#poetryindonesia
Hari demi hari berlalu,
hingga Senin kembali menyapa.
Mentari tetap bersinar,
namun langit terasa sendu membiru.
Bunga tidurku lenyap seketika
tatkala dering telepon menghantam pagi.
Pagi yang tak pernah ada
dalam rencana hidupku.
Entah apa yang menghantam dadaku,
namun hatiku seketika pecah berkeping-keping.
Aku bahkan tak tahu
bagaimana harus menyulam kembali
mozaik yang telah patah itu.
“Mama udah ngga ada.”
Sebuah kalimat singkat
yang tak pernah ingin kudengar
sepanjang hidupku.
Dunia seketika berhenti berputar,
menyisakan haru yang tak terkatakan.
Isak dan pilu luruh tanpa jeda,
meninggalkan luka
yang tak tahu cara sembuhnya.
Dan Minggu—
adalah hari terakhirku
melihatmu berjuang.
Maafkan aku
yang selalu memintamu untuk kuat.
Bukan karena aku ingin
kau bertahan dalam sakitmu,
melainkan karena aku
tak tahu bagaimana hidup tanpamu.
Terima kasih
untuk setiap tetes darah
yang telah kau korbankan demi aku.
Dengan segala luka yang tertinggal,
aku tetap bangga
terlahir dari rahim
seorang perempuan setangguh dirimu.
Ma, aku rindu.
Sampai jumpa lagi.
Kelak, ketika waktu mempertemukan kita kembali.
Dan aku akan menunggu saat itu dengan setia.
Mar 8
Mar 8, 2026 at 8:31 AM UTC