"semak" poems
Diawali dengan udara pukul setengah empat sore yang hangat dan suasana hati yang sedang bagus, aku melihat perempuan itu berada di tamannya yang berantakan. Ya, berantakan kataku. Tamannya, bukan dirinya. Ia duduk di sana, dengan anggun dan cantiknya membibiti bunga bakung dan menyirami bunga krisan. Di sekelilingnya terdapat semak bunga mawar liar dan pohon pinus tua. Pohon itu berbatang tebal dan tampak kukuh, kini ia duduk menyila di bawahnya, berbincang dengan semak lavender di sebelahnya. Ia tidak gila, tapi tampak penyayang dan sangat lembut. Rambutnya yang berwarna gelap itu diterpa angin senja, di atasnya secerah sinar matahari menyeruak dari balik dedaunan membuat wajahnya tampak berkilau. Lihat bagaimana cara matanya mengerling dan lihat bagaimana caranya tersenyum; manis sekali.
Itu dia, Qinaani.
(Mahesa)
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 1:53 AM UTC
sungguhlah rumah adalah tempatku
dan aku adalah tempat singgahmu
aku tinggal dirumah
rumah yang ku ciptakan
agar kau bisa terus singgah
aku tidak pernah lelah
menjadi tempat singgahmu
mendengar segala usahamu
keluh kesahmu
adalah hal yang kusuka
saat kamu semak hati
aku akan menjadi tempat bernaung
membantumu menggapai rasa
singgahlah jika sedang risau
aku akan bersuka cita menjadi tempat singgahmu
pergi lah jika sudah merasa cukup
sungguh menunggu adalah hal biasa
datang semaumu pergipun begitu
aku adalah tempat singgahmu
dan aku akan terus menyambutmu dengan meriah
Mar 16, 2019
Mar 16, 2019 at 2:11 PM UTC
and so life makes life.
the strange beauty
of pollination.
flowers allowing insects
to mediate, relegate, perpetrate
and consummate their ancient ritual,
their sacred act of reproduction.
A third party multispecies **** of sorts.
But the bees never get off.
still,
truly takes the task a touch further
than the innumerable sea animals
who mate in mass,
whole schools of fish
releasing egg and *****
anonymously
in a surging swarm of ***
generating the next generation.
and so life makes life.
Apr 12, 2010
Apr 12, 2010 at 5:27 AM UTC
Papa sekarang sudah di puncak
Turun kebawah bukan tugasnya.
Mama hanya bisa terseret
Laksanakan tugas seorang pasangan.
Apadayaku yang berada di sini..
dalam, dalam, di bawah tanah.
berteriak jua tak sampai
bisingku tak kuasa menyentuh
Semata-mata mengandalkan kacang;
puluhan bungkus tuk bahagia
Semata-mata mengandalkan air;
puluhan gelas tuk air mata
Mama mengingatkan tuk bersua
Nyatanya bersua itu lemah,
dan anak 16 tahun tidak kuat.
Gaduh, gaduh, gaduh saja bisanya.
Semak pun belukar menjadi-jadi
sebuah bentuk proteksi yang nyata.
Biarkan durinya berfungsi;
bak pedang tuk mereka.
Feb 13, 2015
Feb 13, 2015 at 8:53 AM UTC
Tak perlu pergi ke tengah hutan belantara tak bertuan
Atau tempat semak belukar tumbuh dengan liarnya
Alam bawah laut dimana air udaranya
Untuk merasa kesepian
Coba bercokol di tempatmu berpijak
Satu bulan dan ribuan bintang bertabur layaknya salju di musim dingin
Satu surya dan semburat awan yang bergerak pelan serta tenang
Angin tak lagi mampu menemani
Satu persatu hilang
Orang, cinta, mimpi, juga impian
Betapa inginnya terbangun dari alam bawah sadar yang panjang
Namun takdir tidak dapat diubah
Layaknya kesepianmu yang tidak berubah.
Jun 2, 2018
Jun 2, 2018 at 3:13 AM UTC
Aku tak bisa mencintaimu dengan lemah.
Yang jorok membenci jarak.
Yang kubisa hanya percaya dan menuliskan puisi sebagai tanda;
Bahwa kata kata adalah tentara yang bergerilya, merambat ke semak-semak.
Membekuk musuh-musuh yang belum berhasil menuju pelukanmu.
Aku tak bisa mencintaimu dengan payah.
Yang aku bisa hanya menuliskanmu di jantung puisi
Membuat namamu berdenyut serindu sekali.
May 14, 2018
May 14, 2018 at 4:50 AM UTC