
Kecelakaan yang kubuat malam itu rupanya mengubah segalanya.
Ia menjelma menjadi sebuah tembok yang begitu tinggi di antara kita,
menjadikan jarak itu berubah menjadi “asing”.
Kemudian, canggung hadir tanpa pernah kita sangka sebelumnya.
Meski begitu, komunikasi kita tak pernah putus,
hanya saja berubah menjadi sedikit dingin, dibalut oleh segan.
Bisakah kita kembali ke sediakala?
Tidakkah kau merindu pelangi di antara kita?
Masihkah kau mengenang kemasyukan kita berdua, Tuan?
Mar 29
Mar 29, 2026 at 4:26 AM UTC
Ternyata aku belum sepenuhnya menanggalkan rasa sukaku padamu.
Namamu masih mengalir di nadiku, diam-diam menguasai jeda waktu yang seharusnya biasa saja.
Bahkan ketika aku hanya ingin mendengarkan musik,
yang hadir justru alunan gitar dan bass dari band favoritmu—seolah semesta sengaja memutar ulang jwjakmu di kepalaku.
Di pencarian Spotify-ku pun,
lagu-lagu yang dulu kau gunakan untuk mengode kembali bermunculan.
Jujur, aku tak pernah benar-benar tahu, untuk siapa sebenarnya pesan-pesan itu kau titipkan.
Yang ku tahu hanya—tidak ditujukan kepadaku.
Asal kau tahu, segala tentangmu mengalir begitu deras dalam tubuhku,
hingga bunga tidur tak absen mwnghadirkan bayang dan suaramu—yang telah lama tak benar-benar kudengar.
Sungguh,
sungguh kali ini aku merindu.
Maka, jika semesta berbaik hati,
bisakah kita berjumpa lagi—
dalam sebuah pertemuan yang tak pernah kita rencanakan?
Aku rindu.
Mar 28
Mar 28, 2026 at 5:32 AM UTC
Beberapa orang mampu memberiku tawa,
menarikku keluar dari gelap—meski hanya sejenak.
Namun, kau berbeda.
Kau selalu ingin melihatku tersenyum ceria,
dan selalu menawarkan telinga
agar aku bebas menumpahkan cerita.
Meski aku tahu,
di hatimu telah terukir sebuah nama—
yang bahkan tak sanggup kueja.
Mar 26
Mar 26, 2026 at 9:40 AM UTC
Hai, Tuan...
Lagi-lagi hatiku menyebut namamu.
Entah sudah berapa ribu kali
kepalaku dipenuhi oleh sosokmu.
Tuan, bagaimana kabarmu?
Apakah kau kini sudah lebih bahagia?
Ah, Tuan...
kadang aku mengasihanimu
atas cinta yang kau derita.
Namun lucunya,
aku pun tak kalah menyedihkan—
mencintai dalam diam,
secara sepihak,
dan tak pernah benar-benar tahu
bagaimana caranya berpaling.
Hatiku sudah terlalu muak
untuk mendengarkan segala hal tentangmu,
bahkan jemariku pun
kecewa menuliskan namamu.
Ah, aku pun heran...
mengapa seniat ini
aku terus menuliskan tentangmu, Tuan?
Ah...
sungguh wanita yang malang.
Kau pun juga, Tuan.
Mar 17
Mar 17, 2026 at 5:54 PM UTC
Hal yang paling kutakuti akhirnya terjadi—
menjadi asing denganmu,
sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku.
Kita hanya saling melempar pandang,
tanpa satu pun sapa
di sela pertemuan yang singkat itu.
Raut wajahmu seolah menyimpan pertanyaan
setiap kali menatapku,
namun tak pernah benar-benar kau utarakan.
Dan aku pun dibiarkan memungut
tanda tanya yang jatuh dari matamu.
Aku masih mengingat jelas
detail wajahmu
saat kau melempar senyum tipis padaku,
lalu sesekali mencuri pandang
ke arahku.
Sayangnya,
mengapa kita hanya saling menatap
tanpa satu kata pun terucap?
Dan lagi-lagi,
aku terbuai oleh Adam—
yang membuat hatiku kembali bimbang.
Mar 16
Mar 16, 2026 at 5:37 PM UTC
Entah dari mana datangnya risau.
Namun sesaat namamu melintas dalam benakku,
hatiku mendadak gelisah,
berdegup tak karuan.
Entah dari mana datangnya risau.
Kala kuingat bait-bait
yang pernah kurangkai menjadi sajak berima,
di tiap helai kata
sosokmu selalu menghantui.
Entah dari mana datangnya risau.
Namun ketika kubuka kembali halaman lama,
segala tentangmu
kembali memeluk jiwaku.
Hingga akhirnya kusadari,
yang paling kurisaukan hanya satu—
bahwa rasaku padamu
akan kau ketahui,
cepat atau lambat.
Dan itulah risau paling hebat
yang tak pernah ingin kutemui.
Mar 16
Mar 16, 2026 at 12:51 PM UTC
Entah mengapa,
kala separuh jiwaku berpulang,
hatiku menjadi gersang dan tandus.
Namamu terdengar samar
di kepala yang riuh oleh rindu.
Seketika jiwa ini terbuai angan—
ingin memilikimu,
hanya karena sepi yang tak tertanggung.
Ya, hanya karena separuh jiwaku menghilang,
aku berubah menjadi sosok yang impulsif—
gila akan cinta
dan ingin dicintai.
Dan yang kuinginkan hanya kau,
sebab bersamamu
aku merasa seakan berada
dalam dekapannya kembali.
Mar 14
Mar 14, 2026 at 2:11 AM UTC
Kau memberiku secercah harapan—
menanyakan hal-hal yang kusuka,
lalu perlahan
menerobos batas yang kubuat,
dengan menyodorkan dunia kecil
yang juga kau tahu kucintai.
Kita berbincang tentang hidup,
tentang hari-hari yang kita jalani,
seolah waktu berhenti sejenak
untuk menikmati hangatnya kebersamaan.
Namun setelahnya
kau tinggalkan serpihan patah
yang tak mampu kusambung kembali—
sebab dengan lancang
kau telah melangkahi batas
yang kusebut: teman.
Mar 12
Mar 12, 2026 at 1:20 AM UTC
Entah sudah hari keberapa
aku meragukan rasa yang tertuju padamu.
Ragu itu menghampiri malam-malam sunyiku,
ketika namamu kembali singgah di pikiranku—
apakah kau juga menyimpan
sepercik suka untukku?
Aku tak menanyakan cinta,
sebab aku tak benar-benar mengerti
seperti apa wujudnya.
Namun aku memahami satu hal:
rasa suka
yang membuat degup jantung
tak lagi berjalan tenang.
Entah mengapa, malam tadi
rasa itu terasa sukar dijelaskan.
Ia perlahan larut
dalam bayang sikapmu.
Meski begitu,
aku masih merindukan kita yang dulu—
ketika tawa hadir tanpa canggung,
dan gengsi belum sempat
menyelinap di antara kita.
Mar 12
Mar 12, 2026 at 12:47 AM UTC
Aku pernah memperdebatkan
perihal pulih bersama waktu
dengan seseorang
yang mungkin lukanya belum selesai.
Kau berkata—
ketika nama yang dulu
selalu kau eja di bibirmu
perlahan terasa asing,
saat detail wajahnya
mulai memudar dari ingatan,
bahkan suaranya tenggelam
bagai gema yang hilang dalam waktu,
dunia tetap tak benar-benar
membiarkanmu lepas darinya.
Namun bagiku,
meski waktu terus bergulir
mengitari dunia
yang tak pernah sepenuhnya
membebaskanku darinya,
waktu tetap mengajarkan
cara melepaskan
dan menerima.
Bukan berarti ia hilang
dari benakmu sepenuhnya—
sebab ia pernah bersemayam
dalam relung hati yang setia,
menjadi alasan jiwa ini
bertahan di riuhnya dunia.
Namun waktu perlahan
merangkul luka yang tertinggal,
menuntun hati dan akal
untuk memahami:
yang kita cintai
pada akhirnya akan pergi.
Sebab sejatinya
kita tak pernah benar-benar
menggenggam siapa pun—
karena segala yang dicinta
hatinya pun milikNya.
Biarkan mereka pergi
ke tempat-tempat
yang telah Ia takdirkan.
Mar 11
Mar 11, 2026 at 12:07 PM UTC