Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"tiang" poems
*Hujan hari ini begitu deras Dan selepasnya tak kulihat pelangi Tak seperti dongeng-dongeng malam Atau ayat-ayat motivasi penguat hati* *Hujan hujan sebelumnya juga begitu Ku lihat ikan-ikan kesakitan terkena derai siram hujan Lelaki tua peminta kedinginan kebasahan Listrik menyambar, tiang jatuh, seorang anak tertimpa* Buruk, buruk, buruk "Hei ayo bermain!" *Lamunanku terjerat Segerombolan bocah kecil menari dibawah derasnya hujan Bernyanyi gembira nyengir tak terkira Aku menjeling, aku mempelajari, aku mulai tersenyum Agaknya aku yang lupa Tak kupandang rumput kehausan bersorak menanti tibanya air minum mereka Sisi pandangkulah salah Aku menyalahkan pelangi Tak kulihat bahwa petani begitu bahagia dan menanti Ini semua bukan tentang pelangi warna warni itu Pelangi yang sesungguhnya ada disekelilingmu Jangan merana Jangan sepertiku Yang kulihat hanya aku dan segala kesepian ini*
0
Oct 15, 2016
Oct 15, 2016 at 8:52 AM UTC
Pelangi Ucapan Syukur
*Ini aku, gambaran hatiku Kusertakan padamu, kusisipkan untukmu* Sejenak aku rebah, luka tanpa daya Aku didera puluhan cabikan Aku kalah dalam perang Perang melawan hatiku Gersang namun hujan Tandus namun ranum Itulah hatiku Malam demi malam kulalui Dengan mata terjaga Hari demi hari kulewati Ditemani gundah gulana *Aku yang hanya menunggu, bagaikan menantang murka laut* Tiang layarku patah dihantam ombak Kain layarku robek diterjang badai Aku terombang-ambing antara suka dan duka Ombak bergulung-gulung menanti di depanku Aku menoleh ke belakang, Menimang untuk merubah haluan Kutak rela
0
Aug 29, 2017
Aug 29, 2017 at 1:47 PM UTC
Gambaran Hatiku
Saya menjual Anak-anak yang kesulitan tidur Di tengah gelap malam Sendirian. Jika berminat, Harap hubungi kesedihan yang tertera Pada selebaran di ujung tiang gantungan. Terimaksiat.
0
Feb 16, 2016
Feb 16, 2016 at 11:02 AM UTC
Berdagang Hidup
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 10:03 AM UTC
Gedung
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Continue reading...
11
satu tangan menutup mata satu tangan menutup telinga belikatku bertahan kaku tiap pijakan pelan, terseok belum leluasa ku berlari terpaan gelombang yang sudah-sudah masih meninggalkan goresan dalam daging dibantu merangkak, tapi dipaksa berlari caramu mengenyahkan biru yang masih menyelubungiku takut pada lidah sangkalan beradu bukankah lancang mencipta imaji semu lalu menggantungnya pada tiang-tiang garam berharap keras, tak begitu meleset pada manusia sadar, tak se-Esa namun jika Bapa memberi siapa yang bisa menutupnya? target apa, begitu mendesakkah? soal pembendaharaan rasa apalagi rancangan telah kuserahkan padaNya aku dungu & tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat Bapa. Tetapi aku tetap didekat Bapa; Ia memegang tangan kananku.
0
Mar 14, 2020
Mar 14, 2020 at 7:48 AM UTC
Seperti Hewan
Spasi Kamu tak elok lagi Berganti walau bagaimana pun Malam tetap Pagi, Hidup atau Mati Sambil mengangkat gelas tinggi-tinggi Dan bersulang demi hidup abadi Tapi kamu tidak mati bunuh diri Malah asik bermobil ke tiang lengkung Melambai pada kami dibalik selubung Kamu bersembunyi dibalik pohon-pohon Menguntit yang kabur dari hukuman Meloloskan yang bertahan Sambil bersin-bersin tak keruan Berkelakar getir, Tetap bebal menolak satir Aku dan kamu beralonim Sedang kamu berseloroh dengan Elohim
0
Jul 17, 2018
Jul 17, 2018 at 8:30 PM UTC
Kepada Kamu
Alangkah indahnya cuaca hari ini Keriuhan hampir memadati isi angkutan kota Burung-burung menari di angkasa Kupu-kupu ikut serta di sana Di pertigaan jalan ada polisi Tiang listrik penuh pamflet bertulisan jasa skripsi Pikiranku terus mengembara Jauh tak tahu ke mana Kata ibu bersabarlah, hari esok akan segera tiba
0
Apr 25, 2021
Apr 25, 2021 at 1:04 PM UTC
Teruslah Mengembara