sendiri Kadang kita sendiri, kadang bersama kita berlari Semoga perjalanan kita semua indah berseri Semoga kita temukan apa yang hilang dari diri Sebab terkadang sadar ataupun tidak Hidup hanya soal mencari bahagia Sampai jumpa di persimpangan berikut, kawan. Jangan lupa bahagia.
0
Jul 23, 2021
Jul 23, 2021 at 8:17 AM UTC
End
Biar rintik tangis langit membawa ceritaku ke awan dan dijatuhkannya di depan matamu. Sampai basah tersimpan pada kelamnya aspal Gudang Utara malam ini. Sudah berendam pada firman-firman Bapa, untuk pudarkan namamu dari jiwaku. Pikiranku bulat, doaku tegak. Jadi, sampai disini saja pementasanmu, kamu bukan lagi lakon utama ataupun lakon pendukung ceritaku. Koper ini kutinggalkan, terlalu lelah pundakku menanggung beban pikiran atas kemungkinan yang fana. Biar bumi berkisah tentang kekosongan yang pernah tak kupahami. Memoriku telah lalu, kini terisi dengan yang baru.
0
Mar 6, 2020
Mar 6, 2020 at 10:46 AM UTC
Baggage.
seperti biasa.. suatu rutinitas yang kupikir tidak akan berubah hari kemarin, sekarang, ataupun esok aku melihat mu duduk di kursi yg sama di samping jendela yang sama lelah, tertidur lalu terbangun lalu bersandar dan menatap langit luar menantikan sebuah perhentian tapi hari ini kamu berbeda aku menangkapmu melirik padaku lalu membuangnya kearah yg lain tersipu malu.. dibalik rambutmu kamu menyembunyikan senyummu aku pun mulai menerka-nerka sesuatu yang kupikir tidak biasa bertanya dalam hati "kamu ini kenapa?" ya. kita memang selalu bersama namun tidak pernah bercengkrama "apakah ini saatnya kita untuk saling mencairkan suasana?"
0
Feb 28, 2020
Feb 28, 2020 at 6:24 PM UTC
Tanpa Judul