"semenjak" poems
Cinta bukan melulu soal siapa yang lebih dulu. Yang telah lama singgah bisa jadi sama rapuhnya dengan yang sekedar lalu-lalang.
Cinta bukan melulu soal detak jantung yang berdegup kencang, bukan melulu soal pupil yang melebar. Yang telah kehilangan nafasnya bisa jadi yang semenjak dahulu telah menyimpan asa.
Cinta bukan melulu soal hukum tawar-menawar. Saat sudah kehabisan apa yang ditawarkan, terkadang cinta dengan naifnya tetap menyambut dengan tangan terbuka. Persetan dengan hukum ekonomi, yang memberi kurang bisa jadi telah memberi seluruh yang mereka miliki.
Cinta bukan melulu soal mengabaikan ketidaksempurnaan. Justru cinta menerima seutuhnya, segala kesempurnaan maupun ketidaksempurnaan. Setiap gores dan luka, bukalah mata dan terimalah mereka dengan utuh. Yang terlihat baik bisa jadi membuatmu menutup mata atas keburukan mereka.
Cinta bukan melulu soal apa yang terlihat, karena bisa jadi indera kita dibuatnya luluh lantak di hadapannya.
Apr 6, 2016
Apr 6, 2016 at 11:13 AM UTC
sedikit demi sedikit, aku sudah tidak merasakan kamu di cangkir kopiku setiap pagi.
entah rasanya mengapa sangat sangat habar. seakan kamu sudah benar-benar pergi dari sini.
tidak ada yang membuat jantung ini seakan sudah tidak berada di tempatnya lagi ketika mataku menangkap sosokmu.
aku tahu, nantinya memang kamu akan pergi. mencintai pilihanmu yang lebih sempurna dariku.
aku hanya manusia, mi querido. aku bukan dia yang lebih dari manusia normal. dia spesial untukmu. sedangkan aku tidak.
oh, tidak. aku tidak pernah kemana-kemana. aku tidak pergi. aku tetap disini dan menunggu. hanya sepertinya kamu saja yang tidak pernah sadar jika aku disini.
sudah menerka-nerka. semua ini akan berakhir tidak berbalas. semua ini berakhir sia-sia.
tapi apakah kamu tahu?
semenjak kamu bersama dia, aku sangat menikmati hobiku merangkai aksara tentangmu. walau kadang maknamu sudah terasa hambar.
kamu tahu mengapa? karena tangan ini tidak akan pernah mampu meringkuh wajahmu dan mulut ini akan kaku ketika bertatapan denganmu.
aku membiarkan tangan ini menari-nari diatas papan kata dan merangkai karangan tentangmu.
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:09 PM UTC
ini ceritanya jejak si bucin
'dasar bucin !'
'mau mauan aja, bucin !'
'jangan bucin kenapasih !'
salah menyampaikan sayang ?
salah menyuarakan cinta ?
salah mengekspresikan kasih ?
itu semua salah ?
terlebih terhadap pasangan
sana sini memandang, bucin
kenapa ?
berlebihan ?
ya. demi botol nestle kemarin
mungkin berlebihan tapi tidak juga
apakah lebih baik pistol dan pisau daripada bunga dan pita ?
iya saya juga bingung
bucin dianggap remeh
seperti benda yang harus dilepeh
ada apa si dengan bucin ?
makhluk hidup yang mengekspresikan rasanya kan ?
ah tidak tau
tapi semenjak aku bertemu dia
aku tidak apa disebut bucin
karena membuat lengkung di bibirnya
salah satu pencapaian
sudah ya,
pokok pikirannya tidak dapat.
sudah pusing.
hahaha.
salam bucin !
Dec 1, 2018
Dec 1, 2018 at 7:01 AM UTC
Kemana kau tuan,hilang tanpa pesan
Meninggalkan hamba dengan sejuta kerinduan
Boleh hamba mengatakan? Bahwasanya kehilangan tuan,tidak pernah hamba inginkan
Bahkan,sejak kepergian tuan
Hamba masih berdiri disini,mempertahankan,berharap tuan akan merubah arah pijakan
Dan kembali ke sisi di pangkuan
Semenjak tuan pergi,
Desau angin mulai menyepi,
Kicau burung tak terdengar lagi
Berganti dengan sesak nafas hamba,dan suara tangis yang kian menusuk telinga
Hamba masih belum bisa menerima kenyataan,
Bahkan,merelakan tuan pergi saja masih terasa menyakitkan
Jun 21, 2019
Jun 21, 2019 at 1:11 PM UTC
1:50 AM, 29 Oct 2017
dunia kadang suka melucu
entahlah
aku sedang diambang bahagia
bisakah aku sebut diriku sedang bahagia?
ingin rasanya mengecup semesta
merangkul ufuk timur
dan memeluk ufuk barat
selagi memandang eloknya fajar yang berputar
lalu berucap sukur yang sebesar-besarnya
entahlah
semenjak keberadaanmu disisiku
aku
jadi selalu ingin berucap syukur
dengan tulus
dan mendalam
kulihat lagi langit malam
sekarang kuingin meresap kedalamnya
dan ingin berkata
kumohon jangan biarkan dia pergi
ternyata aku memang bahagia
Oct 28, 2017
Oct 28, 2017 at 9:54 PM UTC
Semenjak beliau ditinggal, yang beliau tahu hanya semua lelaki itu brengsek.
Lalu doktrinnya ia lungsurkan padaku.
Apakah aku salah sekedar menuruti kata ibuku sendiri?
Jadi brengsek atau jadi korban si brengsek.
Atau brengsek adalah penyakit genetik?
Oct 13, 2017
Oct 13, 2017 at 6:54 AM UTC
Sukab yang naif dan tidak tahu diri,
aku masih hidup dan terpaksa
melayangkan surat ini kepadamu.
Aku mengelayap, mencari jalan pulang dengan nyawa yang sudah tak menempel di badan. Semenjak air bah tumpah ruah dari atas bukit kapur, nyawaku entah tersangkut di mana.
Mengapa aku masih hidup itu misteri. Mungkin karena cintamu yang sialan itu. Idih, menyatakannya saja membuatku mual dan jijik.
Akibat cintamu, hidupku terselaput kegelapan. Tapi lihatlah, bintang jatuh bertebaran di atas gelombang laut dan bayangannya terpantul-pantul, berbinar dan indah. Aku melihat wajahku dan bola mata yang tampak terang di antara kelegaman malam.
Apakah, akhir-akhir ini, batinmu kalut juga, Sukab?
Pemandangan di samudera membuat manusia menerawang jauh ke masa lalu dan sempurna melemparkan pikiran kepada dekapan kenangan. Persis seperti omong kosong yang kau selalu bicarakan dulu.
Bagaimana tentang akhir hidup? Surga manakah yang sudi menerima kita? Akankah kita kembali atau mengembara lebih jauh lagi? Bisakah kau hitung dan bertaruh dengan dadu tentang nasib?
Aku tidak suka kira-kira,
aku mau jawaban yang pasti.
Jawab aku, Sukab.
Apr 28, 2021
Apr 28, 2021 at 2:57 AM UTC