Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"terima" poems
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
0
Mar 16, 2013
Mar 16, 2013 at 2:58 AM UTC
Andai Aku Bisa Mengerti Perasaan Ini
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
Continue reading...
47
Palembang, Selasa 21 Juni 2011 Aku punya mimpi mulia Butuh seribu tahun tuk menggapainya Ku tak serius, hanya mengira Karena ku selalu tak sempurna tuk jalaninya Hingga betisku biru Lututku lecet Bobot tubuhky berlipat Sampai pikiran ku sangat terbebani Hanya dapatkan phobia sesaat Saat api kulihat di mata tepat Mulutku kelu ludahku kering dan aku berkeringat Dan tersadar tak satupun peduli aku di malam pekat Ingat hanya aku tahu semampunya Tak buktikan apa-apa yang telah ku buat Orangpun merendahkan aku bagai tersiksa Tak bisa ku membela sendiri karna tlah telat Sadar-sadar di hari nan senja Bahwa ku makan hanya sisa saja Ku terima karena ku akui aku memang suka Berharap perbaikan akan datang mangubah semua Nama-Nya selalu ku sebut di setiap masa Meski aku dan Dia tahu bahwa aku masih salah Namun salahkah aku masih ingin dicinta? Kepalaku berat bagai hampir tak bernyawa
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:28 AM UTC
Short Story
*lagi, aku menulis untukmu. tidak pernah bosan jemari ini menari diatas kertas putih merangkai kata hanya untukmu, seseorang yang lebih berharga dari sebutir berlian termahal di duna ini. teruntuk seseorang yang namanya masih belum mampu aku tulis diatas kertas ini, selamat hari minggu. semoga minggu depan lebih baik dari minggu ini. tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk menukar seluruh kesedihanmu selama seminggu ke depan dengan kebahagiaanku. ah, tenang saja. aku bisa menahan rasa sedih sebanyak apapun itu. apa kabar? bagaimana senjamu kemarin? apakah mengesankan? ah, sangat disayangkan. bagiku, setiap senja datang mengunjungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadamu. aneh, bukan? hah, mengapa setiap hal yang aku lihat selalu mengingatkanku padamu? mau sampai kapan kamu tetap bersarang dibenakku? tapi aku berjanji, setelah kamu selesai membaca surat usang ini, aku sudah melupakanmu dan seluruh kenangan indah tentangmu. tujuanku kali ini adalah untuk mengucapkan terima kasih. terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya dijaga dan diperhatikan. bagaimana rasanya jatuh hati. bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. bagaimana rasanya mengukir rindu diatas batu. aku ingin berterima kasih kepadamu. dan aku berterimakasih kepadamu. karenamu, aku dapat paham bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa timbal balik. aku hendak pergi. maka itu, aku menulis surat ini sebagai tanda perpisahan denganmu. aku akan pergi meninggalkanmu di belakang. aku akan melepasmu pergi, membiarkanmu mencari kebahaigaanmu sendiri. karena aku akan berkelana mencari kebahagiaanku. aku akan mengikuti kemana angin akan membawaku. aku ingin bebas leluasa mencari penggantimu. tidak mungkin selamanya aku akan hidup di dalam bejanamu. sudah cukup banyak air mata yang tertahan karena diam mengagumi dari jauh. hal itu sudah cukup membuat hati tersayat sangat dalam. bahkan dengan kecupan macam apapun tidak akan memperbaikinya. satu hal yang aku minta darimu. berbahagialah dengan siapapun itu perempuan pilihanmu. hargai dia dan perlakukan dia seperti dia adalah perempuan terakhir yang akan kamu lihat. aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaanmu. dimanapun kamu berada, berbahagialah. selamat tinggal. terima kasih untuk 1.700 hari ini. aku belajar sangat banyak. aku tidak akan melupakanmu seutuhnya. aku akan selalu mengingatmu sebagai senja favoritku.*
0
Mar 13, 2016
Mar 13, 2016 at 9:12 AM UTC
sepucuk senja januari
*lagi, aku menulis untukmu. tidak pernah bosan jemari ini menari diatas kertas putih merangkai kata hanya untukmu, seseorang yang lebih berharga dari sebutir berlian termahal di duna ini. teruntuk seseorang yang namanya masih belum mampu aku tulis diatas kertas ini, selamat hari minggu. semoga minggu depan lebih baik dari minggu ini. tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk menukar seluruh kesedihanmu selama seminggu ke depan dengan kebahagiaanku. ah, tenang saja. aku bisa menahan rasa sedih sebanyak apapun itu. apa kabar? bagaimana senjamu kemarin? apakah mengesankan? ah, sangat disayangkan. bagiku, setiap senja datang mengunjungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadamu. aneh, bukan? hah, mengapa setiap hal yang aku lihat selalu mengingatkanku padamu? mau sampai kapan kamu tetap bersarang dibenakku? tapi aku berjanji, setelah kamu selesai membaca surat usang ini, aku sudah melupakanmu dan seluruh kenangan indah tentangmu. tujuanku kali ini adalah untuk mengucapkan terima kasih. terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya dijaga dan diperhatikan. bagaimana rasanya jatuh hati. bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. bagaimana rasanya mengukir rindu diatas batu. aku ingin berterima kasih kepadamu. dan aku berterimakasih kepadamu. karenamu, aku dapat paham bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa timbal balik. aku hendak pergi. maka itu, aku menulis surat ini sebagai tanda perpisahan denganmu. aku akan pergi meninggalkanmu di belakang. aku akan melepasmu pergi, membiarkanmu mencari kebahaigaanmu sendiri. karena aku akan berkelana mencari kebahagiaanku. aku akan mengikuti kemana angin akan membawaku. aku ingin bebas leluasa mencari penggantimu. tidak mungkin selamanya aku akan hidup di dalam bejanamu. sudah cukup banyak air mata yang tertahan karena diam mengagumi dari jauh. hal itu sudah cukup membuat hati tersayat sangat dalam. bahkan dengan kecupan macam apapun tidak akan memperbaikinya. satu hal yang aku minta darimu. berbahagialah dengan siapapun itu perempuan pilihanmu. hargai dia dan perlakukan dia seperti dia adalah perempuan terakhir yang akan kamu lihat. aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaanmu. dimanapun kamu berada, berbahagialah. selamat tinggal. terima kasih untuk 1.700 hari ini. aku belajar sangat banyak. aku tidak akan melupakanmu seutuhnya. aku akan selalu mengingatmu sebagai senja favoritku.*
Continue reading...
10
Untukmu Cinta Sejuta kata tercipta untukmu Segenap jiwa ku serahkan padamu Hingga akhir waktu ku sembahkan hanya untuk mu Meski tak kau terima Cinta dalam hati ku Terhempas begitu saja Bagai dari langit ku jatuh Ingin ku berenang di lautan Arungi samudera bersama ombak Desir pasir melagukan alunan daun Lambaian tangan untuk berselancar Indah cinta mengikat raga Satu aliran nadi di salam darah Mulut mengucap selalu kata cinta Hati pun akan selalu bahagia
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:53 AM UTC
Untukmu Cinta
Palembang, 25 Desember 2011 For my beautiful Mom: Mama, kamu cantik Tanganmu melentik indah saat mencuci baju kami Mama, kamu sungguh cantik Badanmu bagus melenggok saat memasak untuk kami Mama, kamu benar-banar cantik Sekalipun kamu sedang terlelap di tidurmu Mama, kamulah harta tak ternilai bagi kami Harta wajib yang harus kami bawa kemanapun kami melangkah Kamulah semangat pagi kami tuk menghadapi dunia Kamulah alasan kami bertahan hidup sampai sekarang Harapan kami adalah tuk membahagiakanmu selamanya Pikir kami kata Terima Kasih takkan pernah cukup tuk membalas kasih mu Mama, kamu cantik setiap hari Di mata kami kamulah hal yang terindah yang kami punya Di dunia ini tak ada pahlawan seikhlas dirimu Kamu terus bertahan meskipun kadang air mata menyertaimu Kamu terus menebarkan senyummu di waktu kami resah Mama, kamu tegar setegar batu karang Mama, kamu bersinar mengalahkan sinar Matahari Mama, kamu sejuk sesejuk embun di pagi hari Mama, kamu sehangat dekapanmu pada kami Mama, kami mencintaimu Mama, terima kasih atas cintamu selama ini Terima kasih atas pengorbanan mu kepada kami Maafkan kami yang pernah membuatmu menangis Maaf atas tingkah kami yang menjengkelkan hatimu Kami percaya dan tahu bahwa kamu tahu betapa kami mencintaimu, Mama
0
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 7:41 AM UTC
Mama I
dari awal memang aku hanya kertas kosong bagimu tak bisa digambar, tak bisa ditulis yang terlupakan, yang tertinggal yang terbuang, tak berharga meski ku coba tuk tulis sendiri kau hapus begitu saja, dan kau buang nama ku tak pernah kau sebut mungkin karena kau lupa mungkin karena kau tak suka aku Erikaa kau bisa panggil ku apa saja sesukamu tapi jangan, jangan kau tak menyapaku ku baca statusmu diam-diam, dari akun temanku, teman baikku kau benar suka dia? haha tentu saja! kau kembali ke kampung halaman, besoknya kau pergi lagi menjemputnya oh betapa beruntungnya dia dicintai malaikat sepertimu jika kau menikah, apa ada kau akan mengingatku? mengingat kekonyolanku? menertawai kebodohanku? kini semuanya ku buang, semua tentangmu senyummu, candamu, tapi ku mohon, izinkan aku menyimpan foto-foto mu bukan foto dirimu, tapi foto mu, pohon, jalanan, Samudera Atlantik, yang kau foto No! Akan ku hapus semua! Terima kasih tuk selama ini. Kau tlah berikan 0.5% cinta mu padaku Terima kasih telah 99.5% membenciku sehingga aku sadar akan kedudukanku Terima kasih sudah 100% mencintai dia aku yakin kau takkan menyakitinya ""Selamat G----- F--------- F-------- Semoga kamu BAHAGIA""
0
Sep 24, 2012
Sep 24, 2012 at 11:35 AM UTC
love 0.5%
Jumat, 1 Oktober 2010 Alangkah gembiranya aku Ingin ku tak henti tuk tersenyum Tertawa, bahagia karena mereka Terima Kasih Tuhan,,, Kini banyak yang sayang pada ku Mereka begitu berarti bagiku Yang hiasi hari-hari di sekolahku Terima Kasih Tuhan... Mereka tidak kehilanganku Mereka selalu memuat ku tersenyum Dan selalu tersenyum untukku ku Bersyukur aku atas yang ku dapat Aku sayang kalian, Sahabat-Sahabat ku... Created by. Aridea .P
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:49 PM UTC
Sahabat Ku
Jakarta, Minggu 18 Mei 2008 Dulu diary ku indah Sekarang telah ku ubah Tapi, saat gagal bertemu kau Ku satukan diary yang terpisah Sebagai bukti dariku Yang kan ku berikan untukmu Agar kau tau Seberapa besar cintaku Kasih ku t’lah tercurah Berdetik-detik, berjam-jam Bahkan berhari-hari lamanya Semoga dapat kau terima Meski terluka akhirnya Biar ku pergi saja Lupakan kenangan indah Dan yang paling menyakitkan Tapi, takkan ku biarkan Diary ku berubah indahnya
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:42 AM UTC
Diary
Palembang, 3 November 2011 Aku bersabar . . . Tetap berusaha dengan penuh harap Supaya bisa melihat wajah mereka Mendengar suara mereka Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta Aku tidak menangis . . Hampir, tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka Aku tidak mengerti bahasa mereka Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan Aku tidak pernah bertemu mereka Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat Aku tidak mengenal mereka Tapi aku sangat mencintai mereka Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah Meskipun aku belum beruntung Doa membantuku memberitahu-Nya Bahwa aku sangat merindukan mereka Sekarang,,, Aku sedang memandang mereka Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka Hal terindah yang pernah aku rasakan Terima Kasih Tuhan, , , Hadiah ku datang Created by. Aridea P
0
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
Hadiah Ku Datang :)
Jakarta, Minggu, 13 Mei 2007 Dulu sebelum aku dan kawanku merasakan dunia Ku lewati dulu masa-masaku yang suram dan kelam Namun... setelah Tuhan menegurku Ku tinggalkan semua kebiasaan burukku Aku dan kawan-kawanku Tersentak akan suara adzan itu Kami pun mencoba menjadi orang yang beriman Kami pun terus melewatinya Sampai... kami telah menemukan rasa dunia Kami telah menjadi orang yang berkarya dan beriman Namun... kami pun tak pernah melupakan masa dulu Yang penuh kesengsaraan Semua... itu kami ungkapkan dalam sebuah lagu Yang berisi tentang suka-duka yang kami lewati dulu Semoga... cara kami ingin berbagi cerita Akan sukses dan dapat di terima semua orang
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:48 AM UTC
Kisah Ku
Palembang, 21 Oktober 2012 Kini aku menulis dari sudut kiri Memalingkan mukaku dari hadapanmu Tak ingin terlihat olehmu Di sini, aku membaca sembunyi-sembunyi Menahan kedip, Tak ingin melewatkan membaca namamu Di sini dingin, hujan baru saja turun Membasahi jalanan yang terlalu lama kering Aku tak ingin pergi keluar Hanya ingin di sini Merasakan rasa ini lagi Rasa seperti ini Sekarang ini, saat aku menulis ini Rasa yang sulit tuk diungkapkan Lebih sulit dari berjalan di atas bara Lebih sulit dari mengingat namamu Sangat sulit daripada menulis namamu Sangat amat sulit daripada menyebut namamu Rasa, yang tak akan pernah berhenti membuatku menulis Rasa, yang tak mampu ku ucapkan sendiri Rasa ini Rasa yang sulit tuk dimengerti Rasa yang tak akan pernah hilang Rasa yang sulit tuk tak dibahas Terima kasih tlah membuatku menulis dari kiri
0
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 6:22 AM UTC
Rasa 2
Jumat, 13 Agustus 2010 Sekarang aku makin dewasa Bapak... Mamak... Aku... Anakmu kini 15 tahun Ya Allah Terima Kasih atas Rahmat-Mu Bapak, maaf bila esok ku tak berguna Mamak, maaf bila esok ku gagal Ya Allah, ampuni Hamba Semakin dewasa, semakin ku berdosa Tak sanggup aku melawan rasa itu Aku telah bercinta... Bercinta dengan nya Ku tahu dia tak pernah di sini Tuhan... Tuntunlah aku pada-Mu Aku merasa hina di hadapan-Mu Aku merasa hina di belakang orang tua ku Ampuni Hamba Ya Allah... Ku tahu t'lah berdosa Oh Tuhan, Aku bercinta dengannya di dalam khayal Creates by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:38 AM UTC
#>Umur;>Dosa#
Saat cinta mempersatukan Kau yang indah dengan dia Aku pun terancam sendiri Tak ada harapan lagi Kau bahagia... Aku akan sangt bahagia Karena kau temukan Dewi Cinta yang kau inginkan Semoga bahagia Dan setia dengan mu Ku kan mendendam Bila dia mengkhianati mu Meski vonis yang kejam Ku terima hidup di kandang Yang panas dan pengap Tak bisa hirup udara bebas Ketika vonis ku berakhir Kau akan ku cari Tapi, melihat mu telah bahagia lagi Ku kan mengenang itu untuk terakhir kali By. Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:00 PM UTC
Untuk Terakhir Kali
Jumat, 1 Oktober 2010 Terima Kasih Opa... Kau luangkan sedikit waktumu Untukku di sela waktu istirahatmu Terima Kasih Opa... Tak pernah engkau marah padaku Meski ku pulang terlambat Atau terlambat bangun di pagi hari Terima Kasih telah menjaga ku Selama ku di perantauan ini Ku pikir hanya mengandalkan raga ini Namun ku pasti tak mampu tanpa bantuan mu Beribu-ribu Terima Kasih untuk mu... Opa Created by. Aridea .P
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:45 PM UTC
Terima Kasih Opa
Pernah ku tulis surat untuk mu Yang indah berisikan tentang cinta Ku ingin kau tahu akan isinya Tapi, tak pernah sampai pada mu Selalu tertahan di sini Ku kumpulkan saja sendiri Dan akan ku terbangkan ke angin Agar membawa surat ku pada mu Mungkin kan sampai Tapi, apa kau terima semua? Tersenyumkah kamu, saat membacanya? Apa kau tak merasa Surat ku penuh dengan cinta Berapa kali ku tulis cinta Mungkin penuh tak tersisa Renungkan surat ku Yang penuh cinta untuk mu By. Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:21 PM UTC
Surat Cinta
Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau mulai memberi nasihat, kau tak melakukan apa yang kuminta. Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau mulai bilang aku tak perlu merasa begitu, kau menginjak-injak perasaanku. Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau merasa harus berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalahku, kau telah mengecewakanku, memang aneh kelihatannya. Dengar! Yang kuminta hanya kau mendengarkan bukan bicara atau berbuat—hanya dengarkan aku. Nasehat itu murah; 60 sen akan memberimu rubrik nasehat yang ada di koran. Dan itu bisa kulakukan sendiri. Aku bukan tak berdaya, mungkin kecil hati dan bimbang, tapi bukan tak berdaya. Ketika kau lakukan sesuatu untukku yang bisa dan perlu kulakukan sendiri, kau menambah ketakutan dan kelemahanku. Tapi saat kau terima kenyataan bahwa aku merasa apa yang kurasa betapapun tak masuk akal, aku bisa berhenti mencoba meyakinkanmu dan memahami apa di balik perasaan yang tak masuk akal. Dan ketika semuanya jernih jawaban menjadi jelas dan aku tak butuh nasehat. Perasaan-perasaan yang tak masuk akal menjadi sebaliknya saat kau memahami ada apa di balik semuanya. Mungkin karena doa itu manjur, terkadang, untuk sebagian orang karena Tuhan tak bersuara, dan tak memberi nasehat atau mencoba memperbaiki sesuatu. Tuhan hanya mendengarkan dan membiarkanmu menyelesaikannya sendiri. Jadi, tolong dengar dan hanya mendengarkanku. Dan bila kau mau bicara, tunggulah giliranmu, dan aku akan mendengarkanmu.
0
Mar 5, 2015
Mar 5, 2015 at 3:22 AM UTC
Dengar
Daniel, Waktu panorama nyata cerah merona Aku termenung dungu Malu, cemas tak pernah begini Atau entah pernah namun kulupa Kala aku berlari menuju hilang Cerah itu muncul, kupikir selesai semua Berpapasan sosokmu, membelai pipimu Ku tak becus Yang terasa dijiwa makin bermakna yang ada dihati makin berarti Tak harap lebih berjumpa denganmu Dimimpiku Dipelaminan Atau dirumah kita nanti Rasa cintamu sudah cukup Sungguh, Terima kasih Buatmu, 2017.
0
Sep 18, 2017
Sep 18, 2017 at 12:15 PM UTC
Buat sayangku, Daniel
Thank you everyone for an amazing year, to all my followers, friends, and fellow poets/poetess! You guys are all real poets to the core, and just awesome overall. You have always made my day, and gave me something to look forward to after every tiring and shtty day. So this is my thank you so very much to all you fckin sympa, incredible, and marvelous colleagues! All you're words mean a lot and have helped me everyday. Thank You! Dankie! Shukran! Do je! Hvala! Dìkuji! Tak! Aitäh! Vinaka! Salamat! Kiitos! Merci! Danke! Efcharisto! Mahalo! Toda! Shukriya! Terima Kasih! Grazie! Domo, Arigató! Kamsa hamnida! Gratia! Achiu! Xie xie! Takk! Aguije! Dziêkujê! Obrigado! Hvala! Mulþumesc! Gracias! Asante! Tack! Khop Khun Krab! Cam on! Jerejef! Diolch! A (shaynem) dank! Maita Henyu! Dhanyabad!
0
Dec 24, 2014
Dec 24, 2014 at 7:48 PM UTC
THANK YOU AND MERRY CHRISTMAS!
Nama mu terukir sangat indah Kebahagiaan yang tiada dua Kisah kita memang baru sebentar Namun hatimu ingin beranjak Tanya hatimu, Sebelum engkau pergi Masihkah diriku menghuni didalamnya? Terlalu rapuh untuk tersandar dan menerima Diriku memang tidak mendekati sempurna Aku... Gagal... Membahagiakan mu Diriku tak pernah berhenti mencoba Aku... Tidak... Layak Sebelum kau memilih untuk pergi Aku tak pernah lelah menanti Nama mu yang selalu ada di setiap doa Aku akan merindukanmu Terima kasih untuk segalanya.
0
Dec 8, 2017
Dec 8, 2017 at 5:44 AM UTC
Aku Tidak Sempurna.
Halo, hari ini hari Sabtu, tanggal 27 Juli. Mungkin di atas bumi bulan sebentar lagi tak terlihat dan beberapa hari lagi akan muncul kembali, namun sepertinya di kehidupan Bumi; Bulan akan sirna sebentar lagi. Bulan bingung, bagaimana cara Bulan tetap tinggal di sisi Bumi sementara Bumi tidak memberikan ruang untuk Bulan singgahi, sementara Bumi tidak memberikan kesempatan untuk Bulan mengasihi. Apa yang pernah Bumi sampaikan pada Bulan terdengar seperti omong kosong belaka saat ini. Terima kasih ya, untuk hal apa pun yang pernah kita bagi. Maaf jika Bulan akan tetap menjadi Bulan untuk selamanya, bukan Matahari yang menjadi pusat perhatian dan gravitasimu, Bumi. Bulan izin pamit ya, sampai jumpa jika alam semesta merestui.
0
Jul 20, 2019
Jul 20, 2019 at 3:56 AM UTC
bulan pamit
Bersahut Melontarkan kata Bukan, ternyata kalimat Bukan, tapi sajak Kalau sajak, Tak tercerminkan keindahan Seperti nyanyian Bukan, tak ada nada indah disana Mempelai pria siap Si Pitung bajakan muncul Mempelai wania siap Bapaknya datang Hingga 'Aye terima pihak mempelai pria'
0
Apr 22, 2016
Apr 22, 2016 at 7:01 AM UTC
Gurindam
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
0
May 27, 2019
May 27, 2019 at 12:42 AM UTC
Sumpah Dibayar Mata
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
Continue reading...
35
indahnya kota jogjakarta pada malam itu tidak seberapa indah dengan binar mata dan senyum lekuk bibir mu pada malam itu, bising klakson mobil pada kemacatan malam itu bahkan bukanlah perihal yang menggangu. nyaman, bahkan bagiku semua tenang. teringat jelas bagaimana kita menelusuri kota jogja sambil mendengarkan lagu saat kau menggengam tanganku erat, bagaikan takut kehilangannya. untukmu Tuan, sosok yang selalu memberikan ku kehangatan di malam hari disaat semua bergetar kedinginan. tubuh dan ragamu yang amat ku kasihi, terima kasih sudah memperlihatkan indahnya dunia yang pernah jahat ini. padamu Tuan, aku mengundangmu untuk sejenak meletakan kepala mu dibahuku dan menikmati malam yang indah, berdua.
0
Jan 9, 2019
Jan 9, 2019 at 12:30 PM UTC
Jogjakarta malam itu
Umur berpihak dengan raga menahan gejolak membara jiwa umur menggengam hati dan berdoa "tuhan, jangan kau membuatnya buta mengejar idealisme, terkekang fatamorgana. kembalikanlah ia, ke mana hidup menuruti realita." umur makin takut melihatnya mendobrak dinding bata batasnya dengan dunia "Tiada guna, di luar sana kau hanya akan binasa, ku hanya memiliki cinta dan ku tak ingin kau kecewa..." "Bukan cinta bila tangisan membanjiri mata, bukan kasih jika wilayah ditempa membatasi ruang bermuara semua perilaku hina padaku tertimpa ku terima dengan hati leluasa tanpanya ku tak akan bermetamorfosa jangan kau berlara-lara melihat juangku yang remaja kekacauan ini indah membuatku merasakan untuk kali pertama hidup tiada kesempatan kedua."
0
Nov 4, 2019
Nov 4, 2019 at 12:12 PM UTC
Indah, Kacau
Pertama kalinya kugenggam tanganmu Satu kembang api dipantik dari ulu hatiku Seribu lainnya menyusul saat jemari kita saling bertaut Menghiasi langit malam dengan pendar menggoda Hitam pekat dibasuh percik api warna-warni Kusaksikan dengan jelas saat kutatap wajahmu lekat-lekat Kala itu tak satupun kata berhasil kita ucapkan Namum dalam hati, tiap detik kulayangkan ribuan doa dan segala mantra : "Tuhan sang empunya dunia ini, hendaklah hentikan waktu sejenak untuk hambamu ini. Atau panjangkanlah malam sebelum mentari terbit nanti. Terima kasih Engkau turunkan bidadari, tepat disebelah hambamu ini". Rambutmu bagaikan ombak musim panas Bergulung-gulung indah harum manis bergairah Namun dadaku layaknya laut dikala badai Gemuruh layaknya seribu ksatria berkuda Inginku berteriak sekencang-kencangnya Gemanya terdengar sampai kampung Ayah-Ibuku Jikalau nun jauh di belahan dunia sana Seseorang berhasil menginjakkan kakinya di bulan Inginku umumkan pada dunia Malam itu akulah manusia pertama yang berhasil menggenggam bulan Akulah pungguk yang melawan seluruh hukum gravitasi Akulah pungguk yang tak lagi merindukan bulan Kalau saja bisa, saat itu juga Ingin kutuliskan berlembar-lembar puisi cinta Ingin kupetik gitar dan bersenandung mesra Karena bisikan lembutmu melantunkan hasrat hidup Tatapan sayumu membiaskan mimpi-mimpiku Senyuman indahmu melukiskan harapan-harapanku Mimpi dan harapan seorang lelaki biasa Menghabiskan hidup dengannya, tuan putriku ratuku, malaikatku, wanitaku yang istimewa
0
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:31 PM UTC
Kugenggam Tanganmu
Pertama kalinya kugenggam tanganmu Satu kembang api dipantik dari ulu hatiku Seribu lainnya menyusul saat jemari kita saling bertaut Menghiasi langit malam dengan pendar menggoda Hitam pekat dibasuh percik api warna-warni Kusaksikan dengan jelas saat kutatap wajahmu lekat-lekat Kala itu tak satupun kata berhasil kita ucapkan Namum dalam hati, tiap detik kulayangkan ribuan doa dan segala mantra : "Tuhan sang empunya dunia ini, hendaklah hentikan waktu sejenak untuk hambamu ini. Atau panjangkanlah malam sebelum mentari terbit nanti. Terima kasih Engkau turunkan bidadari, tepat disebelah hambamu ini". Rambutmu bagaikan ombak musim panas Bergulung-gulung indah harum manis bergairah Namun dadaku layaknya laut dikala badai Gemuruh layaknya seribu ksatria berkuda Inginku berteriak sekencang-kencangnya Gemanya terdengar sampai kampung Ayah-Ibuku Jikalau nun jauh di belahan dunia sana Seseorang berhasil menginjakkan kakinya di bulan Inginku umumkan pada dunia Malam itu akulah manusia pertama yang berhasil menggenggam bulan Akulah pungguk yang melawan seluruh hukum gravitasi Akulah pungguk yang tak lagi merindukan bulan Kalau saja bisa, saat itu juga Ingin kutuliskan berlembar-lembar puisi cinta Ingin kupetik gitar dan bersenandung mesra Karena bisikan lembutmu melantunkan hasrat hidup Tatapan sayumu membiaskan mimpi-mimpiku Senyuman indahmu melukiskan harapan-harapanku Mimpi dan harapan seorang lelaki biasa Menghabiskan hidup dengannya, tuan putriku ratuku, malaikatku, wanitaku yang istimewa
Continue reading...
30