Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"terbuka" poems
Cinta bukan melulu soal siapa yang lebih dulu. Yang telah lama singgah bisa jadi sama rapuhnya dengan yang sekedar lalu-lalang. Cinta bukan melulu soal detak jantung yang berdegup kencang, bukan melulu soal pupil yang melebar. Yang telah kehilangan nafasnya bisa jadi yang semenjak dahulu telah menyimpan asa. Cinta bukan melulu soal hukum tawar-menawar. Saat sudah kehabisan apa yang ditawarkan, terkadang cinta dengan naifnya tetap menyambut dengan tangan terbuka. Persetan dengan hukum ekonomi, yang memberi kurang bisa jadi telah memberi seluruh yang mereka miliki. Cinta bukan melulu soal mengabaikan ketidaksempurnaan. Justru cinta menerima seutuhnya, segala kesempurnaan maupun ketidaksempurnaan. Setiap gores dan luka, bukalah mata dan terimalah mereka dengan utuh. Yang terlihat baik bisa jadi membuatmu menutup mata atas keburukan mereka. Cinta bukan melulu soal apa yang terlihat, karena bisa jadi indera kita dibuatnya luluh lantak di hadapannya.
0
Apr 6, 2016
Apr 6, 2016 at 11:13 AM UTC
Cinta Bukan Melulu Soal Cinta
Palembang, 16 September 2012 Pagi ini cerah. Tak tahan tuk ku sembunyikan senyum ini. Semalam aku memimpikanmu. Dan sekarang aku merindukanmu. Aku duduk, di sampingku jendela terbuka lebar. Cahaya mentari hangat menyentuh kulitku. Di depanku ada tempat pensil, aku siap menulis. Ada penghapus, pena, stapler, lem dan kertas. Untuk sedetik ada image mu di sekelilingku. Kreatifitasku muncul untuk memvisualkan dirimu. Penghapus. Andai aku bisa terbang, akan ku hapus awan. Dan ku ambil pena, tuk menuliskan “Aku mencintaimu” besar-besar. Lalu akan ku stapler rasa ini di otakku. Kemudian ku ambil lem tuk merekatkan wajahmu di hatiku.
0
Sep 16, 2012
Sep 16, 2012 at 1:42 AM UTC
ATK
kamu... seperti kamar yang kamu tinggali... seperti ruangan yang menjadi sejarah kita... terbuka, tanpa sekat, tanpa jendela.... kamu dingin tapi dalam pelukmu aku merasa hangat... angin kencang atau hujan gerimis.... mana kamu peduli... kamu bilang, "asal kamu disini, semua menjadi hangat" kenapa kita berbeda? kenapa ruanganmu lebih besar? bukankah kita saudara? bukankah aku adik terbaikmu? lalu, kenapa aku tidak ingat masa kecilku disini? ya, lagipula... semua itu hanya mimpi...
0
Apr 23, 2015
Apr 23, 2015 at 10:40 PM UTC
a (fake) brother
Mendengarmu berceloteh, Daun telingaku kian mengecil, Menciut sesak dalam lubangnya, Hingga tiada bunyi menggugah pikiran. Memandangmu beserta materimu, Kelopak mataku tak kuasa terbuka, Ku paksa terbelalak, menatap tajam, Sampai pandanganku kosong hampa. Menghadiri kelas mata kuliahmu, Detik jarum jam seakan tertidur tuk berdetak, Ruangan seakan penuh dengan jeritan jiwa, Tinggallah hasrat untuk kembali pulang. Wahai bapak dosenku, Adakah engkau menawarkan air di panasnya hati, Akankah kau menabur harum bunga di otak yang usang, Atau apakah rasa jemu takkan terganti?.
0
Mar 14, 2015
Mar 14, 2015 at 3:10 AM UTC
To : Mr. Dozzen
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
RUMAH
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Continue reading...
36
dan kamu selalu berhasil menemukan cara paling tepat untuk membuatku tersenyum, terdiam, terluka. kadang ada jeda waktunya, kadang dalam saat yang sama. mungkin itu tanda signifikansimu di hidupku. mungkin itu tanda aku yang semakin tak mampu. mungkin itu tanda aku semakin mencintaimu. just a mere sight of you brigthen my day. just a mere sight of you darken my day. sebut saja aku serakah. aku memang tidak bisa berbagi. sebut saja aku egois. rasa sakit ini begitu nyata. membuatku tak sanggup tak buang muka. dan pergi meninggalkanmu sebelum semuanya terbuka.
0
Sep 1, 2015
Sep 1, 2015 at 10:38 PM UTC
you are, who is brighter than the sun
Jam tujuh pagi tadi Ibu mengetuk pintu Bunyi ketukan itu sampai empat kali terulang Di ketukan empat setengah, Pintu terbuka setengah juga “Ya?” “Mandi, Mbak.” “Pingin tidur lagi.” “Tapi hari ini hari kemenangan.” Raut wajahnya yang telah menjadi warisanku tak sedikitpun menunjukkan bahwa dia telah memenangkan apapun. Tidak seperti kebanyakan orang, Untuknya hari ini bukanlah tentang seberapa kental kolam santan yang menyimbahi santapan-santapan Bukan juga tentang berpeluk-rindu dengan orang-orang sambil sesekali bertukar kabar Lelah mengutuk dirinya karena seumur hidup merasa kalah, Aku tahu bahwa sehari saja ia ingin merasa menang. Ia sendiri tahu betul saat hari ini berakhir dan tamu berpamit untuk pulang setelah semua habis terkunyah; ia akan kembali merasa kalah. Menang atas dan untuk apa? Seribu kata maaf pun ia telan begitu saja tanpa mencerna kata tersebut keluar dari mulut siapa Tanpa adanya hari kemenangan yang dibanjiri oleh teks bersampul maaf, Hidupnya memang sudah tentang meminta maaf dan memaafkan Tak ada pilihan lain. Hanya saja hari ini sinar sendu wajahnya menunjukkan bahwa akhirnya, Setidaknya untuk dia, Harapan pahitnya terhadap ‘maaf dan memaafkan’ akan diselebrasikan; Dan seperti dirinya, lebih dari sejuta orang akan melakukannya walaupun untuk sehari saja. Kepada siapa lagi ia harus meminta maaf dan meminta dimaafkan?
0
Jun 5, 2019
Jun 5, 2019 at 8:40 AM UTC
?
Kamu berhenti berbicara dengan jendela Padahal dia mengatup dan terbuka dengan sendirinya Jika kamu pergi, bukankah pintu mengatakan untuk tidak kembali? Lalu kamu turuni anak tangga seperti menuruni tingkat kesadaran Berguling bergelimang bintang diantara remang lampu jalan Hanya saja kamu hilang tepekur diantara gang-gang gelap hutan Pertanyaanku, apakah selama ini kamu mengerti bahwa rambu jalan melarangmu untuk berhenti?
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:44 PM UTC
Rindu
Badan ranjang tidurku rapih sedikit berdebu Ujung selimut terlipat dan banyak abu Jendela kamar terbuka seperapat untuk semburan angin masuk Pintu dibiarkan ternganga sekiranya ada yang mau bertamu Tamu terakhir hadir seminggu lalu Berbeda dengan si angin yang rajin keluar masuk Tamu terakhir pamit untuk tak lagi membesuk Memang bukan kepergian namanya kalau tak menusuk; Seruangan bergemuruh menyaksikan kaki jenjangnya melangkah kian jauh Bukan hanya ruang secara dimensi, Tapi ruang tubuh ini yang lima menit lalu baru ia isi Tak sampai esok hari jantung dari ruang tubuh ini seakan memohon untuk berhenti Telingaku seakan mendengar hati meretih; Cukup jangan terjadi lagi Namun si akal bajingan menimpali; Ya memang ada kalanya manusia harus sendiri Hari hampir pagi Biarkan kubakar rokok satu batang lagi.
0
May 13, 2019
May 13, 2019 at 11:04 AM UTC
Kala Ruang
Ada yang dipanggil rumah, tapi tak pernah benar-benar menunggu. Ada yang terlihat hangat, tapi selalu terasa sendu. Langkahku pernah menuju ke sana, dengan hati yang penuh harap. Tapi pintunya tak pernah benar-benar terbuka, hanya sekadar celah, cukup untuk masuk, tapi tak untuk tinggal. Aku pernah menunggu di ambangnya, bertanya dalam diam, menunggu kepastian yang tak pernah bernyawa. Kini aku paham, tak semua yang nyaman bisa menjadi pulang. Tak semua yang dekat bisa menjadi tempat menetap. Dan tak semua yang dicintai, bisa mencintai dengan cara yang sama.
0
Mar 15, 2025
Mar 15, 2025 at 5:35 AM UTC
C E L A H
Ku berharap esok pagi matahari bersinar cerah Ku berharap hatiku yang gelisah sirnah Ku berharap perjalanan hidupku berubah Ku berharap segala kegalauan ku pecah Ku berharap hari-hariku bahagia Ku berharap kanan kiriku sejahtera Ku berharap atas bawahku mulia Ku berharap sisi-sisi kehidupan terarah Ku berharap masa depan yang ceria Ku berharap kegelapan tidak nyata Ku berharap mata dan hati terbuka Ku berharap hanya sukacita melanda Ku berharap segala yang buruk tiada Ku berharap kemajuan semata Ku berharap matahari dan cahaya Ku berharap kakiku tetap lincah Tapi semua itu hanya ku berharap Belum tentu seperti yang Kau tatap Ajarku tetap berharap Hanya kepada Kau saja....
0
Oct 31, 2017
Oct 31, 2017 at 11:13 PM UTC
Harapanku
merah jambu bukan lagi warnaku meski masih ada putih hitam juga yang aku pilih 7 tahun telah aku rasakan mati cukup tiga, mungkin jiwaku tiada lagi baki sering ku ingin pulang bertinta di atas muka surat yang sama tiap kali itu juga lemas aku berperang tenat kepalaku melawan apa yang di minda rapat aku tutup mata yang segar mendambakan saat ia terbuka sepi di dalam penuh di luar melakar noktah di sudut sengsara kerana begitu aku rindu waktu diriku dihiasai merah jambu.
0
May 3, 2020
May 3, 2020 at 2:31 PM UTC
Merah Kelabu