"terbakar" poems
Palembang, 14 Januari 2014
Apa yang susah?
Menguasai diri sendiri memang susah
Melakukan ini tapi takut, takut salah
Tapi tidak dilakukan akan menyesal, juga salah
Apa yang mudah?
Memerintah orang memang mudahnya
Menyuruh orang melakukan kehendaknya
Entah siapa yang untung dan rugi di antaranya
Apa yang gampang?
Menghakimi orang juga gampang
Tak peduli tampang
Mau presiden, mau pejabat, mau gembel asal hati senang
Apa yang gampil?
Menasehati orang juga gampil
Tinggal ucapkan kalimat kecil
Berlagak bak orang yang terbiasa nan terampil
Apa yang sukar?
Menyadarkan orang itu yang sukar
Meski hati sudah dongkol dan mulai terbakar
Apa daya orang itu tak sadar-sadar
#miris
Jan 14, 2014
Jan 14, 2014 at 11:42 AM UTC
Kala malam tampakkan luka
Terlapis kasih, beringsut malu
Ia terbakar gugur lebur
Dan tidak termaafkan
Sesap tangismu sendiri,
Relung jiwa telah berkeluh
Sembahyang doakan maut
Akan pilu cinta dursilamu
Dengarlah tembang petaka
Perlahan menggoda luhur
Gapai lika-liku serapahnya
Dan kenakan sebagai selambu senja kini
Jika malaikat merasuk pada
Sekuntum bunga di pelupuk mata
Rimba ruak ini tak akan lebih
Besar dibanding seuntai rindu durjana
Maka dengan itu,
Akan kuajak berpesta pora
Sedu-sedan iblismu
Di taman mahakama bersimbah dosa
Lepaskan genggaman tangan itu
Dari lentera di sunyi gulita
Karena sinarnya yang rupawan
Telah meleleh dalam lumrah darah getir
Ikutlah denganku,
Kita kan menari semalam suntuk
Sampai yang tercium dalam hati
Hanya bau anyir perpisahan
Nov 24, 2015
Nov 24, 2015 at 9:07 AM UTC
Inderalaya, 27 Agustus 2014
Aku putus asa di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan
Di saat aku sedang sibuk menyemangati orang lain untuk bertahan
Tepat di saat aku berceramah agar mereka terselamatkan
Aku membela orang lain padahal aku sendiri seorang tahanan
Aku sendiri tak mampu untuk mengembalikan kehidupan, hanya berangan
Melewati waktu tanpa batas yang membuat aku tersesat di jalan
Dengan berani ku telusuri labirin tak berujung di hari tak berawan
Aku mampu menjadi lentera orang lain, di jalan gelap di ujung perapian
Namun aku tetaplah lilin yang tak berapi, angin meniup api dan angan
Aku masih tetap menjadi tahanan yang ingin terbakar di ujung perapian
Aug 26, 2014
Aug 26, 2014 at 10:29 PM UTC
Segenap usia t'lah ku pegang. Namun, akankah telepas? Usia akhir hampirkah dekat. Apakah raga akan terbunuh?
Cintaku belum tergapai. Bisik hasut baik, terngiang di telinga. menyerukan kata indah tentang cinta. Agar ku tak merasa terikat usia.
Belum lama ku cicipi dunia. Akankah kandas bagai tergilas. Tiupan angin menjadi puing. Terbakar api menjadi debu.
Nyawa kini menjadi asap. Tak berguna tanpa cinta. Menangis haru karena suara indah. Dan tersenyum bahagia bermimpi cinta.
Created by. Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:55 AM UTC
Hati ku terbakar
Melihat mu berpelukan
Dengan dia di sana
Kenapa bukan aku saja?
Aku cinta kamu
Tapi, cinta ku tak sampai
Setulus hati, ku sayang kamu
Tapi, kamu tak tahu
Aku di sini menunggu
Kamu tak merasa ditunggu
Aku di sini cemburu
Kamu tak mersa membuat ku cemburu
Bila kamu bahagia dengan itu
Ku pendam dalam cinta ku
Biar tangis sebagai pelampiasan
Hingga ku bertemu kamu tuk bersama
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:31 AM UTC
Kutarik secarik kertas putih
Kutumpahkan tinta hitam
Kutulis namamu
Kuceritakan segalanya
Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong
Hingga menjadi sebuah kupu-kupu
Terbang melintas dunia
Berakhir dengan kematian
Tetes demi tetes tinta
Menyusun kata per kata
Membentuk sebuah kalimat yang ramai
Mewakilkan mulutku yang membisu
Untuk siapa kubuat tulisan ini?
Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian
Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat
Putih suci ditimpah hitam penuh dosa
Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. "
Jemari bergerak melipat surat itu
Berbentuk perahu
Perahu kertas.
Raga berjalan ke tepi laut
Seakan jiwa yang menggerakkan
Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa
Tangan melepaskan surat itu
Perahu kertas,
Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu
Berlabuhlah di neraka
Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Panas terpapar auramu
Menggeliat menyapu menyeluruh
Hingga gugur kalbu
Terbakar oleh angan para penyelatu
Hilang perlahan menggugur
Berasap menghilang semu
Layaknya debu-debu tertiup sang bayu
Memudar seperti bayang nafsu
Dari pemilik warna warna itu
Menjajakan aksara palsu
Mendulang manis ucap rindu
Membiaskan maki dalam untaian lagu
Menerkam mangsa yang diam terpaku
Sampai penuh hasrat itu
”Oh, Jadi seperti ini rupa asli kawan kawanku? sugguh lucu”
Oct 1, 2016
Oct 1, 2016 at 10:13 AM UTC
Aku terbakar dalam diam
Dengan detak jantung kencang
Dan kekuatan menghilang
Kesunyian di dalam diriku ini
Tak mempunyai ketenangan
Ia memberontak, membising,
Menjatuhkan serpihan kaca
Dengan tangan lantang
Aku mencoba berteriak
Tapi tenggorokanku menolak,
Seolah dicekik oleh tangan hitam
Yang mengingat mimpi buruk malam.
Oct 25, 2018
Oct 25, 2018 at 9:12 PM UTC
Mengambil bentuk paling bahagia dari bias sore yang sayup melantunkan nada-nada melankoli, perihal perpisahan.
Tersapu wajah oleh angin laut, biru terbakar di ujung cakrawala, sepasang mata menatap dalam baskara—mengisyaratkan, "saatnya pulang dengan lapang".
Mar 8, 2021
Mar 8, 2021 at 4:55 PM UTC
Sejenak kita tunda laju lalu-lalang kendaraan yang kebingungan di kota kecil yang mulai penuh sesak.
Menghentikan bising suara mesin di kepala.
Memejamkan mata dari keriuhan yang rumit dalam saku.
Menggantung gaun-gaun yang telah lama tak kita baringkan.
Barangkali kita terlalu sibuk melupakan.
Terlalu berusaha menjauh dari diri sendiri.
Mungkin kita ini tak pernah tersesat pada dunia yang menyesatkan siapa saja.
Tersedak tawa oleh lelucon yang mencekik mimpi-mimpi.
Kita terus berlari tanpa tahu arah, kebingungan dan gelisah.
Seperti kereta kuda di taman bermain yang sepi pengunjung.
Kita terus saja berbicara tanpa pernah merasa.
Seperti suara klakson yang meraung-raung di kota yang semakin sibuk.
Kita terlalu berapi-api memperdebatkan apa saja.
Terus berteriak dan terbakar.
Terlalu sering menertawai, tanpa tahu lelucon sesungguhnya.
Tanpa tahu upacara kematian telah dipersiapkan di akhir tawa.
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:21 AM UTC