"selanjutnya" poems
Palembang, 28 Juni 2012
Haruskah kita percaya pada mimpi?
Jika sebelum tidur malam tak bersahabat
Arah kanan atau kiri tak berlaku lagi
Dan mata yang tertutup tak benar-benar tidur
Haruskah kita tersenyum ketika bangun di pagi hari?
Mengingat mimpi semalam yang amat indah
Yang membawa harapan
Menjadi pikiran hingga malam selanjutnya
Haruskah kita menggapai mimpi itu?
Mimpi yang samar dan semu
Mimpi, pembawa harapan palsu
Apakah “Raihlah Mimpimu” masih berlaku?
Jul 6, 2012
Jul 6, 2012 at 9:05 PM UTC
Dia yang memberikan irama obrolan begitu hangat di penghujung fajar,
Aku terlarut di dalamnya
Aku meminta lagi irama itu di fajar selanjutnya
Aku adalah oasis yang membantu melepaskan dahaganya,
kala ia berkelana di gurun nan tandus
Namun setelah segar kembali ia menyumbat mata air dengan pasir
Lalu ia berkelana kembali
Tuk mencari oasis selanjutnya, tuk menyumbat yang lain-lainnya
Dia lalu kembali ke jalan berkerikil menuju rumahnya
Dikala ia harus memilih di antara menyimpan kucing yang ia temukan di dalam sebuah peti emas di pinggir jalan
Atau dia akan pergi dengan peti emas dan meninggalkan kucing itu tak bertuan
May 6, 2017
May 6, 2017 at 11:12 AM UTC
rindu itu termometer cinta
semakin panas temperaturnya
tanda dilanda demam ingin bersua
bila tak jua reda
halusinasi gejala selanjutnya
siap siap diopname dalam bangsal duka
dengan infus air mata
Aug 24, 2019
Aug 24, 2019 at 8:59 PM UTC
Mungkin di kehidupan selanjutnya, kita kembali bersua.
Mungkin di kehidupan selanjutnya, kita dapat saling sapa.
Mungkin di kehidupan selanjutnya, kita dapat bicara.
Maybe in another life we will love each other.
Apr 18, 2020
Apr 18, 2020 at 11:24 AM UTC