Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"segalanya" poems
*is there nights still exist.. and helpless cries.. i always remember the part of missing stories... i slept with dry eyes.. as the sun sets in the sky.. my hopes go along with it.. everything’s seem leaden in solemn.. until i’m alone again without you come into my night.. i guess i should be thankful... at least we have one thing in common.. all i think of is you.. and i know that you do the same too.. when moon's climb in the leaden night slowly... i can see your face figure in the stars.. don't you know that  i’m always  thinking of you.. i wish you’d think of me too.. if i wonder how this will work.. when you think of nothing but, yourself,  your poems,  your life and i can’t help but love the way you telling it into the poems.. but maybe this what the fate is.. a twisted series of two soul and mind's fused.. and maybe i’m destined.. to be the victim of my feelings .. but how can i blame the fate..? for something that i have control over... i know you don’t thinking the same as mine.. and i know i’ve fallen too deep into my imagination of your figure.. you have them lined up.. just another notch on your belt.. am i the fool...? am i the one who fell...? but i definitely don't  mind at all.. you twist my yearning around your sincerity... and your lies around my words.. you’re the definition of beauty.. horror, pain, desire  and love... should i run...? should i give up..? sometimes i wish i could just sleep... or  never get  wake up when i was dream of you..* ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈ apakah masih ada bentuk malam itu.. . dan ketidak berdayaan sebuah tangisan... masih teringat aku akan sepenggal kisah yang hilang itu.. saat kuterpulasi dengan mata yang kering.. bak mentari yang tebenam dilangit.. begitupun keinginanku yang melaju turut.. segalanya tampak kelam dan hening.. hiingga aku sendiri tanpa engkau singgahi malamku.. harus kusyukuri.. setidaknya kita memiliki satu kesamaan .. aku mengenangmu  .. dan kutahu bahwa engkau melakukan hal yang sama .. saat rembulan mendaki malam kelam perlahan ... aku dapat melihat gambar wajahmu diantara bintang .. tahukah kamu bahwa aku selalu mengenangmu .. ...... dang... why i should made two ver for my poems anyway.. lol.. just writing...
0
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 10:22 PM UTC
grateful for the blessing
*is there nights still exist.. and helpless cries.. i always remember the part of missing stories... i slept with dry eyes.. as the sun sets in the sky.. my hopes go along with it.. everything’s seem leaden in solemn.. until i’m alone again without you come into my night.. i guess i should be thankful... at least we have one thing in common.. all i think of is you.. and i know that you do the same too.. when moon's climb in the leaden night slowly... i can see your face figure in the stars.. don't you know that  i’m always  thinking of you.. i wish you’d think of me too.. if i wonder how this will work.. when you think of nothing but, yourself,  your poems,  your life and i can’t help but love the way you telling it into the poems.. but maybe this what the fate is.. a twisted series of two soul and mind's fused.. and maybe i’m destined.. to be the victim of my feelings .. but how can i blame the fate..? for something that i have control over... i know you don’t thinking the same as mine.. and i know i’ve fallen too deep into my imagination of your figure.. you have them lined up.. just another notch on your belt.. am i the fool...? am i the one who fell...? but i definitely don't  mind at all.. you twist my yearning around your sincerity... and your lies around my words.. you’re the definition of beauty.. horror, pain, desire  and love... should i run...? should i give up..? sometimes i wish i could just sleep... or  never get  wake up when i was dream of you..* ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈ apakah masih ada bentuk malam itu.. . dan ketidak berdayaan sebuah tangisan... masih teringat aku akan sepenggal kisah yang hilang itu.. saat kuterpulasi dengan mata yang kering.. bak mentari yang tebenam dilangit.. begitupun keinginanku yang melaju turut.. segalanya tampak kelam dan hening.. hiingga aku sendiri tanpa engkau singgahi malamku.. harus kusyukuri.. setidaknya kita memiliki satu kesamaan .. aku mengenangmu  .. dan kutahu bahwa engkau melakukan hal yang sama .. saat rembulan mendaki malam kelam perlahan ... aku dapat melihat gambar wajahmu diantara bintang .. tahukah kamu bahwa aku selalu mengenangmu .. ...... dang... why i should made two ver for my poems anyway.. lol.. just writing...
Continue reading...
58
Palembang, 25 Desember 2011 Ini aku apa adanya Aku yang berbakat Aku yang multi talenta Aku yang serba bisa Aku yang terbaik Ini benar-benar aku apa adanya Berbakat menyakiti hati orang lain Dengan segenap kata-kata pedas yang ku lontarkan Ini aku apa adanya Multi talenta Juara satu mempermalukan orang lain Juara umum membuat orang lain menjauh Inilah aku! Apa adanya Serba bisa membuat orang lain marah Bisa berbohong Bisa mengejek Bisa sok tahu Bisa segalanya. Aku yang terburuk Akulah yang terbaik Terbaik yang mampu membuat teman-teman ku berpaling Terbaik sebagai bahan omongan sedunia Terbaik menjadi bahan ejekan orang -orang
0
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 7:44 AM UTC
Inilah Aku Apa Adanya
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
0
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
Bidadari Fajar
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Continue reading...
6
setiap kota takkan kekal abadi dan yang ada di dalamnya hanyalah penghuni yang kekal selamanya ditemani isi-isi yang tak berisi tiada puisi, tiada seni tanpa arah tanpa erti yang ada hanyalah imbalan dan keuntungan yang berpuing di udara kota yang berlegar di pengairan kota segalanya terasa muram apa bezanya hidup di dalam lohong hitam?
0
Sep 9, 2018
Sep 9, 2018 at 10:49 PM UTC
Balada Indah Terpencil
Palembang, Selasa 29 November 2011 Aku yang selalu menyalahkan diri sendiri atas kesalahan ku Terus menerus berfikir apa pantas tuk mendapatkan itu Bila berdoa saja pun aku selalu bolos Aku yang kata orang tak sadar diri Selalu dan selalu membela diri Memang iya, aku melakukannya sendiri Aku yang sedang-sedang saja Tak pintar, tak menarik pun tak beruang Masih mau bersedekah untuk batin ini juga Aku yang segalanya Segalanya bohong, malas, bodoh Hanya bisa menangis ataupun acuh seperti orang hilang Aku yang masa depannnya suram Tak berani berucap mau jadi apa Kalau mengadu pada-Nya saja aku sungkan Aku yang hidupnya menyedihkan Duduk memangku harapan Menunggu keajaiban Tuhan
0
Nov 29, 2011
Nov 29, 2011 at 7:44 AM UTC
Aku Yang Menunggu Keajaiban Tuhan
Pertengahan tahun aku kenal dia Tepat saat kenaikan kelas 9 Ku berteman dengan nya Hingga kami menjadi sahabat Ku beri dia segalanya Termasuk contekan Saat ada masalah sama guru Aku membelanya Hingga awal bulan tahun kedua Kami terus bersama Seiring waktu berjalan Ku masih baik dengannya Ku selalu menjaga perasaannya Tapi… di pertengahan bulan tahun kedua Aku konflik dengannya Ternyata sahabatku selama ini Seorang munafik yang berkata lebay Ku sedih, ku kecewa, ku marah! Dan ku bersumpah tak ingin mengenalnya lagi SELAMANYA
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:10 AM UTC
CURHAT
Waktu adalah sahabatku Jarak adalah musuhku Bersamamu adalah saat kesukaanku Berjarak denganmu adalah keengananku Terlintas di benak ingin membuat mesin waktu Melintasi waktu Teleportasi menuju duniamu Menghabiskan waktu yang tersisa bersamamu Berbicara segala hal Mendengarkan segala hal Mencintai segala hal tentangmu Bersenggama selamanya denganmu Tuhan telah menurunkan malaikat di hidupku Setiap malam kubisikkan doa-doa ku kepadaNya agar diriku layak Setiap hal di dirimu membuat segalanya sempurna untuk menjadi layak Tuhan, jaga malaikat ini untuk tetap disisiku.
0
Dec 6, 2017
Dec 6, 2017 at 11:56 AM UTC
Ruang lintas.
Malam itu hujan, Entah Tuhan ingin membuatku semakin sedih karena suasana yang mendukung, Atau Tuhan tidak ingin semua mengetahui kalau aku menangis. Malam itu hujan, Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu membuat aku bertanya, Apakah kamu benar-benar orang yang pernah aku sayang dahulu? Apakah kamu benar-benar orang yang selama ini aku perjuangkan? Karena malam itu ketika hujan, Aku seperti tidak mengenal dirimu. Malam itu hujan, Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu tidak lebih hanya membuat aku merasa sakit, Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita baik-baik saja? Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita tidak bertemu kata perpisahan? Tapi tidak dengan malam itu ketika hujan, Kamu bersikap seperti orang asing yang tidak aku kenal, Kamu mendorongku untuk pergi dari kehidupanmu, Kamu itu siapa? Aku yakinkan diriku sekali lagi, Apa kamu benar-benar orang yang selama ini aku sayang? Malam itu hujan, Aku tidak bisa berkutik kecuali meneteskan air mata, Semudah itu untukmu? Ketika selama ini aku bertahan dengan alasan yang mengharuskan diriku untuk pergi, Semudah itu untukmu? Ketika aku harus menahan rindu setiap malam, Bertanya-tanya apakah dirimu baik saja di sana, Semudah itu untukmu? Tapi aku tidak menyalahkan malam itu ketika hujan, Kepergianmu malam itu membuat aku sadar, Kenapa aku terlalu takut untuk pergi sebelumnya, Sedangkan kamu bisa melakukan dengan semudah itu? Pergilah, aku merelakanmu. Pergilah, bawa hujan di malam itu sebagai simbol akhir dari segalanya, Pergilah, jangan pernah kau menoleh ke belakang untuk melihatku, Aku yakin akan baik-baik saja, Walau kini aku masih menangis bersama hujan.
0
Jul 17, 2017
Jul 17, 2017 at 4:38 PM UTC
Hari di mana kau memutuskan untuk pergi.
Malam itu hujan, Entah Tuhan ingin membuatku semakin sedih karena suasana yang mendukung, Atau Tuhan tidak ingin semua mengetahui kalau aku menangis. Malam itu hujan, Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu membuat aku bertanya, Apakah kamu benar-benar orang yang pernah aku sayang dahulu? Apakah kamu benar-benar orang yang selama ini aku perjuangkan? Karena malam itu ketika hujan, Aku seperti tidak mengenal dirimu. Malam itu hujan, Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu tidak lebih hanya membuat aku merasa sakit, Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita baik-baik saja? Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita tidak bertemu kata perpisahan? Tapi tidak dengan malam itu ketika hujan, Kamu bersikap seperti orang asing yang tidak aku kenal, Kamu mendorongku untuk pergi dari kehidupanmu, Kamu itu siapa? Aku yakinkan diriku sekali lagi, Apa kamu benar-benar orang yang selama ini aku sayang? Malam itu hujan, Aku tidak bisa berkutik kecuali meneteskan air mata, Semudah itu untukmu? Ketika selama ini aku bertahan dengan alasan yang mengharuskan diriku untuk pergi, Semudah itu untukmu? Ketika aku harus menahan rindu setiap malam, Bertanya-tanya apakah dirimu baik saja di sana, Semudah itu untukmu? Tapi aku tidak menyalahkan malam itu ketika hujan, Kepergianmu malam itu membuat aku sadar, Kenapa aku terlalu takut untuk pergi sebelumnya, Sedangkan kamu bisa melakukan dengan semudah itu? Pergilah, aku merelakanmu. Pergilah, bawa hujan di malam itu sebagai simbol akhir dari segalanya, Pergilah, jangan pernah kau menoleh ke belakang untuk melihatku, Aku yakin akan baik-baik saja, Walau kini aku masih menangis bersama hujan.
Continue reading...
36
Angin berbisik berita, Cerita satu baris kata, Disini berakhir segalanya, Senyum mu, Gelak tawa mu, Sedih dan Amarah Menghempas bumi, Kini tinggal di masa lalu, Luka yang telah mati, Tidak kembali berdarah, Coretan di hati ini, Kekal sebagai parut sesal, Kesilapan aku mencipta memori, Pada khayalan yang tidak pasti. Wahai dunia yang mengkhianati, Seandai aku tidak berdaya lagi, Izinkan teladan ini menjadi nukilan, Pada jalan yg tidak dijulang.
0
Mar 26, 2024
Mar 26, 2024 at 11:41 PM UTC
Luka
Satu, Aku harap kau mengerti mengapa argumen-argumen kita tidak dapat mengalahkan ego ku untuk terus bertahan bersamamu. Dua, Aku harap, kau pun juga mengerti bahwa semua yang aku lakukan tidak sedikitpun bertuju untuk menyakiti hati mu. Tiga, Aku sangat berharap kau mengerti, rasa yang lebih dari sepasang sahabat akan merusak segalanya. Kini kau lihat, bukan? Aku kehilangan cintaku, begitu pula sahabatku.
0
Mar 13, 2018
Mar 13, 2018 at 3:17 AM UTC
Barisan kata untuk sahabatku.
Kutarik secarik kertas putih Kutumpahkan tinta hitam Kutulis namamu Kuceritakan segalanya Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong Hingga menjadi sebuah kupu-kupu Terbang melintas dunia Berakhir dengan kematian Tetes demi tetes tinta Menyusun kata per kata Membentuk sebuah kalimat yang ramai Mewakilkan mulutku yang membisu Untuk siapa kubuat tulisan ini? Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat Putih suci ditimpah hitam penuh dosa Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. " Jemari bergerak melipat surat itu Berbentuk perahu Perahu kertas. Raga berjalan ke tepi laut Seakan jiwa yang menggerakkan Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa Tangan melepaskan surat itu Perahu kertas, Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu Berlabuhlah di neraka Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
0
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Perahu Kertas.
Kadang jarak membuat cinta merekah Kadang pula membuat lupa Tentang kepada siapa cinta itu bersandar Dan apa perasaan itu sendiri Segalanya itu memiliki batas Kau membutuhkan jarak untuk saling menghargai Pun untuk saling rindu
0
May 31, 2018
May 31, 2018 at 11:18 AM UTC
Ruang Senggang
Pelipur dalam kesedihan Penyejuk dalam kehausan Arah menuju tujuan Sumber kebahagiaan Ibu, Engkaulah segalanya
0
Jul 20, 2019
Jul 20, 2019 at 12:40 PM UTC
Ibu
Nama mu terukir sangat indah Kebahagiaan yang tiada dua Kisah kita memang baru sebentar Namun hatimu ingin beranjak Tanya hatimu, Sebelum engkau pergi Masihkah diriku menghuni didalamnya? Terlalu rapuh untuk tersandar dan menerima Diriku memang tidak mendekati sempurna Aku... Gagal... Membahagiakan mu Diriku tak pernah berhenti mencoba Aku... Tidak... Layak Sebelum kau memilih untuk pergi Aku tak pernah lelah menanti Nama mu yang selalu ada di setiap doa Aku akan merindukanmu Terima kasih untuk segalanya.
0
Dec 8, 2017
Dec 8, 2017 at 5:44 AM UTC
Aku Tidak Sempurna.
Hey buddy Engkau yang tak pernah mungkin kembali Kau yang membuatku terjebak dalam sebuah ironi Kita dihadapkan dengan sebuah hukum pasti Semua yang terlahir pasti akan mati Pada masanya 10 tahun penuh makna Bersamamu ku dapat melihat indahnya dunia Ya, indahnya dunia Walaupun sekarang engkau sudah di alam baka Dan sosokmu hanya tergambar dalam sebuah berkas kamera Kehadiranmu kala itu bak seberkas cahaya Yang membuatku tetap ingin bertahan di tengah ketidakadilan dan penindasan yg bermakna Di saat aku tidak bisa lagi melihat sisi baik 'manusia' Ketika aku pulang dari kandang ilmu dengan penuh tangisan Seakan engkau menanyakan 'apa yg sedang terjadi?' Ketika aku hanya ingin berhenti Berhenti dari segalanya Bahkan untuk sekedar bersinggungan dengan udara Engkau seakan tak rela Aku tak pernah ingin mengulang waktu Walaupun itu bersamamu Waktu yang begitu berat bagi hidupku Waktu yang membuat semua yg kucita-citakan seakan tabu Waktu yang telah membentukku sebagai sosok pemalu Malu dalam segala hal Bahkan terlalu malu hanya untuk sekedar mengatakan 'aku' Aku hanya ingin menambah waktuku bersamamu Agar aku bisa membagi kisahku denganmu Aku yang sudah bisa pergi jauh Yang sudah banyak mengenal Medan baru Yang sedikit banyak telah mendapat penerimaan waktu Dulu, saat aku jatuh Engkau selalu ada didekatku Dengan untaian kata motivasi dan semangat alamu Tapi, di usia rentamu Aku terlalu peduli dengan sibukku Hingga ku lupa hanya sekedar menyapa keadaanmu Entah apa yg ada dipikirku Sungguh egois memang Tapi, apa mau dikata Semua telah tertulis rapi dicatatan-Nya Aku hanya bisa menjalankan Dengan tetap menjagamu dalam lamunan
0
Jan 4, 2019
Jan 4, 2019 at 10:20 PM UTC
Memori
Hey buddy Engkau yang tak pernah mungkin kembali Kau yang membuatku terjebak dalam sebuah ironi Kita dihadapkan dengan sebuah hukum pasti Semua yang terlahir pasti akan mati Pada masanya 10 tahun penuh makna Bersamamu ku dapat melihat indahnya dunia Ya, indahnya dunia Walaupun sekarang engkau sudah di alam baka Dan sosokmu hanya tergambar dalam sebuah berkas kamera Kehadiranmu kala itu bak seberkas cahaya Yang membuatku tetap ingin bertahan di tengah ketidakadilan dan penindasan yg bermakna Di saat aku tidak bisa lagi melihat sisi baik 'manusia' Ketika aku pulang dari kandang ilmu dengan penuh tangisan Seakan engkau menanyakan 'apa yg sedang terjadi?' Ketika aku hanya ingin berhenti Berhenti dari segalanya Bahkan untuk sekedar bersinggungan dengan udara Engkau seakan tak rela Aku tak pernah ingin mengulang waktu Walaupun itu bersamamu Waktu yang begitu berat bagi hidupku Waktu yang membuat semua yg kucita-citakan seakan tabu Waktu yang telah membentukku sebagai sosok pemalu Malu dalam segala hal Bahkan terlalu malu hanya untuk sekedar mengatakan 'aku' Aku hanya ingin menambah waktuku bersamamu Agar aku bisa membagi kisahku denganmu Aku yang sudah bisa pergi jauh Yang sudah banyak mengenal Medan baru Yang sedikit banyak telah mendapat penerimaan waktu Dulu, saat aku jatuh Engkau selalu ada didekatku Dengan untaian kata motivasi dan semangat alamu Tapi, di usia rentamu Aku terlalu peduli dengan sibukku Hingga ku lupa hanya sekedar menyapa keadaanmu Entah apa yg ada dipikirku Sungguh egois memang Tapi, apa mau dikata Semua telah tertulis rapi dicatatan-Nya Aku hanya bisa menjalankan Dengan tetap menjagamu dalam lamunan
Continue reading...
44
Malam ini terasa dingin Sedingin pandangmu terhadap aku Namun itu kata orang Tapi aku tak merasa Yang terpenting atas segalanya Adalah kamu selalu dalam jarak pandangku Jika tidak aku mati Padahal kamu tak memandangku Walau tak ada yang istimewa Bagiku kamulah keistimewaan
0
Mar 20, 2017
Mar 20, 2017 at 11:32 PM UTC
Selalu Dalam Jarak Pandangku
Pengenalan itu satu pengajaran pemastautin dalam satu perubahan tanpa pengenalan segalanya tak berpermulaan.
0
Sep 9, 2018
Sep 9, 2018 at 10:48 PM UTC
Pengenalan
teruntuk bulan Juli, walaupun aku selalu membenci hujan dan bagaimana air turun dari langit, bagaimana hujan menghancurkan segala hari-hariku dan lembab tanah yang mengganggu, dan yang pada akhirnya bulan Juli, mataharimu bersinar cerah, dan saking teriknya, panasmu menusuk jiwa bagaikan aku tidak siap untuk segalanya, aku jatuh sendirian dan sejujurnya, naif. aku rindu, langit gelap dan aroma basah tanah saat air hujan turun, aku rindu, kamu memegang tangan eratku pada tengah hujan di kota itu teruntuk bulan Juli, maukah kamu untuk terakhir kali menjatuhkan hujan dari langitmu itu? bukan, bukan untuk mengenang hal indah, tidak, tidak, untuk apalagi? hujan di bulan Juli, aku mohon, hanya untuk membasuh semua luka sakit.
0
Jul 11, 2019
Jul 11, 2019 at 12:40 PM UTC
hujan di bulan Juli
Hening, pikirku Aku sendiri di kerinduan malam Bunyi kota malang melintang di pikiranku Suara penyanyi jalanan memecah sunyi Hening, pikirku Aku sendiri di gelapnya ibu kota Bunyi senyap pedagang memekik di telingaku Suara hentakan kaki berirama melawan arus Hening, kataku Aku sendiri tanpa arah Bunyi dentuman keras degup jantungku dan Suara muramnya hatiku memenuhi pikiran Hening, ku terdiam Bisingnya ibu kota malam ini Itu semua untuk mengitung harapan Seberapa besar kesempatanku untuk bersamamu Sampai aku mengabaikan gemilangnya malam ini Sampai aku melupakan kesempatan lainya Bising, aku tersadar
0
Aug 7, 2017
Aug 7, 2017 at 9:35 AM UTC
Pemuda itu Mengabaikan Segalanya untuk Sesuatu yang Fana
Katanya aku berani suatu masa pernah kuikuti bela diri tetapi dibilang seperti lelaki sedikit sulit untuk merelakan ucapan lewati kuping kiri padahal seringkali harus kulakukan segalanya sendiri kadang pernah berandai punyai saudara atau saudari Ya, aku tahu itu cuma mimpi Kusyukuri saja dan nikmati Katanya lagi pasti semuanya dituruti tidak seperti yg dipikiri terkadang kucicipi sunyi namun ada yang lebih sepi toh nantipun disana* juga sendiri bila boleh meminta..jangan pernah pergi, pelangi bila jujur tak bisa ku sendiri ajariku tuk lebih dewasa lagì dengan warnamu ku pelajari bahwa hidup miliki arti
0
Nov 6, 2019
Nov 6, 2019 at 9:47 AM UTC
Kepada diri
Hembusan angin menderu rayu, Tak henti aku mendengar cerita tentang bagaimana kau sangat mencintai hidupmu, Bagaimana kau selalu melihat kebaikan dalam segala keburukan. Bagaimana kau selalu memaafkan dalam segala kecerobohan. Sial, bagaimana ada orang seperti kamu hadir di dunia? Tidak pernah mengkhawatirkan tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi, Tidak seperti aku. Kembali aku menoleh ke matamu, Yang katanya bintang pun tidak bisa bersinar se terang itu. Ku pertajam lagi tatapku, Meyakinkan diri bahwa bintang pasti menang, Dia pasti menang atas dirimu. Sial, aku salah lagi. Kamu menang atas segalanya. Termasuk atas diriku.
0
Sep 24, 2019
Sep 24, 2019 at 3:27 PM UTC
Kamu.
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam. - yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam. - perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu. - mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan. - dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara. - menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya. - sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir. - bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari. prdks.
0
Apr 2, 2018
Apr 2, 2018 at 9:10 PM UTC
sajaksajakrasa
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam. - yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam. - perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu. - mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan. - dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara. - menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya. - sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir. - bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari. prdks.
Continue reading...
9
apa daya diriku yg sedang merindu, dengan bising nya malam yang mendebu, seolah segalanya ingin bertemu, dengan rasa yang telah di tunggu. -Mhnt.r
0
Jul 6, 2018
Jul 6, 2018 at 3:50 AM UTC
merindu;
Tulisan tanganmu Surat darimu Membuat ku terbangun dari mimpi indah yang panjang Kutarik simetris bibir ini Tak sanggup Ketika kucoba menampakkan raut bahagia Tak bisa Hati ini terus menjerit Menangisi segalanya Menerjang batas logika Emosi seorang wanita
0
Jan 5, 2017
Jan 5, 2017 at 3:00 PM UTC
RASA