"tersesat" poems
Semusim ini ku jalani dengan bebas
Hingga suatu hari di musim berikutnya aku tersesat
Menanggung sakitnya duri kehidupan akibat perbuatanku sendiri
Di saat begitu siapa yang ada bersamaku di jalanan sepi?
Kalian bisa lihat sendiri betapa kehilangannya diriku
Kehilangan akal sehatku
Kalian tidak mengerti, kalian tidak mau mengerti
Aku memang terlalu rumit
Musim ini aku ditemani sepi
Melanglang buana sendiri
Mencoba tuk temukan ketenangan yang pernah aku miliki
Aku duduk lama di tepi sungai dan menatap ke air seraya lirih
Menggoyangkan kaki-kakiku yg beralas sepatu usang
Merasakan angin sore menusuk hingga ke telapak kaki
Aku menunggu mentari jatuh di ufuk barat
Kemudian pulang berjalan kaki berharap pamrih
Hari ini aku masih sendiri
Musim masih lama berakhir
Nov 20, 2013
Nov 20, 2013 at 8:12 AM UTC
Kenapa sulit bagi ku
Menulis puisi dengan namamu?
Tersesat selalu aku di sini
Menulis namamu tertulis yang lain
Ingin ku bakar diri ini
Tak bisa dicintai oleh mu
Ku yakin kau tak di sini
Membawa cinta yang ku harapkan
Karena ku tahu ku tak indah
Dari Dewi lain yang pernah kau kenal
Tapi, semua tak punya hati
Meninggalkanmu dan tak setia
Ku berjanji kan setia
Tapi, kau tak mau juga tak apa
Namun, izinkan aku sekali saja
Ucapkan cinta pertama tuk selamanya
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:46 AM UTC
Ku duduk di sini
Kaki ku membeku karena dingin
Mata ku kantuk karena larut
Malam ku gelap tanpa sinar bulan
Telinga ku sepi, tiada yang terdengar
Bibir ku rapat, tak ada yang terucap
Badan ku lelah serasa ingin roboh
Ingin ku pejamkan mata tuk sementara
Namun terlelap dalam mimpi
Takkan tersesat walau sendiri
Harap ku akan bermimpi lagi
Mimpi yang paling indah dari kemrin
Agar temani di malam sunyi ini
Hingga aku membuka mata esok hari
by.
Aridea Purple
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:35 PM UTC
Inderalaya, 27 Agustus 2014
Aku putus asa di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan
Di saat aku sedang sibuk menyemangati orang lain untuk bertahan
Tepat di saat aku berceramah agar mereka terselamatkan
Aku membela orang lain padahal aku sendiri seorang tahanan
Aku sendiri tak mampu untuk mengembalikan kehidupan, hanya berangan
Melewati waktu tanpa batas yang membuat aku tersesat di jalan
Dengan berani ku telusuri labirin tak berujung di hari tak berawan
Aku mampu menjadi lentera orang lain, di jalan gelap di ujung perapian
Namun aku tetaplah lilin yang tak berapi, angin meniup api dan angan
Aku masih tetap menjadi tahanan yang ingin terbakar di ujung perapian
Aug 26, 2014
Aug 26, 2014 at 10:29 PM UTC
Palembang, 26 Juni 2012
Kini waktu telah berhenti
Juga denyut nadiku
Juga detak jantungku
Sekarang hanya tinggal aku
Dengan penyesalanku
Juga kesalahanku
Hari ini aku hanya di dalam
Dalam tempurung
Di belakang batu, terkurung
Apa yang ku tuju
Tak pernah sampai
Tak pernah bergerak
Hanya berlalu
Tinggal bekas kesia-siaan
Aku di sini lagi, tersesat
Tak mampu kembali
Jul 6, 2012
Jul 6, 2012 at 9:02 PM UTC
Halo Tuan,
Masih ingatkah waktu kita tersesat?
Dilabirin Waktu bersama
Kau seolah paham dengan alurnya
Menuntunku
Aku tersenyum dari belakang
Mengikuti tapak kakimu
Ditengah jalan, kau berhenti
“Aku sadar” katamu.
Mari kita berpisah
Dan jika memang benar alurnya,
Kita akan bertemu di ujung labirin ini
Aku berhenti dan menabrak punggungmu
“Mengapa?”
“Apa?”
Aku masih tidak bisa berpikir jernih
Hanya kalimat tanya yang ku pikirkan
Kau tau aku tak paham dengan labirin ini kan?
Dan kau suruh aku berjalan sendirian,
Dengan hadiah “jika benar kita akan bertemu di ujung labirin”
Tidak
Tuan, lebih baik kita tak bersama dari awal
Akan sangat mudah bagiku untuk memahami alur ini jika aku sendiri saja
Terimakasih untuk setengah perjalanan ini
Dan untuk ujung labirin,
Ku harap aku menemukan ujung labirin lain,
Dan kau pasti tau alasannya.
Feb 14, 2019
Feb 14, 2019 at 10:53 AM UTC
Ibarat bintang, mungkin kau adalah polaris bagiku.
Sang petunjuk arah, kala aku sedang tersesat.
Sebagai pelipur lara akan harapan dan impian yang telah tergerus keadaan.
Bagiku, polaris juga sebuah tuntutan untuk mencapai impian dan harapan yang masih tersisa.
Namun, polaris tidak selamanya akan jadi bintang utara.
Akan ada masanya, kau digantikan oleh bintang bintang yang lain.
Aku terlalu terhanyut dalam pesona mu.
Hingga aku lupa, tidak akan ada yang abadi.
Bahkan polaris sekalipun.
Nov 20, 2018
Nov 20, 2018 at 3:36 AM UTC
buat apa bermimpi
pada akhirnya terperosok jauh
buat apa mengkhayal
pada akhirnya tersesat dalam ilusi
mungkin itu cara Tuhan
untuk mengajarkan kita
cara untuk berusaha
atau mungkin itu cara Tuhan
untuk menjauhkan kita
dari kesenangan yang fana
dan keterpurukan yang nyata
terima kasih Tuhan
tapi aku sudah larut dalam keterpurukan itu, Tuhan.
Feb 7, 2018
Feb 7, 2018 at 11:48 PM UTC
Aku melihatmu jatuh ratusan kali
Melihatmu bangkit ribuan kali
untuk wanita yang menikmati kegelisahanmu
Tetap saja kau mengejar apa yang tidak menunggumu
Aug 7, 2017
Aug 7, 2017 at 9:59 AM UTC
Rinduku pemalu
tidak melulu sampai kepadamu,
kadang tersesat dalam diam
termenung, terhuyung, melamun
atau yang terparah
sudah sampai di depan pintu hatimu,
tapi Rindu lupa cara mengetuk pintu.
Apr 28, 2023
Apr 28, 2023 at 2:20 AM UTC
Semalam aku terjun dari ketinggian 13.000 kaki dari permukaan laut
Menembus awan dan menantang angin
Lalu aku terjatuh ke dalam samudera, jatuh sangat keras
Aku menangis, tapi mati rasa
Pagi ini aku menyelami segitiga bermuda
Tak tahu arah
Tersesat
Aku menangis, tapi tak bersuara
Apr 24, 2018
Apr 24, 2018 at 2:26 AM UTC
dan kau masih saja sama,
masih seperti planet pluto,
yang selalu berlari kesana-kemari,
tanpa arah dan tujuan,
buruknya lagi tak tahu arah pulang.
Nov 16, 2018
Nov 16, 2018 at 12:15 AM UTC
Kau puisi indah pengisi kekosongan jiwa
Tapi kau pinta menukarnya dengan luka yang mendarah deras
Luka untuk benakku yang layu
Dapatkah kau rasakan perihnya? Hingga kau buat tangisku terkuras
Kau sentuh hati ini dengan kebohongan
Aku tersesat dalam jerat samudara kepicikan nuranimu
Kau ciptakan murka nan segunung lara di pijakan rapuhku
Apr 4, 2025
Apr 4, 2025 at 12:02 AM UTC
Sejenak kita tunda laju lalu-lalang kendaraan yang kebingungan di kota kecil yang mulai penuh sesak.
Menghentikan bising suara mesin di kepala.
Memejamkan mata dari keriuhan yang rumit dalam saku.
Menggantung gaun-gaun yang telah lama tak kita baringkan.
Barangkali kita terlalu sibuk melupakan.
Terlalu berusaha menjauh dari diri sendiri.
Mungkin kita ini tak pernah tersesat pada dunia yang menyesatkan siapa saja.
Tersedak tawa oleh lelucon yang mencekik mimpi-mimpi.
Kita terus berlari tanpa tahu arah, kebingungan dan gelisah.
Seperti kereta kuda di taman bermain yang sepi pengunjung.
Kita terus saja berbicara tanpa pernah merasa.
Seperti suara klakson yang meraung-raung di kota yang semakin sibuk.
Kita terlalu berapi-api memperdebatkan apa saja.
Terus berteriak dan terbakar.
Terlalu sering menertawai, tanpa tahu lelucon sesungguhnya.
Tanpa tahu upacara kematian telah dipersiapkan di akhir tawa.
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:21 AM UTC
Sudah lama, entah akankah menjelma?
Teman kecilku berhamburan
Rangkaian aksara yang ku susun buyar perlahan
Meninggalkan lembaran putih nan bersih
Sungguh malang teman kecilku
Tersesat dalam ketidakwarasan waktu
Ruang tempatmu bercerita kini sunyi
Maka, menangislah segera, agar dapat ku menjumpaimu, agar kembali bergema riuh ruang sunyi itu.
Mar 11, 2025
Mar 11, 2025 at 5:06 AM UTC