"satpam" poems
Jemari mulai gemulai
Dikala ia mulai melambai
Bahasa tubuhku tidak diragukan lagi
Lika likunya sudah tertebak dari haluan pertama bapak satpam
Dia mulai menyapa
Aku teriak keras
hatiku yang teriak
Hawa panas tubuh beriringan membara bersama
Peluh terbawa jatuh dipipi
bisa bayangkan, bagaimana wujudku waktu itu....
Kini, segala fana itu harus di nikmati, entah menarik, suram, dan basi
Aku pikir, kapan lagi akan bertemu dan beradu argument sedekat itu
Kapan lagi berdialog serius dengan elokan tubuh cukup dekat
Kapan lagi aku bisa pandangi wajahnya 4 cm lebih dekat dengannya....
Jadi kupikir, aku harus syukuri, jika nanti tak bisa lagi. Yasudah ku kenang saja....
Nanti senja jadi pelengkap saat mulai mengenang moment itu, sudah ku jadwalkan
Apr 14, 2018
Apr 14, 2018 at 5:25 AM UTC
ingin kuhancurkan diriku yang lalu
ingin kuhardik lulu yang kemarin
ingin kumaki kelakuanku dulu
berfoto di kamar kuning
memegang kue tar
diberi kaus kaki telur dan pisang
gelang merah dan tosca
masih kaku
tapi senang
lain dengan sekarang
rambutku tidak karuan
mataku seperti dihajar satpam
bagbigbug karena keadaan
malunya, di rumah cindy
aku nangis di rumah cindy
May 22, 2021
May 22, 2021 at 5:28 AM UTC