Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"wujudnya" poems
Upaya faal semesta Beginilah adanya Insan di dalamnya Begitulah hadirnya Katamu semesta tiada pernah salah Dan aku percaya padamu, pada semesta Bahkan ketika waktu terus pergi Dunia lantas berevolusi Kalakian musim bersilih Keyakinanku padamu tak lantas lenyap Lain halnya dengan waktu, dunia, musim, dan cinta Katakan Kau dan aku, apa kita pernah mengkhianati buana? Sehingga menjadi kami adalah kesulitan berarti Arkian, cinta ubah wujudnya jadi bersyarat Insan, iman, susila, keharusan Sedang cinta terlampau luas layak angkasa Semesta tak salah, aku percaya Begitu juga cinta
0
Nov 10, 2018
Nov 10, 2018 at 8:26 AM UTC
Saya Asing Bagimu.
Hiruk-pikuk menjual dirinya Pada hening yang mengekang Ia mulai merindukan Wujudnya Diam-diam, Diintipnya cermin Yang tergeletak di ujung Taman bunga Sudah sebagian layu, Tua, takhayul, dan Ngeri, Tapi di sanalah satu-satunya tempat Di mana perwujudan Berani menampakkan diri sejujur-jujurnya Maka dipanjatkannya Beribu pekikan isyarat namanya: Hiruk-pikuk Ramai Gegap-gempita Gelegar. Dan diintipnya cermin itu Dilihatnya wujudnya: Masih tiada. Ia telah dihilangkan. Hanya ada bising Yang terus bergulir. Kau tahu dirimu Adalah keberisikan, Siapa suruh menjual diri pada hening?
0
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:22 AM UTC
Kesalahanmu: Berserah Diri
Tuan, sore ini akasa terlihat kelabu. Semilir anila terasa membeku. Aku berada di antara dua perasaan; sukacita dan dukacita. Sukacita? Ya, karena sebentar lagi graksa datang dengan gagahnya; mengejutkan semua makhluk di bumi. Seperti kedatanganmu. Lalu, dukacita? Ya, graksa yang gagah itu bisa hilang wujudnya dalam sekejap. Kemudian membawa hujan yang meninggalkan wresthi di permukaan bumi. Seperti kepergianmu.
0
Dec 6, 2018
Dec 6, 2018 at 2:52 PM UTC
graksa
Terlalu banyak yang ingin tumpah kucoba baris tapi tetap saja membuncah berusaha aku memendam tapi ada legam yang tak mau redam entah wujudnya apa tak ada sengaja kuminta adanya kuingin dingin tapi yang kubuat malah api tetiba lupa pada semua hangat jemari sampai angin malam menumpuk rindumu lagi dan mendera napasku lagi pantaslah kau marah, mungkin saatnya ini aku bebenah mencari maaf sebelum senja memerah
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:36 AM UTC
Marah