Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"telingamu" poems
Ku terlelap seperti lalu lintas jakarta, berjalan dan berhenti, dari padat menjadi kosong. Yang tak tahu pergi kemana. Gambar-gambar yang lewat begitu saja seperti cepatnya kereta. Lampu-lampu jalan yang menerangi aspal hitam. penjual-penjual yang menjual minuman di lampu merah. Pengamen yang bermimpi membuat kemacetan menjadi hal musikal. Keringat-keringat dibalik helm dan jaket kulit. Tawa-canda dibaluti pendingin didalam mobil. Bis-bis kota dengan kepenuhan penumpang. Orang-orang yang mengumpat jika kau dengar dengan seksama, umpatan mereka begitu indah, tak ada seorangpun di bagian dunia lain mampu menirunya. para pedestrian yang semakin tergeser eksistensinya karena tak ada lagi ruang bagi mereka. Stasiun-stasiun yang nampak menakjubkan ketika sepi. Spanduk-spanduk keagamaan yang dipasang sembarangan sama layaknya dengan iklan-iklan yang berteriak ke telingamu tiap radius 10 meter. aku terlelap bagaikan lalu lintas jakarta. Aku tak tahu kemana.
0
Nov 17, 2013
Nov 17, 2013 at 1:55 AM UTC
Elegi Jakarta
Palembang, 26 Juni 2012 Sayang, aku akan menjadi matamu ketika kamu tak mampu melihat Sayang, aku akan menjadi telingamu ketika kamu tak mampu mendengar Sayang, aku akan menjadi hidungmu ketika kamu tak mampu mencium Sayang, aku akan menjadi bibirmu ketika kamu tak mampu bicara Sayang, aku akan menjadi jarimu ketika kamu tak mampu menyentuh Sayang, aku akan menjadi kakimu ketika kamu tak mampu melangkah Sayang, ambil jantungku ketika punyamu tak mampu memompa Sayang, aku ingin berbagi nafas ketika kamu tak mampu Sayang, aku akan berbagi tempat dengan mu di sampingku ketika tak satupun menginginkanmu
0
Jul 6, 2012
Jul 6, 2012 at 9:04 PM UTC
Aku Akan Manjadi
kiranya semua cintaku yang tak terbantahkan ini tak luber, keluar dari hatiku ke lidahku yang busuk ini kiranya telingamu tak mendengar dan hatimu tak merasakan cinta ini kiranya aku bisa menyimpan ini sendirian, dalam tangisan nelangsa sebelum tidur yang mengoyak kepalaku kiranya lautan menelanku jika ada saat dimana kau mengerti semua yang kupendam dalam ini
0
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 1:53 PM UTC
kiranya
Dengarkan ketika kau merasa takut, akan semua ketulian, Gosip dan kata-kata tak bermakna, Semua berita peperangan Maupun musik tanpa nada. Telingamu seharusnya takut. Lihatlah ketika kau merasa takut, akan semua kebutaan, Kebajikan yang munafik, Imajinasi yang berlebihan Terlebih jika kau tampik Matamu selayaknya takut. Ucapkan ketika kau merasa takut, akan semua puisi dan syair, Mantra yang mereka panjatkan, pada setan dimana mereka lahir Semua bisu yang kau nyanyikan Bibirmu seharusnya takut. Cintai ketika kau merasa takut akan semua iba dan nestapa, Mabuk dengan segelas kasih, Mereka yang bertelanjang jiwa Sehingga matipun tertatih Hatimu selayaknya takut Pikirlah ketika kau merasa takut akan semua yang dungu, dimana nuklir-nuklir itu mereka sesap, dan kebijaksanaan para ***** dituju Ketika para pendeta tergagap. Otakmu seharusnya takut Rasalah ketika kau merasa takut akan semuanya yang berbentuk, menyerupakan tawa dengan doa, Yang menyayat hiruk pikuk Derap dan tangis yang fana Dirimu selayaknya takut Maka biarkan aku berani Karena kau hidup, dan aku tak punya diri.
0
May 7, 2016
May 7, 2016 at 2:26 PM UTC
Takut
O, malam yang suci Sayang, kau mau kecap itu? Kecaplah sunyi malam di ujung lidahmu, julurkan sepanjang tangan Bilamana gelap telah menghujani hari, teguklah dingin dalam gua mulutmu O sayang, kau mau dengar itu? Sendengkan telingamu, dengarkan sekali lagi Dengarkan ketika gelap dan terang tengah melenguh Harmoni saat daun dan ranting mencumbu satu sama lain O, sayang, kau mau merasakan itu? Sentuhlah bibir bulan itu, kau bisa merasakan dia tengah bernyanyi Bibirnya mengatup dan membuka, mendaraskan kidung yang seketika senja O, sayang, kau mau melihat itu? Buka matamu, lihat mereka saling bergesekan, menaut dan berkelindan Tak ubahnya sepasang kekasih yang tengah bersanggama
0
Sep 28, 2016
Sep 28, 2016 at 3:36 PM UTC
DESIR
putih warna duplikat hatimu merah merepresentasikan perasaanmu biru unsur yang menyertaimu setiap hari, cerah! kuning, tebaran keceriaan yang kau percik selalu jingga, warnamu yang selalu kurindu kau membuatku sejuk, dengan hijaumu merah muda adalah gambaran kasih yang kau beri akutak sedang memuji pelangi tak juga coba memikatnya aku tak sedang menjual kata tanpa sadar, orang ini sedang mendeskripsikan dirimu kau tak perlu tersipu apalagi coba untuk membalikannya cukup saja dengarkan jika tak senang, bolehlah tutup saja telingamu
0
Aug 21, 2017
Aug 21, 2017 at 12:48 PM UTC
warna
Bukan saatnya, kawan, Kau tertunduk dengan tangisan Seakan dunia sudah kiamat. Mungkin hatimu sedang tertusuk Oleh buaian para pemberi harapan Dan setan pembisik di telingamu. Tapi ingat, Ceritamu hanya sebatas koma, Masih ada kalimat panjang Yang menantimu sampai akhir hayat.
0
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 6:39 AM UTC
Titik