"sekadar" poems
"Bahwa bukan kesedihan yang nyala
Di ruang mata, melainkan hakikat rela"
(Kisah Soe Harry, 2 - Astrajingga Asmasubrata)
aku datang padamu dengan surah yasin
dan rasa ingin
bertemu yang tak bisa dicukupkan oleh
simpuh sujud
seorang anak yang imannya sedang
runtuh. ayat
demi ayat menjelma percakapan kita
tentang hakikat
hidup dan mati: tentang hidup adalah
seluruhnya ibadah
dan mati adalah nikmat tertinggi. mad
dan waqaf menjelma tempatku berhenti:
tempat aku
meluruhkan air mata saat terbayang
wajahmu yang
tak bisa lagi kupandangi. aku bertanya
seberapa rindukah
tuhan padamu tetapi tak ada jawaban
meski telah aku
cari di setiap lembar yang sebentar lagi
menuju akhir.
aku bertanya akankah kau bangun untuk
sekadar menyapaku
tetapi tak ada jawaban meski aku telah
sampai di ayat
kun fayakun.
Aug 3, 2017
Aug 3, 2017 at 9:47 AM UTC
Ada yang dipanggil rumah,
tapi tak pernah benar-benar menunggu.
Ada yang terlihat hangat,
tapi selalu terasa sendu.
Langkahku pernah menuju ke sana,
dengan hati yang penuh harap.
Tapi pintunya tak pernah benar-benar terbuka,
hanya sekadar celah, cukup untuk masuk, tapi tak untuk tinggal.
Aku pernah menunggu di ambangnya,
bertanya dalam diam,
menunggu kepastian yang tak pernah bernyawa.
Kini aku paham,
tak semua yang nyaman bisa menjadi pulang.
Tak semua yang dekat bisa menjadi tempat menetap.
Dan tak semua yang dicintai, bisa mencintai dengan cara yang sama.
Mar 15, 2025
Mar 15, 2025 at 5:35 AM UTC
Pesan pada hati,
jangan terlalu mengikut,
takut nanti cepat berubah.
Teruskan perjalanan yang separuh itu,
habiskan cerita walaupun lelah.
Mungkin di pengakhiran,
ada kebahagiaan yang menanti.
Datangnya ujian bukan satu bebanan,
tapi satu jalan menuju kejayaan.
Jika mampu, harunginya dengan jaya,
jika tidak, cukuplah sekadar menerima takdir seadanya.
Kau kawan, bantulah aku,
bukan merenung mencari salahku.
Nov 30, 2018
Nov 30, 2018 at 9:10 AM UTC
Burung mengepakkan sayapnya di langit,
padi tumbuh subur bersama,
kelapa melambai sarat buah,
orang berlalu dalam tujuan.
Di awal tahun ini,
kita menanam keindahan,
berharap gema kebaikan tersebar;
Bukan sekadar kebebasan,
tapi menjadikan setiap jiwa
lebih bijak, damai, dan sadar.
Kumimpikan kualitas diri,
antara harap dan asa,
ku evaluasi langkah-langkah,
sebab setiap hari adalah perjuangan.
Para insan berotasi,
sendiri, berdua, atau bersama,
melebarkan sayap, meniti arus,
meneguk manisnya perjalanan.
Hidupkan harap, suburkan asa,
resonansi yang menyejukkan jiwa,
menuntun langkah, meraih mimpi.
Feb 23, 2025
Feb 23, 2025 at 3:30 AM UTC
Jika aku berani lagi,
biarlah langkah ini menuju tempat yang tenang.
Bukan ruang yang penuh tanya,
bukan jalan yang samar arahnya.
Jika aku berani lagi,
biarlah hati ini dipeluk dengan sungguh.
Bukan sekadar disentuh, lalu dibiarkan rapuh.
Bukan sekadar disapa, lalu dilupakan.
Jika aku berani lagi,
semoga hatiku tidak jadi sekadar persinggahan.
Tidak lagi menjadi perahu yang karam,
di laut yang tak pernah berniat menenangkannya.
Jika aku berani lagi,
semoga bukan untuk luka yang sama.
Semoga kali ini, hatiku tidak salah arah.
Mar 15, 2025
Mar 15, 2025 at 5:46 AM UTC
Ketika rindu lebih besar dari lelah,
kau biarkan malam memelukmu lebih lama.
Ketika kecewa lebih tajam dari kantuk,
kau temukan sunyi sebagai pelarian.
Bergadang bukan sekadar menunda pagi,
bukan pula kebiasaan tanpa arti.
Kadang ia jadi obat asmara,
kadang ia jadi ruang paling jujur bagi yang terluka.
Di balik layar, tawa dan kata berpendar,
menghidupkan rindu yang tak bisa dipeluk.
Di balik sepi, air mata jatuh tanpa suara,
melepas kecewa yang tak sempat diungkap.
Malam tak pernah bertanya kenapa,
tapi selalu menerima tanpa syarat.
Mar 7, 2025
Mar 7, 2025 at 1:45 PM UTC