Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
Hari demi hari berlalu, hingga Senin kembali menyapa. Mentari tetap bersinar, namun langit terasa sendu membiru. Bunga tidurku lenyap seketika tatkala dering telepon menghantam pagi. Pagi yang tak pernah ada dalam rencana hidupku. Entah apa yang menghantam dadaku, namun hatiku seketika pecah berkeping-keping. Aku bahkan tak tahu bagaimana harus menyulam kembali mozaik yang telah patah itu. “Mama udah ngga ada.” Sebuah kalimat singkat yang tak pernah ingin kudengar sepanjang hidupku. Dunia seketika berhenti berputar, menyisakan haru yang tak terkatakan. Isak dan pilu luruh tanpa jeda, meninggalkan luka yang tak tahu cara sembuhnya. Dan Minggu— adalah hari terakhirku melihatmu berjuang. Maafkan aku yang selalu memintamu untuk kuat. Bukan karena aku ingin kau bertahan dalam sakitmu, melainkan karena aku tak tahu bagaimana hidup tanpamu. Terima kasih untuk setiap tetes darah yang telah kau korbankan demi aku. Dengan segala luka yang tertinggal, aku tetap bangga terlahir dari rahim seorang perempuan setangguh dirimu. Ma, aku rindu. Sampai jumpa lagi. Kelak, ketika waktu mempertemukan kita kembali. Dan aku akan menunggu saat itu dengan setia.
0
Mar 8
Mar 8, 2026 at 8:31 AM UTC
Aku pun Turut Mati Pada 27 Oktober 2025
Hari demi hari berlalu, hingga Senin kembali menyapa. Mentari tetap bersinar, namun langit terasa sendu membiru. Bunga tidurku lenyap seketika tatkala dering telepon menghantam pagi. Pagi yang tak pernah ada dalam rencana hidupku. Entah apa yang menghantam dadaku, namun hatiku seketika pecah berkeping-keping. Aku bahkan tak tahu bagaimana harus menyulam kembali mozaik yang telah patah itu. “Mama udah ngga ada.” Sebuah kalimat singkat yang tak pernah ingin kudengar sepanjang hidupku. Dunia seketika berhenti berputar, menyisakan haru yang tak terkatakan. Isak dan pilu luruh tanpa jeda, meninggalkan luka yang tak tahu cara sembuhnya. Dan Minggu— adalah hari terakhirku melihatmu berjuang. Maafkan aku yang selalu memintamu untuk kuat. Bukan karena aku ingin kau bertahan dalam sakitmu, melainkan karena aku tak tahu bagaimana hidup tanpamu. Terima kasih untuk setiap tetes darah yang telah kau korbankan demi aku. Dengan segala luka yang tertinggal, aku tetap bangga terlahir dari rahim seorang perempuan setangguh dirimu. Ma, aku rindu. Sampai jumpa lagi. Kelak, ketika waktu mempertemukan kita kembali. Dan aku akan menunggu saat itu dengan setia.
berbahagialah di atas sana, karena kau pantas mendapatkannya. anggap saja kepulanganmu adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan untuk mu, Ma. Karena kau telah banyak memberi dengan segenap luka yang tak pernah sedikitpun mereda. . Berbahagialah, dan terus bahagia.
novitahutami
Written by
Mar 8
Mar 8, 2026 at 8:31 AM UTC
Request permission to use this poem