Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"pohon" poems
Hidup dengan segala problematikanya sejenak senang sejenak tenang sejenak buram sejenak suram Matahari bawaku cahaya Tapi aku kepanasan Hijab bawaku perlindungan Tapi aku tertutup Pohon bawaku udara Tapi aku tumbangkan untuk wi-fi Ini baik tapi ini buruk. Lalu hadir kerutan ditengah keningku Melengkapi lipatan hitam mata ini Hasil semua akar-akar pikiran Bola matapun sekarang berfilter Kuingat mawar pemberiannya Gambar persembahan mereka Seluruh tumpahan merah muda itu Tapi tetap saja kabut dari belakang datang Ia bersembunyi hanya tuk muncul kembali - - - Mengapa begini? Terlalu banyak tapi Mengindahkan kebingungan Terbawa kelelahan
0
Nov 10, 2014
Nov 10, 2014 at 6:58 AM UTC
Kontradiksi
dari awal memang aku hanya kertas kosong bagimu tak bisa digambar, tak bisa ditulis yang terlupakan, yang tertinggal yang terbuang, tak berharga meski ku coba tuk tulis sendiri kau hapus begitu saja, dan kau buang nama ku tak pernah kau sebut mungkin karena kau lupa mungkin karena kau tak suka aku Erikaa kau bisa panggil ku apa saja sesukamu tapi jangan, jangan kau tak menyapaku ku baca statusmu diam-diam, dari akun temanku, teman baikku kau benar suka dia? haha tentu saja! kau kembali ke kampung halaman, besoknya kau pergi lagi menjemputnya oh betapa beruntungnya dia dicintai malaikat sepertimu jika kau menikah, apa ada kau akan mengingatku? mengingat kekonyolanku? menertawai kebodohanku? kini semuanya ku buang, semua tentangmu senyummu, candamu, tapi ku mohon, izinkan aku menyimpan foto-foto mu bukan foto dirimu, tapi foto mu, pohon, jalanan, Samudera Atlantik, yang kau foto No! Akan ku hapus semua! Terima kasih tuk selama ini. Kau tlah berikan 0.5% cinta mu padaku Terima kasih telah 99.5% membenciku sehingga aku sadar akan kedudukanku Terima kasih sudah 100% mencintai dia aku yakin kau takkan menyakitinya ""Selamat G----- F--------- F-------- Semoga kamu BAHAGIA""
0
Sep 24, 2012
Sep 24, 2012 at 11:35 AM UTC
love 0.5%
Diawali dengan udara pukul setengah empat sore yang hangat dan suasana hati yang sedang bagus, aku melihat perempuan itu berada di tamannya yang berantakan. Ya, berantakan kataku. Tamannya, bukan dirinya. Ia duduk di sana, dengan anggun dan cantiknya membibiti bunga bakung dan menyirami bunga krisan. Di sekelilingnya terdapat semak bunga mawar liar dan pohon pinus tua. Pohon itu berbatang tebal dan tampak kukuh, kini ia duduk menyila di bawahnya, berbincang dengan semak lavender di sebelahnya. Ia tidak gila, tapi tampak penyayang dan sangat lembut. Rambutnya yang berwarna gelap itu diterpa angin senja, di atasnya secerah sinar matahari menyeruak dari balik dedaunan membuat wajahnya tampak berkilau. Lihat bagaimana cara matanya mengerling dan lihat bagaimana caranya tersenyum; manis sekali. Itu dia, Qinaani. (Mahesa)
0
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 1:53 AM UTC
Bagian I: Bunga Kertas
Membinasakan, demi bertahan Menindas, mencerca, demi jadi raja hutan (singa kali..) Ganas dan bengis, mengingkari kawan seperjuangan Memang, manusia sekarang banyak yang tak lebih dari binatang! Aku juga ingin jadi binatang Binatang semut.. Ulat dimakan ayam Ayam dimakan elang Elang dimakan harimau Semut? Semut tak pernah masuk rantai makanan Karena ia kedahuluan mati terinjak Walau begitu Semut menggemukkan tanah Tanah gembur tempat tumbuh rumput dan pohon subur Rumput dan pohon subur jadi pusat rantai makanan Kalian lihat kan peran semut? Cakap dan mulia urusannya Saking jadi pahlawan Semut tak layak dinamai binatang Mereka tak pas jadi tandingannya hehe Makanya aku ingin jadi semut
0
Aug 4, 2016
Aug 4, 2016 at 1:18 PM UTC
Ingin jadi semut
kursi di bawah pohon kenari masih dengan setia duduk disana tidak peduli siapa yang mendudukinya atau siapa yang lewat di depannya ia tetap setia menunggu kedatangannya burung-burung dengan bebas menyuarakan nada-nada indah berisi pesan untuk diberikan kepadamu, tuan tanpa nama jangan berpura-pura tidak peduli kepada dunia di lubuk hatimu yang terdalam, sial, aku sangat yakin kau kesepian kau membutuhkan seorang teman yang rela mendengar ocehan mautmu sampai matahari tenggelam di ufuk barat nantinya kemarilah, tuan tanpa nama duduk bersamaku di bawah pohon kenari dan menikmati indahnya matahari senja
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 7:14 PM UTC
kau mendengarku
Jakarta, Senin 20 Oktober 2008 Ku terlahir di dunia Untuk hidup dan berusaha Ku kira, aku akan bahagia Namun ternyata tidak Ku berdoa . . . Ya ilahi … akulah dia Yang malas bekerja Yang tak mengejar masa depan Yang hanya duduk dengan lamunan Ku iri dengan gunung dan langit Lirik dengan melodi, hati dengan perasaan Karang dengan laut, angin dengan pohon Dan … kini ku sadari Akulah Manusia Bodoh
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:27 AM UTC
Manusia Bodoh
Pernah aku melihat sebuah keikhlasan dari gugurnya daun pohon jati itu Relakah dia meranggas untuk menghargai waktu. Pernah aku melihat sebuah kerahasiaan dari kata-kata manis seorang ibu Matikah dia menangis untuk menjadi hantu. Tapi seumur hidup aku baru melihat sebuah kejujuran, dari ujung jarimu Yang membelai untaian benang biru kusut, tanpa keluh Berpeluh namun tak mengenal sendu Lalu apa artinya ikhlas tanpa rela ditengah rahasia tanpa kata dibasuh hujan air mata yang tak jatuh Membasahi rona merahmu *Doa kita sampaikan pada awan Nimbus dan bintang Polaris Berharap, berdua kita mendapati senyap Bersama nyala lilin.*
0
Oct 9, 2016
Oct 9, 2016 at 3:30 PM UTC
Merelakan Senyap
Disini aku masih di bawah langit milik bumiku Tapi berbeda tempat dan aroma tanah Aku merasa di atmosfer era abad pertengahan Melihat banyak kastil dengan arsitektur tua Pemandangan yang indah di Montmartre, sebuah kerajaan seni yang siap memanjakan mataku seketika Musim gugur menciptakan lukisan indah secara alami Tempat itu seperti kanvas Diciptakan oleh kuas ajaib anugrah yang kuasa Meski Claude Monete dan Renoir sudah tidak ada lagi Aku bisa melihat perpaduan warna cantik di musim gugur dengan mata telanjang kuning, oranye, merah dan coklat Lukisan yang begitu indah Biarkan aku memakai jaket hari ini Sebab udara membuatku cukup dingin Aku berjalan-jalan di pedesaan Prancis Pohon-pohon gugur di sepanjang jalan ditemani oleh nyanyian burung yang menyemarakan hariku Ini sudah waktunya panen Aku menyukai labu di ladang Memilih apel dan pir di kebun dekat benteng Talcy Prancis seperti harta karun emas Paris di musim gugur bulan ini Menara Eiffel sudah menungguku kali ini aku berjalan di atas dedaunan Begitu renyah di bawah kakiku Pohon maple di atas saya memayungi meski hari tak hujan Daunnya yang tersentuh angin berputar-putar Mengirim mereka untuk menari di udara Sangat romantis Aku sedang duduk di bangku kayu Ah jika September tiba...
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:24 PM UTC
Jika September tiba
andai sedari dulu tak mungkin ia sekarang mungkin menjadi orang mungkin berlayar di cakrawala mungkin melatah di depan dunia atau mungkin menghiasnya dengan warna andai sedari dulu mungkin sudah berjasa seribu hal yang tercipta di tangannya beribu hati dan jantung yang berbangga nama yang dimana-mana tertera atau muncul dalam wajah-wajah media tapi kalaupun sedari dulu mungkinkah sudah lain atau mungkinkah tetap sama? tak ubahnya berjiwa seekor kuluk tak ubahnya bertubuh pohon membusuk dengan dunia ia kalah beradu meraung mati di kamar itu menetap sama, tanpa apa tanpa siapa dan bagaimana kabarnya mungkin jika dahulu, bisa jadi sekarang tetap saja menderita tetapi beda, ia jadi seorang manusia yang mencoba dan gagal tetapi diam dia tak bakal sayang, lihatlah terlambat ia sudah
0
Sep 16, 2025
Sep 16, 2025 at 9:57 PM UTC
Andai.
Palembang, 6 Februari 2013 Aku ini pohon muda yang ditebang Roboh Aku ini kursi rotan yang patah Rapuh Aku ini daun hijau yang jatuh Gugur Aku ini aku yang Rapuh Tak tersentuh
0
Feb 6, 2013
Feb 6, 2013 at 9:09 AM UTC
Rapuh
Kertas putih kosong, Cat putih kosong Cat merah menyala Cat hitam yang kelam Warna-warni Langit dalam hati Tangis tawa Ruang hampa penuh maaf Tak dihargai Diulangi lagi Berkali-kali Lemas terkulai Hati ragu Langkah berhenti Pergi saja Pergi Ingin saya pergi Atau kamu yang pergi Kemudian berlalu Berlabuh Garis pantai dan pohon rindang Hangat Cerah Dalam rangkulnya Matahari bernyanyi Satu ruang penuh tawa Ruang hampa bersajak cinta Penuh harapan penuh asa : Jatuh cinta.
0
Mar 1, 2018
Mar 1, 2018 at 9:29 AM UTC
tembalang, 3 maret 2018
Kau melompat kesana kemari Kau melompat tanpa tahu perasaan ini Kau melompat tanpa etika Kau melompat hilang seketika Kau bukan jelmaan pangeran Akan tetapi hadirmu membuat orang terheran Sekolahku adalah tempatmu Hijau pohon dan rumput sudah menyatu denganmu Aku mual dengan serba hijau Karena sayur hijau bukanlah kesukaanku Akan tetapi pohon hijau adalah istimewa Pohon hijau tempat berteduh hati yang merana Oh kodok.. Mengapa tembok sekolahku juga hijau? Oh kodok.. Aku semakin sulit menemukanmu Teyot teblung teyot teblung Sekolahku hijau nan sejuk Teyot teblung teyot teblung Adiwiyata adalah gelar sekolahku -Kediri, 21 Maret 2018-
0
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:53 PM UTC
Kodok Hijau dan Sekolahku
Spasi Kamu tak elok lagi Berganti walau bagaimana pun Malam tetap Pagi, Hidup atau Mati Sambil mengangkat gelas tinggi-tinggi Dan bersulang demi hidup abadi Tapi kamu tidak mati bunuh diri Malah asik bermobil ke tiang lengkung Melambai pada kami dibalik selubung Kamu bersembunyi dibalik pohon-pohon Menguntit yang kabur dari hukuman Meloloskan yang bertahan Sambil bersin-bersin tak keruan Berkelakar getir, Tetap bebal menolak satir Aku dan kamu beralonim Sedang kamu berseloroh dengan Elohim
0
Jul 17, 2018
Jul 17, 2018 at 8:30 PM UTC
Kepada Kamu
Pada gersangnya bibir, kerongkongan merengek tersedu-sedu seperti laki-laki kecil sepulang sekolah. Seiring dengan semakin mencekamnya kantung mata yang menghitam, dan kemarau yang tak kunjung usai bersemayam pada kelopak yang lelah, gadis kecil menyandarkan jiwanya pada ayunan yang rapuh di halaman belakang rumah tua. Di seberang persimpangan jalan, laki-laki kecil menggerutu tentang udara yang mencekik seluruh tubuhnya. Ia menyusuri jalanan tempat orang-orang kehilangan rasa. Terus berjalan di belakang waktu. Waktu yang menggerogoti jiwa orang-orang di sekitarnya. Di atas rumah pohon, di awal musim penghujan, gadis kecil bersedih. Ia menangisi bekas luka yang tak jua sembuh. Luka yang menghidupkan kembali ketakutannya. Dan ketakutan yang pada akhirnya akan memenggal kakinya di akhir musim. Musim berlalu-lalang, orang-orang datang dan pergi dengan pasti. Tapi apakah pergi selamanya tentang menghilang? Musim baru selalu tiba, sesekali tepat waktu, seringkali sulit terprediksi. Seperti kedatangan dan kepergian, kapanpun ia akan mengetuk pintu kewarasan.
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:07 AM UTC
Musim-Musim Yang Selalu Kita Tangisi.