Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"segera" poems
Palembang, 31 Agustus 2014 Aku ingin segera menjadi dewasa Supaya aku bisa menikmati hidup lebih leluasa Minum kopi sambil mengobrol tentang politik dan penguasa Duduk di café menulis novel dan mengambar sketsa Aku ingin segera wisuda Memiliki pekerjaan sendiri yang aku damba Memiliki apartemen sendiri dengan konsep yang aku suka Membeli semua buku yang ku anggap menarik dan membuat sendiri ruang baca Aku ingin segera mengakhiri masa kesendirianku Ku harap aku bisa memilih sendiri pasanganku Seseorang yang selalu setia di saat apapun Seseorang yang bisa ku ajak “gila-gilaan” sepajang waktu Aku ingin segera mengandung Memiliki anak-anak yang manis yang akan ku panggil “sayang” Memanjakan mereka seperti aku dimanjakan bunda Membahagiakan orangtuaku dengan kehadiran mereka Aku ingin Aku ingin mati dikelilingi orang-orang yang ku cinta
0
Aug 31, 2014
Aug 31, 2014 at 10:04 AM UTC
Aku Ingin
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
0
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
Laut punya caranya
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Continue reading...
36
malam ini, si bocah rewel berhenti menyamar pikirannya terlalu gerah jiwanya renta, terkekang tempurung dahi hanya terisi geram kantong kapuk bersaksi atas tangis kelelahan tanpa suara ia sempat doyan bekerja berpayah-payah memunguti kerikil satu demi satu tiap pijakannya bukan tindakan acak menempa diri demi bilangan kini yang tersisa hanya pendar-pendar ambisi & setungku kekosongan menjemukan Ia berkutat pada teka teki yang tersuguh manis mencari pembebasan yang sepadan berharap segera merdeka dari jerat alur yang mengikat keras berlumuran lamunan ia berserah, membakar doa sambil melempar akal 'adakah satu dari seluruh umat manusia yang masih belum paham, kita ini gerombolan wayang bukan dalang!'
0
Apr 7, 2022
Apr 7, 2022 at 12:07 PM UTC
Anjani.
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
0
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
Memamah Bangkai di Halaman
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
Continue reading...
3
tentang melepaskan bervariasi ada yang perlahan lahan ada yang secara kontan! aw! ada yang sepihak ada yang masing masing pihak sepakat ada yang masih meragu ada yang sudah mantap ada juga yang sudah mantap namun pendiriannya runtuh lagi runtuhnya pun akibat hal hal kecil yang manis kalau dinalar pun tidak artinya terlihat bodoh memang bodoh maksudku akhirnya hanya tinggal puing puing bobrok tidak jelas berantakan abu abu menunggu untuk segera diratakan buldozer biar hilang sekalian
0
Jun 15, 2021
Jun 15, 2021 at 9:05 PM UTC
kalo gue sih ya
Hoam....sudah jam 4 pagi Alarm sudah berbunyi Memanggilku untuk segera berdiri Keluar dari hangatnya selimut Hoam....aku masih mengantuk sayang Dan dengarlah suara rintik hujan Dan riuhnya gemuruh diatas Bertanda hujan belum akan usai Hoam....berilah aku beberapa menit lagi Untuk mengumpulkan kekuatan dan kemauan Mengalahkan segala bisikan Untuk tetap tinggal saja dirumah Hoam....baiklah, baiklah Alarm kembali berbunyi Kenapa kau paksa aku pergi Sedangkan tubuhku begitu pedih Untuk mendapat sekucur air dingin Membuka mata lebar-lebar Menggerakkan tangan dan kaki Untuk berkarya dan bekerja kembali
0
Mar 22, 2017
Mar 22, 2017 at 9:12 PM UTC
Pagi yang dingin
Penghujung hari tiba Kau menutup tirai panggung Mengganti naskah dan cerita Siap untuk kau mainkan kembali Penghujung hari tiba Hangat sentuhanmu menguap Kecupanmu memudar Kau rebut kembali rasa yang kau titipkan Namun kitalah kepura-puraan yang sempurna Dua tokoh utama dalam naskah drama Aku cermin pecah yang berkali-kali direkatkan Kaulah sang pandai kaca Malam akan segera berlalu Kau tutup tirai, siapkan panggung baru Rias kembali wajah serta tubuhmu Aku siap melupakan hari semalam
0
Dec 23, 2018
Dec 23, 2018 at 5:20 AM UTC
Kaca Ujung Hari
Ah muncul lagi Lelaki benalu kesayanganku mengendap-endap masuk ke pikiran kosong Di hitamnya langit kutemukan selintas retrospeksi terselip diatara bintang kau dadakan hilang tak 1 pun kata kau anggap perlu kau beberkan mulutmu rapat terkunci mungkin penjelasan itu hanya bisa ditemukan di air luka hatimu yang dalam Sini duduk sebentar biar kupinjamkan sepatu heelsku malah tak perlu kudandani kamu tak perlu busana merah muda mencolok kamu sendiri sadar kamu banci, maksudku pengecut Tak sudi kusebut kamu banci banci saja lebih jantan darimu mereka berani unjuk diri depan dunia gagah gigih tampil beda mencolok meniupkan asap rokok ke muka komentator Ada udang dibalik batu ada busuk dibalik hadirmu kau pergi karena kau anggap tak ada lagi gunaku bagimu kan? Dalam senyum sumingrah kuucap syukur pada Bapa di sorga sebab benalu sepertimu tak pantas ada disini jam pasir telah dibalik segera akan habis waktu permatamu biar gelapnya malam yang menghajar pancaran sinarmu yang menjijikan Lelaki benalu kesayanganku habis digerogoti nafsu keserakahannya
0
Jul 3, 2019
Jul 3, 2019 at 12:30 PM UTC
Banci Saja Lebih Jantan
terjebak dalam difraksi momen menatap segala hirauanmu yang kuanggap sebuah petuah aku berdiri dalam kesunyian diacuhkan dalam situasi yang kuharap segera berlalu
0
Jan 5, 2019
Jan 5, 2019 at 6:24 AM UTC
difraksi momen
Ketika Allah sudah menjadi ilah Kepala terasa penuh Dengan dengki dan amarah Kepada siapa entahlah Berpacu hati dan kepala Kedua bersatu menjadi petaka Bila tidak segera dicegah Bencanalah yang berkuasa Hai...sekalian mahluk Hiduplah rukun dan merunduk Supaya Tuhan yang dipercaya Makin sayang kepada kita
0
Dec 2, 2016
Dec 2, 2016 at 5:26 AM UTC
Nurani
Selamat pagi bu.... Selamat pagi jawabku Perjalananku segera dimulai menembus fajar yang masih galau Lewat mana bu.... Biasa saja pak jawabku Jalan raya yang masih sepi Tetapi aku sudah duduk sendiri Macet bu.... Biasa pak jawabku Tiada ada jalan yang lancar Tiada hari yang tak sukar Lampu merah bu.... Iya pak panjang pula jawabku Berhentilah walau hanya sebentar Melemaskan kaki dan mata yang nanar Sudah sampai bu.... Terimakasih pak jawabku Ku mulai pekerjaan hari ini Dengan harapan dan asa yang baru
0
Oct 31, 2017
Oct 31, 2017 at 11:18 PM UTC
Supirku
sayup sayup 'ding ding' terlihat, saya terkejut segera, saya melaju buru buru 'ding ding' diam, saya kira membisu terpaksa, saya masuk gusti. tadi itu sangatlah manis sudah diperbolehkan, terimakasih.
0
Sep 9, 2019
Sep 9, 2019 at 11:26 AM UTC
sego megono. dekatnya tapi.
Alangkah indahnya cuaca hari ini Keriuhan hampir memadati isi angkutan kota Burung-burung menari di angkasa Kupu-kupu ikut serta di sana Di pertigaan jalan ada polisi Tiang listrik penuh pamflet bertulisan jasa skripsi Pikiranku terus mengembara Jauh tak tahu ke mana Kata ibu bersabarlah, hari esok akan segera tiba
0
Apr 25, 2021
Apr 25, 2021 at 1:04 PM UTC
Teruslah Mengembara
kursi panjang atau sofa panjang? lebih ke kursi panjang deh, tidak empuk soalnya tapi masih nyaman sembari ditemani kamu dan boba dari pagi sampai petang masih betah saja berbicara tetapi kamu teringat kewajiban sudah lewat ashar, hampir magrib lalu segera kamu pamit, takut ketinggalan lalu punggungmu adalah hal yang kulihat terakhir kali terimakasih, dan maaf ya dari aku yang melamun dan menimbun banyak pertanyaan
0
Jul 12, 2020
Jul 12, 2020 at 2:25 PM UTC
bingung
Haiii... sapaan mentari pagi hari Tampak seorang gadis sedang menyoroti secercah kilauan matahari Barangkali ia sedang menghangatkan hatinya yang sempat membeku Langkah demi langkah ia menulusuri jalan  Berharap kebekuan segera terpecah dari dalam dirinya  Seolah mata air mengamini harapnya  Germercik air sungai memecah kebekuan Bagaimana tidak, air itu ikut berisik  Semesta tahu ia adalah gadis periang  Ahhhh gadis, senyummu membangun harap yang sempat mati
0
Oct 2, 2020
Oct 2, 2020 at 11:02 PM UTC
Gadis periang 2
Genggam tanganku malam ini Untuk pertama kalinya Sebelum September beranjak Dan mungkin untuk terakhir kalinya Ceritakan padaku rasa hatimu Karena telah kau kuras habis isi hatiku Tampaknya kau sudah lebih tahu Sesal dan kebodohanku Kugadaikan separuh hatiku Aku mau sedikit tawa, senyum, dan waktumu Tahukah engkau hati terasa lebih berat saat terbelah dua Semoga kau kembalikan nanti padaku September segera berlalu Kenapa tak kau kecup saja bibirku Untuk pertama kalinya Dan mungkin untuk terakhir kalinya
0
Sep 1, 2020
Sep 1, 2020 at 6:05 AM UTC
September
Sudah lama, entah akankah menjelma? Teman kecilku berhamburan Rangkaian aksara yang ku susun buyar perlahan Meninggalkan lembaran putih nan bersih Sungguh malang teman kecilku Tersesat dalam ketidakwarasan waktu Ruang tempatmu bercerita kini sunyi Maka, menangislah segera, agar dapat ku menjumpaimu, agar kembali bergema riuh ruang sunyi itu.
0
Mar 11, 2025
Mar 11, 2025 at 5:06 AM UTC
Misi mencari yang hilang