Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
Jujur saja, aku lelah dengan perasaanku sendiri— sampai kapan hati ini terus mengukir namamu? Bolehkah aku menghapusnya? Sebab sampai kapan pun, kau mungkin tak pernah bisa menjadi milikku. Jujur saja, aku masih menyimpan rapi kenangan itu— hari terakhir kita berjumpa, mengelilingi tiap sudut kota, sembari bertukar pikiran seolah waktu tak tergesa. Aku masih mengingat jelas tatap matamu saat aku menjelaskan sesuatu dengan suara yang nyaris goyah. Kuakui, kala itu aku cukup gugup berada di sisimu— terlebih dengan caramu menatapku. Namun seketika, hatiku tersentak. Aku tersadar oleh kenyataan bahwa kau belum benar-benar usai dengan masa lalu mu. Sejak saat itu, hatiku sekuat tenaga mengubur rasa ini— namun diam-diam ia selalu menemukan jalan untuk hidup kembali.
0
Feb 21
Feb 21, 2026 at 9:29 AM UTC
Masa Kini, Masa Lalu, dan Kita
Jujur saja, aku lelah dengan perasaanku sendiri— sampai kapan hati ini terus mengukir namamu? Bolehkah aku menghapusnya? Sebab sampai kapan pun, kau mungkin tak pernah bisa menjadi milikku. Jujur saja, aku masih menyimpan rapi kenangan itu— hari terakhir kita berjumpa, mengelilingi tiap sudut kota, sembari bertukar pikiran seolah waktu tak tergesa. Aku masih mengingat jelas tatap matamu saat aku menjelaskan sesuatu dengan suara yang nyaris goyah. Kuakui, kala itu aku cukup gugup berada di sisimu— terlebih dengan caramu menatapku. Namun seketika, hatiku tersentak. Aku tersadar oleh kenyataan bahwa kau belum benar-benar usai dengan masa lalu mu. Sejak saat itu, hatiku sekuat tenaga mengubur rasa ini— namun diam-diam ia selalu menemukan jalan untuk hidup kembali.
novitahutami
Written by
Feb 21
Feb 21, 2026 at 9:29 AM UTC
Request permission to use this poem