Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"singgah" poems
Cinta bukan melulu soal siapa yang lebih dulu. Yang telah lama singgah bisa jadi sama rapuhnya dengan yang sekedar lalu-lalang. Cinta bukan melulu soal detak jantung yang berdegup kencang, bukan melulu soal pupil yang melebar. Yang telah kehilangan nafasnya bisa jadi yang semenjak dahulu telah menyimpan asa. Cinta bukan melulu soal hukum tawar-menawar. Saat sudah kehabisan apa yang ditawarkan, terkadang cinta dengan naifnya tetap menyambut dengan tangan terbuka. Persetan dengan hukum ekonomi, yang memberi kurang bisa jadi telah memberi seluruh yang mereka miliki. Cinta bukan melulu soal mengabaikan ketidaksempurnaan. Justru cinta menerima seutuhnya, segala kesempurnaan maupun ketidaksempurnaan. Setiap gores dan luka, bukalah mata dan terimalah mereka dengan utuh. Yang terlihat baik bisa jadi membuatmu menutup mata atas keburukan mereka. Cinta bukan melulu soal apa yang terlihat, karena bisa jadi indera kita dibuatnya luluh lantak di hadapannya.
0
Apr 6, 2016
Apr 6, 2016 at 11:13 AM UTC
Cinta Bukan Melulu Soal Cinta
*Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melepas seikat rindu Untuk seseorang berpandangan sayu Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu Seberat langit mendung yang sendu Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan Sembari menanti hentinya rintik hujan Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melekatkan seikat harapan Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri* ------------------------------------------------------------------------------------------- Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah, Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya, Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku, Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu, Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu, Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
ruang tergelap
Terkadang raga ini lelah melangkah Berjalan tanpa tahu pasti kemana Apakah akan singgah sebentar di sudut itu Atau mungkin akan berhenti di pelabuhan timur Malam itu aku tertatih Menahan perih dan luka Tanpa ada satupun yang sadar Dalam hati mengumpat watak manusia yang acuh Namun aku juga manusia Aku.. manusia yang tak akan pernah berhenti belajar Walau harus merajut asa dalam sakit Ditemani oleh temaram lampu kota aku menari Hingga raga ini tak sanggup Dan jiwa ini hilang dibawa angin malam
0
Apr 4, 2016
Apr 4, 2016 at 10:20 AM UTC
Temaram Lampu
sungguhlah rumah adalah tempatku dan aku adalah tempat singgahmu aku tinggal dirumah rumah yang ku ciptakan agar kau bisa terus singgah aku tidak pernah lelah menjadi tempat singgahmu mendengar segala usahamu keluh kesahmu adalah hal yang kusuka saat kamu semak hati aku akan menjadi tempat bernaung membantumu menggapai rasa singgahlah jika sedang risau aku akan bersuka cita menjadi tempat singgahmu pergi lah jika sudah merasa cukup sungguh menunggu adalah hal biasa datang semaumu pergipun begitu aku adalah tempat singgahmu dan aku akan terus menyambutmu dengan meriah
0
Mar 16, 2019
Mar 16, 2019 at 2:11 PM UTC
Tempat Singgah
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
RUMAH
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Continue reading...
36
~a letter for you Kita, Dari daerah melangsir ke kota Dari kota berbalik ke daerah Dan takkan dapat lagi ke kota Lain sebab apa, lain sebab kenapa Kendatipun impresi memberontak kita Kota, Kita ingat tentang kota Kota takkan ingat kita Sebab kita tak miliki tahta Lain sebab apa, lain sebab kenapa Apa daya reminisensi meronta Kota, Kita ingat tentang kota Kawanan sutet di kota kita Menari menawan menara kota Dekorasi dari kita, gradasi ufuk dunia Persuasi para penguasa kota Prasasti Suwarnadwipa, pula Visualisasi ragam abiotik Tuhan Yang Esa Kota, Kita ingat tentang kota Hamparan ladang pabrik di kota Riasan pipa asap terus-menerus menyala, gradasi ufuk dunia Luas menggugah animo di daerah Meski honorarium tak seberapa Kita duga cukup tuk besar di kota Manalagi di daerah Kita, Telah lama tak singgah pada kota Lain sebab apa, lain sebab kenapa Kota kita indah katanya Kota, bilamana kita berjumpa pula? Kita takkan abaikan memori tentang kota Lain sebab apa, lain sebab kenapa Kota kita indah katanya Kota, bilamana kita berjumpa pula? Dari pengagummu di daerah Tuk segenap kenangan kota yang hampa.
0
May 14, 2020
May 14, 2020 at 10:40 AM UTC
KOTA KITA
Aku mengejarmu ke tempat bayanganmu pernah singgah Mencari suaramu di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur Sepi menoreh di tengah keramaian Ketika orang mabuk oleh ilusi, Aku sadar akan ketiadaan Ketika mereka tenggelam dalam lautan cahaya, Aku pudar dalam kelamnya sunyi Mengejarmu ke kota yang telah kau tinggalkan ------- I'm chasing you to the place your shadow once alighted Finding your voice in the midst of cacophony of the city that never sleeps Solitude incised through the crowd People are drunk with illusion Alone I am aware of the void They are drowned in a sea of lights I am fading inside the leaden silence Chasing you to the place you've left behind
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:42 AM UTC
Solivagus
Tubuhmu seperti lukisan abstrak— Tapi aku ingin tetap melihat. Disana, mungkin aku bisa menemukan sesuatu; Sesuatu yang membuatku singgah Seperti memori indah.
0
Oct 30, 2018
Oct 30, 2018 at 1:07 AM UTC
Kamu
hari ini— kuputuskan untuk menghapus namamu dari lembar-lembar buku harian itu berhenti membuat puisi tanpa arti tidak ada lagi intuisi di sini dulu— aku pernah memberimu ruang paling indah dalam hatiku sebuah tempat yang tak pernah kuberi pada lelaki manapun sampai kau datang membawa badai membuatnya luluh lantak hingga tak ada lagi tersisa tempat untukmu aku bisa saja membuat ruang lain untukmu tapi aku tau kau tak akan lagi singgah di dalamnya lagi pula, aku sudah terlanjur berdarah dan aku tak mungkin menyembuhkannya hanya dengan berhenti memikirkanmu jadi, kuputuskan untuk berhenti mencintaimu bukan karena kenangan yang perlahan memudar aku hanya berusaha terlepas dari rasa sakit aku bukannya manyerah aku hanya mencoba bangkit dari ketidakmampuan memilikimu fri, 08/12/17; 04.39am//wib
0
Dec 7, 2017
Dec 7, 2017 at 4:40 PM UTC
Puisi Terakhir
Teruntuk jiwa yang begitu hampa, Cinta dicari untuk mengisi Mengapa luka yang malah ditorehkan? Ku menghela dan bertanya lagi Bagaimana mengisi, Bila yang indah berujung perih? Malam berlarut gelap memudar, Mendalam pikiran yang tak terlelap, Kembali bertanya tentang rasa, Apakah sepi itu nyata? Lembayung langit dikala petang, Menyendiri bukan cara ku, Namun sakit yang pernah singgah, Rasa takut telah tertanam.
0
Apr 28, 2018
Apr 28, 2018 at 3:14 PM UTC
Sendu
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
0
Jun 18, 2019
Jun 18, 2019 at 11:16 AM UTC
Buku Harian Gadis Kecil Berpipi Bulat
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
Continue reading...
58
Dipulangmu tak kan kau temui aku Kau lupa, padaku kau hanya singgah Rumahmu bukan aku Atau kau memang belum punya rumah
0
Oct 21, 2018
Oct 21, 2018 at 1:28 PM UTC
Tempat Singgah
Kemana semalam kalau siangmu penuh peluh? Peraduan mana yang kau singgah kala menunggu Tuhan membalas? Sang racun dunia Sang peracau jiwa Sang penggoyah iman mereka bilang Kendara motor dini hari Pergi dengan siapa ia mau Karena akan terlalu bodoh memikirkan rangkanya Diamlah kalau kau belum tahu rumahnya Diamlah kalau tak tahu mana zakar mana akar Urusanmu selalu tak kalah sepele dari pada urusan Si Jalang
0
Oct 11, 2017
Oct 11, 2017 at 12:09 PM UTC
Si Jalang
Bandung begitu kelabu, dadaku kosong rentang fokus kabur entah kemana ada kacau yang meruang di tubuhku tersisip kicau yang kian gaduh kepalaku terus menerus menimbang mempertanyakan perkara ranah juang bolak balik singgah pada keraguan lalu sebentar mampir pada keyakinan ia, aku, terpicu keras sekali kilas balik membeludak dalam benak beririsan dengan manisnya kenyataan yang juga selalu menjagaku erat aku benci terpicu seperti ini, guru geografi pernah ajarkan ketika panas bertemu dingin, terjadilah puting beliung ada puting beliung yang meruang di tubuhku lalu hembusan nafas mengembalikan sadarku cepat-cepat harus kukerdilkan imajinasi ya Bapa di Sorga, bebaskan aku dari kekang gelisah aku hanya ingin melepaskan apa yang perlu dilepaskan aku lelah mengunci diri dalam kegelapan
0
Mar 2, 2020
Mar 2, 2020 at 1:44 PM UTC
Residu Rasa
Terdengar suara darimu yang tidak ingin aku bahas lagi di cerita ini Media komunikasi yang kubenci Kenapa harus kamu yang aku hubungi Kenapa harus kamu yang menjadi pelabuhanku Kenapa kamu yang harus aku jadikan perhentian Walaupun sementara, bukankah ini terlalu jelas Aku memberi yang lain alasan untuk kembali padamu Walau tidak akan menunggumu lagi Kabar hatimu tidak akan kupertanyakan lagi kali ini Dan kamu memberikan kata sandi Entah untuk masuk ke perasaanmu Atau sekedar tahu keberadaan hatimu Aku juga sudah tidak mau tahu Kamu meminta seseorang untuk sungguh Bukan sekedar singgah Tapi tanpa kamu sadari Yang kamu lakukan selama inikan hanya singgah Aku bukan seseorang itu Aku tahu dengan jelas Karena kamu pun tidak pernah jadi sebuah jawaban
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:38 AM UTC
Kenangan pahit
Semesta, aku sedang senang Mungkin awalnya dia duluan yang senang Tapi dia berikan aku kata dalam suara Bukan sekedar huruf Tapi ini bukan tentang dia yang kamu tau Bukan, bukan dia yang berhasil singgah dihati Masih dia yang menjadi sahabat dalam sepi Dia yang bercerita dalam hujan Seolah suaranya datang bersama angin Tapi anehnya, yang aku rasakan hanya bahagia Tidak ada takut sedikitpun Tidak ada niatan buruk tersirat apalagi tersurat Senyumnya sejuk seolah membawa pelangi Sehabis hujanku reda
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:35 AM UTC
Senyum sejuk
Tak sepeserpun lirih iba singgah Apa yang seadanya, Kabur! Kata batin Persimpangan demi persimpangan Masih kuikatkan Nyatanya, Adakah kita bertukar rasa Atau hanya terperangkap Biarkan aku menari dengan cahaya Erang perihmu Gema tangisamu Menyulam keraguan Palsu palsu palsu Kulihat buram me-muak-kan
0
Sep 20, 2025
Sep 20, 2025 at 1:42 PM UTC
Arah
Datang tanpa diduga Kamu datang memberiku kata Entah ini senang atau sekedar bingung Menanyakan kabar pada hati yang juga ikut dibuat bingung Karena aku juga tak tahu Aku ini pelabuhan; tempatmu singgah sejenak Atau rumah; tempatmu diam menetap Entah perasaan ini harus dibawa kemana Yang jelas kutitipkan pada semesta Malam ini, di bawah kendali perahumu
0
Apr 15, 2019
Apr 15, 2019 at 11:47 AM UTC
Kejutan darimu
Tuhan, bawalah dia pergi dari fikiranku sembuhkan luka di hati ini rawati tapak yang pernah dia singgah.
0
Apr 24, 2022
Apr 24, 2022 at 12:42 AM UTC
-
aku tahu jawabannya tapi jika belum ditanyakan, ada yang mengusik di dalam sana. tadi, aku mengumpulkan tekad–haha terdengar lebay mungkin. izin bertanya kepada si pujaan hati, are you by any chance have a girlfriend? and he said yes. pasti bertanya-tanya darimana aku tahu itu, dia pikir aku tidak melihat semua status di instagram tentang pacarnya. someone said it's very rare for two people liking each other in the same time.. saat ini pesannya belum kubalas, kadang ada rasa kesal karena dia datang saat kesusahan saja. sudah mencoba meninggalkan tapi, susah ya. harus ada pelampiasan tapi tidak mungkin singgah di hati orang untuk melupakan orang lain, itu jahat, menurutku.
0
Apr 15, 2020
Apr 15, 2020 at 10:29 AM UTC
9.30 PM
Bagaimana jika sebenarnya dia tahu? Setiap malam aku bertanya hal yang—tidak penting. Mungkin dia berpikir aku hanya bosan, atau kembali ke kalimat pertama. Konsekuensi yang kudapat akan lebih buruk dari yang kukira, sudahlah. Ingin menyerah tapi sebut saja "Janur kuning belum melengkung" Lagipula, yang datang belum tentu singgah, apalagi tinggal.
0
Apr 12, 2020
Apr 12, 2020 at 10:07 PM UTC
Senin, 13 April 2020