"yakin" poems
Mujhe tumse pyar hai,
Ye dil tere liye hi beqarar hai,
Jab nind se band ** jati meri aankhen,
Es khubsurat sapno me bas tera hi intezar hai,
Tujhe dekhlu ek bar
yahi chahat hai meri,
Tujhse pyar karun ji'h bhar ke
yahi khawaish hai meri,
Mang lu tujhe main rab se
Kyoki tum to zindagi ** meri,
Kitna hasin banaya tujhe us rab ne,
** gya *** deewana tera
dekha tujhe maine jab se,
Chand sa pyara chehra tera,
Pariyon si teri muskan,
na jana mujhe chhodkar,
o hamsafar ban ke meri jaan,
Es suni si duniya ko meri hasin bna do,
Ban ke meri zindagi mujhe apna bna lo,
Kah do ekbar mujhe ki
"main tumse pyar karti ***
Har waqt teri yaadon me kho kar
"main tera hi intezar karti ***
Luta denge apni sari khusi tujhpar,
Main pyar karta *** tujhse yakin kar mujhpar,
Yakin kar mujhpar.....
Jun 15, 2015
Jun 15, 2015 at 11:55 AM UTC
Shaam ki sardi mein
Jab ghar se hum nikle,
Mast kuch bachchon ne yaad dilaya The hum bhi kitne befikre.
Beet gaya aane se pehle,
Waqt kisi ka na hua.
Bachpan le gaya sang apne,
Phir aaye mudke hai yehi dua.
Kashtiyan kagaz ki banake
Chalate the paani mein,
Yehi nahi baarishon mein ghoomne Nikalte the apni cycle pe.
Baarish ka anand nahi,
Toofanon se darte hain ab,
Woh din bhi kya din the
Jab apne se lagte the sab.
Kahaniyan sunke khud ko
Doobate us duniya mein,
Na jhooth, na dikhava,
Na dhokha tha usmein.
Dil mein thi ek bekarari hamesha, rehta tha khushi ka intezaar,
Ab hai yakin kismat pe apni,
Kabhi na lautenge ab woh din raat.
Jan 8, 2016
Jan 8, 2016 at 10:24 AM UTC
Palembang, Kamis 6 Januari 2011
Hari ini aku seneng banget
Aku sedang dekat dengan seseorang
Dan aku tak yakin menyebutnya cinta
Karena aku tuk saat ini tak percaya dengan cinta
Cinta memang indah sih
Tapi aku sedang tidak beruntung saat aku dengan mantan
Aku sekarang bisa merasakan dua belas rasa cinta
Sayang, kangen, senang, kecewa, cemas, marah, perih,
sedih, menyesal, bimbang, benci, dan lain-lain
Oleh karena iti aku tak sanggup bertemu cinta
Lebih baik tunggu saja hingga aku siap
Tapi bila aku mendapatkan satu kesempatan lagi
Aku berjanji tuk mengambilnya
Tak akan ku sia-siakan kesempatan itu
Sungguh aku berjanji
Aku tak sanggup untuk bercerita tentang nya
Karena ku takut rasa itu akan berubah
Dan yang ku rasa akan berbeda
Pasti itu akan menyakiti hatiku
Sangat
Dan yang manusia tahu
Mereka tidak mau tersakiti
Apalagi oleh cinta :)
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 2:06 AM UTC
dari awal memang aku hanya kertas kosong bagimu
tak bisa digambar, tak bisa ditulis
yang terlupakan, yang tertinggal
yang terbuang, tak berharga
meski ku coba tuk tulis sendiri
kau hapus begitu saja,
dan kau buang
nama ku tak pernah kau sebut
mungkin karena kau lupa
mungkin karena kau tak suka
aku Erikaa
kau bisa panggil ku apa saja
sesukamu
tapi jangan,
jangan kau tak menyapaku
ku baca statusmu
diam-diam,
dari akun temanku,
teman baikku
kau benar suka dia?
haha tentu saja!
kau kembali ke kampung halaman,
besoknya kau pergi lagi menjemputnya
oh betapa beruntungnya dia
dicintai malaikat sepertimu
jika kau menikah,
apa ada kau akan mengingatku?
mengingat kekonyolanku?
menertawai kebodohanku?
kini semuanya ku buang,
semua tentangmu
senyummu,
candamu,
tapi ku mohon,
izinkan aku menyimpan foto-foto mu
bukan foto dirimu,
tapi foto mu,
pohon, jalanan, Samudera Atlantik, yang kau foto
No!
Akan ku hapus semua!
Terima kasih tuk selama ini.
Kau tlah berikan 0.5% cinta mu padaku
Terima kasih telah 99.5% membenciku
sehingga aku sadar akan kedudukanku
Terima kasih sudah 100% mencintai dia
aku yakin kau takkan menyakitinya
""Selamat G----- F--------- F--------
Semoga kamu BAHAGIA""
Sep 24, 2012
Sep 24, 2012 at 11:35 AM UTC
Ek chand gumsum sa hai
Door desh rehta hai.
Jab b puch lo kyu udas hai
Koi baat nahi kehta hai
Kya kho gya hai uska jo door desh me dhoondta hai
Sans is zami me hai
To vha ku ghumta hai.
Muje fark yun padta hai
Ku Maine is chand ko haste hasate dekha hai.
Ladte jhagadte roothte manate dekha hai.
Us chand Ka taqiya b uski ankho ki nami mehsus karta hai.
Bhai jan to hai par aapi ammi ki kami mehsus karta hai.
Vo vha aasman ki talash me gya hai
Apne sapno k jahan ki talash me gya hai.
Ab use is shehar ki chamak b raas ni aati
Kabhi bethkar sochta hai k is shehar kash na aati.
Maa ki panv ki jameen ko jannat hai janta hai.
Jo samne se jhagdta tha phone pe ammi Ka Sab kha manta hai.
Us chand Ka dil b toota hai kisi se keh ni paya
Sab kuch saha Akele
Bas Roye bina reh na paya
Ab Dard kam hai Bas kasak baki hai
Khalish baqi hai jakhm pe thoda namak Baqi hai.
Or Hume intezar hai k vo chand Jane ab Kab hasega
Kab utha k tasveer zindagi ki usme rang bharega
Chudi bindi mehndi libaz Sab shaunk thode kam ** gye hai
Ye Sab dekh k hairan hum ** gye hai
** skta hai ye likha b use na pasand aye
** skta hai nazarandaz kare ya nazarband kar jaye
Hume yakin hai vo Khud k Masle hal kar legi
Sabr or dua dono mile h use aj ni to kal kar legi
Dhal jayega jald vo saya jo chand pe aj betha hai.
Ek chand gumsum sa hai
Door desh rehta hai.
Ek chand gumsum sa hai
Door desh rehta hai.
Oct 25, 2022
Oct 25, 2022 at 9:16 AM UTC
Palembang, 11 Januari 2014
Ini kisahku
Kisah mengharu biru
Tentang aku yang tak berkawan
Di pulau perantauan
Ini ceritaku
Cerita yang terekam waktu
Tentang seorang anak Hawa
Yang mati tapi bernyawa
Alarm berbunyi, memecah sunyi
Aku diam di sini, sendiri
Mencoba tuk menutup mata, tapi selalu terjaga
Menerawang masa depan, melukiskan kehidupan
Terdengar Ayam bernyanyi, berirama seni
Aku masih merenungi, siapa jati diri?
Mencoba tuk menutup mata lagi, meski ku pun tak yakin
Ku coba sekali lagi, berharap mulai bermimpi
Esok hari penting, tak ingin ku langkahi
Kemarin hari sendu, birkan berlalu
Sekarang hari biasa, cobalah terbiasa
Kenangan akan tercipta, berawal dari mimpi di kala senja
Jan 14, 2014
Jan 14, 2014 at 11:57 AM UTC
Yang mengutarakan salam pagi ini
Hanya sesayat keheningan
Dari reruntuhan nafas yang tiap isapnya
Riuh dirundung rindu
Perhatikan,
Ini salah satu pertanda
Soal dekadensi kidung
Yang biasanya, tanpa kita sadari
Teralun lemas tiap pagi
Lembut tanpa gemericik
Kidung itu bisa jadi sudah keterlaluan
Bisa jadi ia terlalu sadis pada sepi tiap subuh.
Senandung itu, memang benar,
Sebatas bisikan-bisikan lantang
Yang gemar memuja sepi dengan memporak-porandakannya,
Yang gemar menghantui sunyi agar terlelap sebelum terbit.
Mungkin,
kidung itu terlalu masokis
Bernyanyi sendiri tanpa ada yang
Peduli pada dendangnya yang kelewat mengusik
Dan kelewat menggoda, sehingga semua lebih memilih
Terlelap saja. Bukan berdansa.
Ini salah satu pertanda
Soal dekadensi kidung perih
Yang biasanya teralun malas tiap pagi
Menggerakkan setan-setan kecil
Untuk membutakan mata dan membuat tuli dalam sekejap.
Jangan berdansa.
Tak ada yang peduli, semua masih tertidur.
Dan itu bisa jadi salahmu sendiri.
Tapi tak apa, iblis masih menyayangimu
Dengan sangat manusiawi.
Lagipula, seperti pagi ini,
Kesunyian kembali bersila pada permadaninya
Ditemani kicauan mencibir burung rohani.
Selamat pagi,
Senyap.
Anda yakin tidak ingin bangun
Dan menanggapi kidung yang terus memanggil
Untuk berdansa setengah jiwa?
Subuh hanya datang seterbit sekali.
Tuhan hanya merindu lima kali sehari.
Feb 16, 2016
Feb 16, 2016 at 11:02 AM UTC
Kis pe kru bharosa ,
Na khud pe yakeen hai .
Manjil na mil paya ,
Or raahi bichar gaye
Is dagar pe chal ke ,
Aayi thi itne dur
Badi muskkat se
Par ki thi ye dastur
Har kar ruk gayi ,
Us manjil par,
Jhaha kabhi ham roj chala krate the ,
Aaj ye jindgi wahi ruki
Jisse ham dur rha krte the ....
Jiss pe karu brosa na khud pe yakin hai....
Rohini
Jun 10, 2015
Jun 10, 2015 at 4:00 AM UTC
Kenapa sulit bagi ku
Menulis puisi dengan namamu?
Tersesat selalu aku di sini
Menulis namamu tertulis yang lain
Ingin ku bakar diri ini
Tak bisa dicintai oleh mu
Ku yakin kau tak di sini
Membawa cinta yang ku harapkan
Karena ku tahu ku tak indah
Dari Dewi lain yang pernah kau kenal
Tapi, semua tak punya hati
Meninggalkanmu dan tak setia
Ku berjanji kan setia
Tapi, kau tak mau juga tak apa
Namun, izinkan aku sekali saja
Ucapkan cinta pertama tuk selamanya
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:46 AM UTC
Zindagi me kai ese moke aaenge jab tum apne apko 1 ajib kashmo kash me paoge,
Kai viparit paristhityo ka dar tumhe sataega,
Kya galat hai kya sahi tumhe kuch smjh nahi aaega,
Ye kuch uljhne hai jo har kisi ki Zindagi me alg alg samay pr aati hai
Jo ki us waqt pr bhut soch smjhkr kuch faislo se suljhai jati hai
Par kya wo faisle lena itna aasan hota hai?
Kyu ki wo 1 faisla shyd puri zindagi ko bdl skta hai
Har faisle me Kuch panne ki tammana, to kuch khone ka dar to hoga
Par un sab raaho me se kisi 1 ko tumhe chunna hoga,
Us raah ko chunne ke liye tum Hazaro logo se ray mashwara karte **
Kai baar apne dil ki chod, gairo ki baat par bh yakin karte **
Par smjho is baat ko, ki Hazaro se sunkr bhi tumhara dil kis chiz ko chahta hai
Dhundho, Kya hai wo esa jisko tumhara man puri mehnat, lagan aur jazbato k sath karna chahta hai.
Kyu ki Sahi to sab kuch hai is duniya me
Par tumhare liye kya sahi hai ye tumhi jaan skte **
Apne andar ki kabiliyat ko pehchankar, Mehnat kar
apne sapno ko haqueeqat bana skte ** !!
Dec 27, 2017
Dec 27, 2017 at 6:48 AM UTC
kursi di bawah pohon kenari
masih dengan setia duduk disana
tidak peduli siapa yang mendudukinya
atau siapa yang lewat di depannya
ia tetap setia menunggu kedatangannya
burung-burung dengan bebas menyuarakan
nada-nada indah berisi pesan
untuk diberikan kepadamu,
tuan tanpa nama
jangan berpura-pura tidak peduli kepada dunia
di lubuk hatimu yang terdalam, sial,
aku sangat yakin kau kesepian
kau membutuhkan seorang teman yang rela
mendengar ocehan mautmu sampai matahari
tenggelam di ufuk barat nantinya
kemarilah, tuan tanpa nama
duduk bersamaku di bawah pohon kenari
dan menikmati indahnya matahari senja
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 7:14 PM UTC
Ulang tahun singkat ku
Ingin ku rayakan di Surga-Mu
Yang indah penuh warna pelangi
Yang panjang, ku harap bagai usia ku
Ku yakin kamu tak kan tau
Hari ulang tahun ku
Namun, melihat senyummu dari jauh
Adalah hadiah terindah di Hari Ulang Tahun ku
Kue tinggi tidak ada
Lilin pun tak menyala
Hanya ku tusuk di atas tanah
Ku ucapkan harap ku selamanya
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:58 PM UTC
voice over: Atlas
Ketika langit mengubah rupanya menjadi senja sewarna matahari tenggelam, kuajak Venus duduk di kafe tak jauh dari stasiun. Perjalanan hari ini cukup lelah, meskipun pengamatan kami berjalan lancar. Tapi, aku selalu berharap anggota kelompok kami lainnya lebih sering ikut bergerak agar kami tidak selalu pergi berdua. Museum yang kami kunjungi kali ini adalah museum seni, yang kuduga salah satu hal yang amat Venus hargai. Ia penikmat karya seni. Matanya terus memandang takjub karya-karya yang kebanyakan orang tak pahimi apa maknanya, namun Venus menatapnya seolah barang yang dilihatnya ialah nyata. Kau tahu, memandangi seorang perempuan berambut gelombang sepunggung, yang bertinggi badan hanya sehidungmu, rahang tegas, alis yang tebal, memandangi karya-karya seni di hadapannya dengan tatapan antusiasmenya; bukankah ia definisi seni yang sesungguhnya? Yang paling nyata di depan mataku?
Dan, kemudian ia menoleh, tersenyum saat sadar aku memandanginya dari belakang. Ia mengatakan sesuatu, "Atlas, lihat sini! Lukisan yang satu ini benar-benar indah."
Dan, setelah 3 bulan meragukannya, sekarang aku yakin; aku menyukainya, sangat menyukainya, saat kurasakan Venus adalah seni yang lebih indah, terindah.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:51 AM UTC
berdiri aku di tengah sibuk pasar
kelihatan ragam manusia
-bermacam
ada yang berpaut
berpegangan tangan
aku tahu rasanya
indah dan sentiasa selamat
di kedai kecil sana ada anak menangis
meminta untuk dibelikan
--umpama masalah dunia, paling besar
tersenyum aku
hai anak, andai kau tahu apa itu resah remaja
dan getir si tua
pandangan aku terkunci pada yang keliru
ditangan nya penuh dengan pilihan
dan aku kenal rasa itu
dimana cuma mahu yang sempurna
sekali lagi aku tersenyum
--mana mungkin ada yang cukup
keluh aku pada dunia
pentas paling besar
dan ramainya pemain pentas ini
ada yang yakin dengan watak nya
yang biasa sahaja juga ada
aku?
aku cuma memerhati
dan syukur
kerana masih punya nikmat untuk rasa riuh pasar
-f 611am 3rd oct
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:21 PM UTC
Jakarta, Minggu 5 Maret 2009
Pikiranku sakit
Aku tak tahu harus berbuat apa
Ingin ku kirim selembar surat untuknya
Tapi aku tak mampu, aku tak bisa
Karena aku hanya sendiri
Tak ada satupun yang membantu
Aku bingung, aku sedih
Aku menangis di sini... sendiri
Ku hanya menunggu datangnya keajaiban
Apakah itu akan terjadi?
Aku pun tak yakin
Tanpa usaha dan pengorbanan
Keajaiban takkan pernah datang
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:49 AM UTC
Malam itu hujan,
Entah Tuhan ingin membuatku semakin sedih karena suasana yang mendukung,
Atau Tuhan tidak ingin semua mengetahui kalau aku menangis.
Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu membuat aku bertanya,
Apakah kamu benar-benar orang yang pernah aku sayang dahulu?
Apakah kamu benar-benar orang yang selama ini aku perjuangkan?
Karena malam itu ketika hujan,
Aku seperti tidak mengenal dirimu.
Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu tidak lebih hanya membuat aku merasa sakit,
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita baik-baik saja?
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita tidak bertemu kata perpisahan?
Tapi tidak dengan malam itu ketika hujan,
Kamu bersikap seperti orang asing yang tidak aku kenal,
Kamu mendorongku untuk pergi dari kehidupanmu,
Kamu itu siapa?
Aku yakinkan diriku sekali lagi,
Apa kamu benar-benar orang yang selama ini aku sayang?
Malam itu hujan,
Aku tidak bisa berkutik kecuali meneteskan air mata,
Semudah itu untukmu?
Ketika selama ini aku bertahan dengan alasan yang mengharuskan diriku untuk pergi,
Semudah itu untukmu?
Ketika aku harus menahan rindu setiap malam,
Bertanya-tanya apakah dirimu baik saja di sana,
Semudah itu untukmu?
Tapi aku tidak menyalahkan malam itu ketika hujan,
Kepergianmu malam itu membuat aku sadar,
Kenapa aku terlalu takut untuk pergi sebelumnya,
Sedangkan kamu bisa melakukan dengan semudah itu?
Pergilah, aku merelakanmu.
Pergilah, bawa hujan di malam itu sebagai simbol akhir dari segalanya,
Pergilah, jangan pernah kau menoleh ke belakang untuk melihatku,
Aku yakin akan baik-baik saja,
Walau kini aku masih menangis bersama hujan.
Jul 17, 2017
Jul 17, 2017 at 4:38 PM UTC
Palembang, Jumat 13 Januari 2012
Aku Menangis
Terkadang aku ingin menangis
Aku tak tahu mengapa
Mungkin karena aku sedang merindukan seseorang
Ataukah aku menangis karena bahagia?
Ataukah aku menangisi hidupku saja?
Yang sangat rumit dan penuh derita?
Ataukah aku sedang merindukan keluargaku di rumah?
Aku tidak tahu
Aku yakin inilah jalanku
Aku harus tegar
Dan menunggu keajaiban datang
May 25, 2012
May 25, 2012 at 2:04 AM UTC
Jumat, 1 Oktober 2010
Aku punya banyak teman dekat
Mereka semua baik pada ku
Tapi ada saat aku bingung
Bingung akan saran yang mereka beri
Yang ini bilang ACD
Yang satu kembali ke ABC
Yang itu bilang jangan
Ada lagi yang bilang coba dulu
Semua membuat ku bingung
Aku berkata, dibilang salah
Aku diam saja, dibilang tambah salah
Ku ambil keputusan sendiri
Tapi aku tak yakin
Oh... Hidup memang sulit
Penuh pilihan dan tantangan
Created by. Aridea .P
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:48 PM UTC
terbalas pertemuan singkat tadi siang
dengan sedikit berdebah dengan ego
malu menukik dan gemetar beramai gaduh
sulit juga, berjuang dengan lara yang
kian runyam
kian dalam
kian menepis dalam malam
aku yakin dia bertanya
"kenapa dia?"
haha.. apa aku harus jawab aku rindu
aku rindu seperti dulu
bukan apa-apa
tidak ada lugas kata atau tindakannya
hanya saja aku sudah terlajur menyukainya
menyukai derap langkahnya
lemah gemulai tubuhnya beradu dengan udara sekitar
aku juga suka saat matanya bertemu dengan mataku
sisi lainnya muncul
lebih hangat dari yang kubayangkan
bolehkah juga aku berseru ?
aku menyukaimu ! sangat..
lungai sudah jika itu terucap
pasrah..
tapi tenang, aku masi pandai menyimpan
masih pandai menukik ego
tapi tetap
aku rindu,.,.,.,.
-rindu,mengenang-
May 22, 2018
May 22, 2018 at 12:18 PM UTC
Air mata ini tidak bisa jatuh
Tidak ada yang menampung
Atau mengusapnya
Seperti berada di antah berantah
Berjalan dalam kekosongan
Pergi mencari tongkat
atau cahaya
Tetapi yang ditemui
Hanyalah duri dan kapak
Sang dewi terdiam
Kehilangan matahari dan sinarnya
Terbisu dalam kegelapan
Tidak yakin akan bersuara
Saat bertemu cahaya
Suatu saat nanti
Mar 18, 2014
Mar 18, 2014 at 5:34 AM UTC
Aku Tertidur.
Sudah lama tertidur.
Hampir saja kau bangunkanku
atau mungkin sudah kau bangunkan...
Entahlah, aku tidak yakin
Kamu yang tidak jelas.
Membangunkanku, lalu pergi;
membuka mataku, lalu pergi;
mengusir alam bawah sadarku, lalu pergi;
membangunkanku, lalu pergi.
Tak sudi aku bangun tanpa teman
Tak sudi aku bangun dengan haus begini
Makanya,
Aku kembali tidur.
Biar kuberi tahu,
aku tertidur - kembali.
Sudah lama tertidur.
Dan kali ini, sakit tidurku...
Sep 3, 2014
Sep 3, 2014 at 10:40 AM UTC
Gelapku membisiki
Ada iblis
Dalam dirimu
Dan ia tidak bisa mati
Kau diikuti
Dari pekatnya malam
Di sela-sela lampu jalan
Kau lalu dirasuki
Kenapa iblis, bukan setan,
Tanyamu
Gelapku membisiki,
Karena ia kini kaujadikan raja
Kau tak yakin pada gelapku
Pada yang akan kau lakukan:
Akan mati, atau terus hidup
Kau tak merasa disusupi
Ada iblis dalam dirimu
Dan ia kekal rupanya
Sekarang yang mencintaiku
Kau atau iblismu?
Siapa nama Sang Iblis?
Tanyamu pada sayup gelap
Gelapku membisiki:
Namanya Harap, ia mengindahkan borok
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 3:40 AM UTC
Ketika ku menumpahkan isi raga,
ku tak yakin ku membasahi manusia.
Setiap suara yang ku simak bukanlah mulut berbicara
melainkan insan memuntahkan sastra.
Dec 30, 2017
Dec 30, 2017 at 9:31 AM UTC
Ahh, judul...
Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan
Begitu merangah, berusaha mencolok
Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar
Aku tahu dia menginginkan sesuatu
Kuasa!
Aha, itu sudah pasti kuasa
Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas
Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya
Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya
Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar
Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka
Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu
Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya
Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri
Padahal judul hanya tak sadar
Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri
Ia lahir karena keresahan kata
Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan
Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan
Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah
Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka
Karena ketakutan kata-lah
Judul hadir sebagai jawaban
Agar kata dilirik pembaca
Agar kata digunakan dalam ruang diskusi
Agar kata hidup dalam kepala
Mengakar kokoh dan menjadi abadi
Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini
Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri
Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan
Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan
Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan
Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan
Lihatlah ibu yang telah melahirkan
Yang terpinggirkan mengandung harapan
Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam
Anak baik jadilah baik
Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta
Bangkitlah!
Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata
Mendengarlah!
Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
Feb 27, 2021
Feb 27, 2021 at 11:55 AM UTC