Hello PoetryVoting

Vote

Voting-Boards

Home

HomeFollowingInboxNotifications

Read

ReadLiftedFeedsHeartedHistoryMy poemsNew poem

Explore

ExploreOrbitsWordsTagsClassics
Log in
0
Stars
0
Embers
0
Alerts
0
Inbox

Vote

Voting-Boards

Home

HomeFollowingInboxNotifications

Read

ReadLiftedFeedsHeartedHistoryMy poemsNew poem

Explore

ExploreOrbitsWordsTagsClassics
Log in
0
Stars
0
Embers
0
Alerts
0
Inbox

Penyair Setelah Tahun '65

Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu.

Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa.

Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis.

Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi.

Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ?

 

Soalnya guys,

coli itu pun harus pake tangan kanan

selain soal tekanannya yang konstan ..

 

KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI,

Disangka PKI !

Ini perihal dosa Illahi saudara saudari!

 

—

 

Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota.

Mengelus ngelus perut kurusnya.

Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu.

 

Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah.

Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya.

Dan dia, umat yang lupa ia punya.

 

Pagi datang.

Ia terus berjalan tanpa alas kaki.

Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi.

Presiden mungkin ah?

Nomor satu, atau duah?

 

Dia tidak pernah berharap pada Tuhan.

Atau presiden.

Mungkin ia harus tetap berjalan saja.

Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil.

Entah kapan ia munculnya.

 

Apa ketika jari-jari kakinya lepas.

Hingga tidak bisa melangkah lagi.

Atau lelah menguasai tubuh.

Hingga enggan melangkah lagi.

Atau seluruh kakinya patah

Pun ia tidak peduli lagi?

 

Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya

Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan.

Atau ratu adil sedang sibuk

Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya?

Atau mungkin ratu adil berhati dingin.

Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting,

malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini.

 

Yah ..

 

Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan.

Presiden. Atau ratu adil.

 

Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?

Request permission to use this poem
Written by
Grabrielle
22 / F / Indonesia
Published
May 14, 2019
Lines·Words
45·279
Notes

Pertama kali saya bacakan di Paviliun Puisi, edisi Dys/Utopia pada 6 April 2019.

Tags
#distopia#pki#g30spi#komunis
Permission

Request to use this poem

Tell Grabrielle how you would like to use it. We review requests before forwarding them.

AboutBlogFAQPrivacyTermsContact
© 2009-2026 Hello Poetry/v27.0 by @eliotyork
Explore
Hello PoetryVoting
Write