Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"terbaca" poems
Kenapa diam? Matamu berisik ingin berbisik—perasaanku ini asing, mengusik—tapi kamu tahu, kan? Kamu masih diam. Kenapa menjauh? Aku bukan rumah tak bertuan—aku ini sudah dirumah—tapi kamu salah rumah, kan? Kamu diam lagi. Kenapa mengelak? Setiap kenangan ada di angan, kamu langsung meninggalkan ruangan—jangan, jangan kamu, tidak boleh kamu—dirapalkan terus menerus seperti denting jam dinding tua diujung jalan, kamu takut, kan? Kamu diam lagi. Kenapa menyerah? Rautmu tidak terbaca, saat iris kita beradu lewat kaca. Begitu pula dengan langkahmu, yang berhenti setelah ujung sepatu kita bertemu. Inginku kita bertemu lagi besok pagi, nyatanya mulutmu hanya tahu elegi—karena aku maunya dia, makanya aku meninggalkan ruangan, cukup dia—rasa ini mati sebelum sempat mendapatkan hati.
0
Feb 6, 2021
Feb 6, 2021 at 1:48 PM UTC
—bukan aku.
Mendegar mereka diantara dua ucapan Tersebar panjang sebuah harapan Seperti getaran tanpa celah Membiarkan hilang dalam naungan Pada halaman konstelasi Mereka mengisyaratkan Gerak gerik sebuah keinginan Dipenuhi kecemasan Dan cerita belum terbaca Mereka membisik Terdengar samar Menunjukan cara untuk hidup Menunjukan aku ada tanpa tujuan Kepada si pendengar Si pendengar kisah dua dunia
0
Jul 20, 2019
Jul 20, 2019 at 4:04 AM UTC
Pendengar Dua Dunia