"ragaku" poems
Palembang, 21 September 2012
Jika cinta adalah air,
maka kamulah dahagaku
Jika cinta adalah padi,
maka kamulah lapar ku
Jika cinta adalah rumah,
maka kamulah tujuanku
Jika cinta adalah hati,
maka kamulah sakitku
Jika cinta adalah hidup,
maka kamulah matiku
Jika cinta adalah waktu,
maka kamulah hidupku
Jika cinta adalah jiwa,
maka kamulah ragaku
Jika cinta adalah kekuatan,
maka kamulah lemah ku
Jika cinta adalah masa tua,
maka kamulah sehat ku
Jika cinta adalah kesalahan,
maka kamulah sempurnaku
Jika cinta adalah perpisahan,
maka kamulah lahirku
Jika cinta adalah kamu,
maka itulah kesalahan terbesarku
Sep 21, 2012
Sep 21, 2012 at 7:31 AM UTC
Jumat, 27 Agustus 2010
Satu lagi momen tak terelakkan
Aku jatuh cinta lagi
Lebih dari seorang kali ini
Tak bisa aku memilih
Hanya bisa menjalani hingga henti
Menguap rasanya hatiku
Hingga kini ku tak mampu berdiri
Hanya terpaku dan terlarut dalam lamunan
Yang begitu tinggi dan tak pantas ku lamuni
Kini ragaku mulai mencair
Sedikit demi sedikit mulai bercerai
Mengarah sendiri tanpa tujuan
Meninggalkan jiwaku yang tersiksa
Jiwa ku sakit... sakit...
Ragaku lenyap, perih, perih
Datanglah... Sembuhkanlah...
Ku mohon, Ku tak mampu hidup sendiri
Created by. Aridea .P
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:53 PM UTC
Jakarta, Senin 20 Oktonber 2008
Malam ini aku bersedih
Aku menangis, aku berfikir
Agar waktu menunggu
Hingga aku mulai tenang
Cobaan hidup datang
Melumuri ragaku
Hingga terasa lumpuh
Tak berdaya bagai mati
Ku tunggu hujan bunga
Yang harum bebaskan raga
Mungkinkah aku bisa sabar?
Jika petir tetap menyambar
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:27 AM UTC
Jakarta, 31 Mei 2008
Alunan piano mengarungi ku
Melantunkan ayat-ayat indah
Penuh harap atas ridho-Nya
Enggan berbuat yang tak sempurna
Ragaku gemetar, Serasa
Aku mulai menyentuh-Nya
Padahal ku tekan tuts-tuts nada
Alangkah terkejut saat kau berkata
Laksana Tuan menasehati Hamba-Nya
Enggan berbuat tak sempurna
Music terus ku mainkan
Bagaikan hidup yang kekal
Akankah sekekal masa?
Niscahya indah hidup di Surga
Gembira rasa hati hidup bahagia
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:35 AM UTC
Jakarta, 22 Mei 2008
Ku tuliskan apa yang ku rasakan
Jantungku berdebar kencang
Nadiku bergetar kuat
Darah ku mengalir deras
Ku gambarkan apa yang kurasakan
Aku teriak keras
Aku mengacak semua
Aku menangis kencang
Ragaku tegang
Mataku kantuk
Suasana seram
Begitu malam gelap
Larut sudah ku tonton
Cerita hantu bertaruh nyawa
Ya, meski hanya sebuah cerita
Namun ini karya mereka
Yang harus dihargai
Ada pun senang melihatnya
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:40 AM UTC
berawal dari waktu
memaksaku menyeret kakiku
melangkah gontai sambil pergi
aku merengek, terisak !
dan mengadu pada-Nya
tunggu ini secepat aku berkedip barusaja
ya, dulu memang aku kecil
nyaliku memang masih payah
masih terjerat pada keduanya
bahkan sekarangpun..
keduanya ingin aku yang terbaik
aku tak tahu yang dirasa mereka
tapi aku sendiri berontak
menyalahkan waktu yang jelas tak akan berhenti
aku kutuk waktu
mengapa begitu kilat
ragaku masih ingin tetap dirumah
tunggu, sejenak aku merasa keliru
bukankah ini baik
aku juga ingin membuat keduanya senang
mimpi harus coba kupanjat
tangga itu sudah dihadapanku
aku termasuk yang beruntung
bersyukurlah!
batinku melerai
aku meyakinkan diriku sekuat tenaga
"ini bukan rumahku" gertakku
saat aku tiba ditempat asing itu
akupun terpaksa tinggal
demi pengetahuan yang ingin kuraup
iya, jika belum paham akan kujelaskan
aku seorang mahasiswa sekarang
predikat yang melekat padaku kini
berat..
pandangan semuanya akan berbeda terhadapku
sungguh aku menemui teman baik
berjuang sama sama, namun tetap harus sendiri
aku menarik nafas..
waktuku kini juga telah memaksaku
rasanya pagi sudah menjadi sore
agaknya aku harus selesaikan hariku
mengerjakan tugas akhirku disana...
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:28 PM UTC
dia berusaha meyakinkan aku salah
dia mencintai apapun yang kulakukan
mau itu benar atau salah―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai setiap inci sayatan di lenganku
mau itu masih berbekas atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai seluruh buah ide di benakku
mau itu akan berhasil atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai seluruh jiwa ragaku
mau itu penuh dengan luka atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai keadaan fisik dan mentalku
mau itu sempurna atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dan dari sekian lama aku hidup
tidak pernah merasa seyakin ini sebelumnya
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 10:08 AM UTC
Rasanya tubuhku seperti ditikam jutaan kali
Ragaku,perlahan mati
Rasaku hancur tak bertepi
Dan kau si bajingan,yang ku dambakan
Yang selalu ku beri pujian
Yang detik ini masih pertahankan
Tapi malah membunuh ku secara perlahan
Aku benci hadirmu yang selalu membayangi diri
Disaat ku mulai melangkah kan kaki
Sejauh mungkin, melupakan kau
Dan rasa kita yang perlahan mati
Tolong,untuk kali ini
Jadilah bajingan yang sedikit punya rasa baik hati
Bantu sedikit aku memulihkan raga ini
Bantu aku sedikit percaya diri
Bahwa kau memang sudah sepantasnya tak di sisi
Pergilah jauh dan tak perlu lagi kau kembali disini
Rasaku sudah mati
Sejak kau memilih berlalu pergi
Aku benci
Tapi aku mencintai
Jun 9, 2019
Jun 9, 2019 at 11:09 AM UTC
memang aku tak pantas
aku bukan yang bisa dimiliki
memiliki pasangan jiwa yang bisa
yang mampu..
selalu kuingat kamu
malam ini yang penuh dengan hati gegana..
aku sekarang percaya
kamu adalah bisa..
berbohong bukanlah pilihanku
hati ini berteriak seolah berkata
..bahwa memang tidak ada yang layak
setelah setahun berlalu sudah kulihat yang ada..
tidak ada dan tidak ada
aku tak mengerti mengapa hati ini terus berteriak..
seolah tidak ingin tidak ada kamu disini
hati memang membutuhkanmu
hati memang tidak bisa menolak
..karena hanya kamu yang mampu berjalan hingga kiamat nanti
dan hanya dirimu yang mampu menyakiti jiwa dan ragaku
takkan ada yang bisa
takkan pernah.
Oct 7, 2016
Oct 7, 2016 at 2:27 PM UTC
tuan menjejak
nona mendongak
'apa?' Nona bertanya
nafas tuan dihela
'tidak apa-apa'
'nona, sudah berapa lama kau disini?'
nona berdiri
mengintip dari balik dinding
'cukup lama. yang jelas, aku sendiri'
tuan tersenyum
nona berubah ranum
dinding perantara, runtuh
'sampai nanti, nona'
'sampai mati, tuan'
sekatmu, dekatku
jarakmu, ragaku
tawamu, tangisku
gelakmu, senduku
'hendak kemana tuan?'
menoleh pun enggan
nona tertahan
nona kembali bertatapan
dengan puing-puing dinding yang berserakan
Aug 4, 2018
Aug 4, 2018 at 10:51 AM UTC
nyatanya, sampai kini kau merasa aku sudah pulih,
namun tuanku sayang,
aku belum cukup kuat untuk melangkah,
ragaku masih tertatih meraba jalan pulang,
masih terasa sesak luka yang kau buat.
apa kau mengerti, anak cucu adampun akan merintih bila disakiti.
bukan, bukanku menyalahkanmu.
hanya saja aku yang terlalu terbuai.
menggantungkan seluruh hidup dan matiku padamu,
tanpa pernah terpikir olehku,
bahwa kaupun tidak mungkin menggantungkannya padaku seorang.
jika menurutmu aku baik-baik saja,
ya, kau benar, aku baik-baik saja.
setidaknya sampai aku besar nyali untuk mengutarakannya di depan wajah tak bersalahmu.
kau tak benar-benar tahu, sayang.
tapi, ah sudahlah!
semoga Tuhan menggenggam luka kita kuat-kuat.
Mar 20, 2017
Mar 20, 2017 at 2:01 PM UTC
jalan terbaik untuk menempuh sebuah kenyataan,
smoga anugrah illahi yang menentukan
dunia pasti berputar hnya menanti sebuah keajaiban
Sep 14, 2013
Sep 14, 2013 at 3:59 AM UTC
Tawa renyahmu di sela-sela bisikan lembut
Menghangatkan malam yang dingin
Ingin kumiliki sepasang sayap di belakang pundakku
Agar bisa kubawa tubuhku ke hadapanmu, kapanpun kau katakan rindu
Kupasrahkan seluruh ragaku atas senyummu yang menyihir
Kurelakan setiap jengkal kata yang kuucapkan,
setiap detik yang kulewatkan,
setiap nafas yang kuhembuskan,
setiap detak dari jantungku,
Untuk kau kuasai
Malam-malam yang membelaiku dengan lembut
Memberiku alasan untuk terlelap dengan nyaman
Namun kau datang meretas mimpiku
Suaramu selembut angin memetik dedaunan musim gugur,
menggema dalam kepalaku
Senyummu semanis madu mengaliri relung-relung hatiku
Sentuhanmu sedahsyat guntur menggelegar
Memaksaku terbangun seketika dan menyadari
Kaulah mimpi yang tak ingin kusudahi
Kau menumbuhkan taman bunga di tengah padang pasirku
Kau memaksa bulan muncul di saat pagi hariku
Kau memutar badai pada lautku yang tenang
Kau memancing senyum saat hari-hari kelam
Kau bara apiku yang terus meradang
Kau kicau merdu yang menyambut sejuknya pagi
Kau bintang-bintang yang menutup dinginnya malam
Kau cinta yang mengisi hatiku hingga memerah
Aug 28, 2018
Aug 28, 2018 at 9:26 AM UTC
bara tubuhku
satu nafas, tikaman di perut
tapi bukan dari luar
bukan dari luar
cairan menjelma jadi belati
satu tegukan ramuan rempah sakti
rimpang agung warisan bumi pertiwi
jemari kuning si mbok hadir membukti
hangat jamu kuning pekat nan wangi
meresap, dinding terkikis
rasanya jantung diri digenggam keji
kini terlepas dari ragaku
sebegini ampuhnya
hingga ia menyerah luruh
sewaktu-waktu berdalih biasa saja
itu hanya gumpalan darah biasa
tidak ada yamg mengambil jiwa secara paksa
maklumkanlah
tubuhnya saja belum terbentuk sempurna
itu hanya gumpalan darah biasa
Sep 24, 2019
Sep 24, 2019 at 12:13 PM UTC
✫ · + . ✵
.
· .•°•Trepidation•°•.
. ˚ *
. . ⋆ * ˚
. ⊹
Bunga-bunga menjauh dari jalanku
Membiarkanku seakan kehilangan ragaku
Duri menghiasi setiap jalan
Sinar matahari memudar di sela-sela dedaunan
Burung-burung merintih dalam pedih
Biarlah ketakutan mengambil kesempatanku
Kesempatan untuk kembali ke jalanku
Jalan yang tak mungkin kutemui lagi
Di kegelapan aku mencoba menyisir cahaya
Menyisir cahaya dan kudapati rontokan bintang
Aku takut..
Aku takut pada malam
Malam yang semakin pekat
Kemana aku akan berlari?
Lututku berdarah menapaki jalan tanpa arah
Semua ini tampak seperti ilusi bagiku
Menemukan jalan yang benar adalah delusi
Tak ada rasa sakit, tak ada kesenangan
Namun kesenangan itu hanyalah angan-angan
Aku tak ingin menyerah
Walau kurasa hatiku berdarah
Bila dunia ini berhenti
Siapapun takkan bisa mengunciku lagi
Selamatkan aku...
Keluarkan aku dari sini
Seperti apa akhir dari jalan ini?
Aku takut...
Keluarkan aku dari sini
Ku mohon peganglah tanganku
Di dalam hatimu, di dalam mimpimu
Bangunkanlah kembali bintang-bintang
-Kediri, 17 Maret 2018
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:23 PM UTC
lepas amarahku
buyar ragaku
semua kuhantam
bagai buku kubaca hatam
kaki menggigil
bibir pucat
apapun yang ku ambil
akan ku catat
lubang besar dadaku
tembus hingga ke pungung
apa yang datang padaku
semua ku tangung
kelakuanmu
membuat pikiranku buntu
aku dapat apa yang ku mau
tapi bukan yang ku butuh
memaafkan mu
bukan perkara besar bagiku
akan ku bayar dengan ragaku
melawan laki-lakimu? hal yang paling mudah di hidupku...
Mar 23, 2022
Mar 23, 2022 at 12:31 PM UTC