Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"perasaan" poems
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
0
Mar 16, 2013
Mar 16, 2013 at 2:58 AM UTC
Andai Aku Bisa Mengerti Perasaan Ini
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
Continue reading...
47
Dear Nakama...       Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J Dear Nakama...       Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan? Dear Nakama...       Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L Dear Nakama...       Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti,  akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu... Dear Nakama...       Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja... Dear Nakama...       Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”...  :’( Dear Nakama...       Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu... Dear Nakama...       Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu... Dear Nakama...       Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh... Dear Nakama...       Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita! Dear Nakama...       Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja... Semoga kau berkenan untuk memaafkanku... Sahabatmu : Haruna J
0
Jul 31, 2014
Jul 31, 2014 at 5:52 PM UTC
Dear NAKAMA
Dear Nakama...       Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J Dear Nakama...       Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan? Dear Nakama...       Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L Dear Nakama...       Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti,  akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu... Dear Nakama...       Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja... Dear Nakama...       Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”...  :’( Dear Nakama...       Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu... Dear Nakama...       Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu... Dear Nakama...       Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh... Dear Nakama...       Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita! Dear Nakama...       Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja... Semoga kau berkenan untuk memaafkanku... Sahabatmu : Haruna J
Continue reading...
24
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
dalam soal perasaan dan cinta-cintaan, satu saran dariku ialah   jangan kau gunakan banyak-banyak hatimu    kau tentu boleh merasakan,     asal tidak terlalu dalam.       jangan.       bahkan kalau kau mampu      biarkan orang lain menganggapmu     berhati beku soal itu    biar saja mereka menganggapmu begitu   asal dalam hati kamu tahu, perasaanmu sesungguhnya hal yang paling murni untukmu.
0
May 13, 2016
May 13, 2016 at 8:15 PM UTC
Hal Yang Murni Untukmu
Palembang, Rabu 26 Juli 2011 Aku sayang dia Aku jaga dia sejak pertama ku milikinya Ku genggam erat dia seakan tak ingin berpisah Ku selalu awasi dia tak ingin kehilangannya Dia selalu ada di setiap ku butuh Kawan terbaik mencurahkan inspirasiku Tak terbayang jika dia pergi tinggalkan ku Atau hanya hilang tanpa jejak atau pesan sekalipun Yang pertama, tak bisa terganti Sekali sayang, dan akan terus selamanya Perasaanku tak tercurah tanpanya Berhari-hari aku bersamanya dengan setia Namun di hari itu aku kecewa Yang aku sayang yang terus aku jaga Dia mati di kala waktunya belum tiba Aku kecewa ketika mereka membunuhnya Aku marah, aku kesal Aku minta mereka mengembalikannya Tapi yang ku dapat hanya heningan Tanda mereka tak mau berbuat apa-apa Aku sudah tahu jawaban mereka Meskipun belum terucap, hanya bahasa gerak Mereka tidak mengerti rasanya kehilangan Mereka tidak peduli dengan perasan orang Ku hanya ingin pertanggungjawaban Dan kembalikan dia kembali ke genggamanku Tolong sekali saja Kalian mngerti perasaan seseorang Dia adalah pena ungu yang paling ku sayang "Pena Ungu ku tinggal kenangan"
0
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:40 AM UTC
Pena Ungu
Ayahku adalah Cahaya Yang menerangiku dalam perjalanan di dunia Menuntunku tuk memilih arah yang tepat Menyayangiku sepanjang doanya Memelukku dari jauh dalam sholatnya Menciumku melalui ayat-ayat suci yang dibacanya Ibuku adalah Udara Yang memberikanku kehidupan ini Yang menyentuhku dengan hati Menyayangiku sepanjang kuku yang akan selalu tumbuh Merangkulku dengan hati dan pikirannya Merawatku sepenuh hati dan segenap raganya Adik-adikku adalah Air Yang menyejukkan dengan senyuman mereka Motivasiku tuk meraih impian mereka Alasanku bekerja keras tuk membangun bahtera Dengan mereka aku sangat bahagia Dengan suara mereka aku kuat . . . Namun aku hanyalah Aku Yang tak mampu memiliki mereka seutuhnya Yang tak miliki cukup banyak waktu tuk mengenal mereka Yang jarang bersua dan menanam rindu pada mereka Aku hanyalah pejuang di Samudera Seberang Aku hanyalah Aku Yang memiliki perasaan dan pikiran Tuk memilih jalan hidupku sendiri Yang membutuhkan seorang teman Teman sejati yang sejak dulu kun anti Teman yang benar-benar tean Yang ada di sampingku saat susah senang Selamanya …
0
Jan 20, 2014
Jan 20, 2014 at 9:53 AM UTC
Aku Hanyalah Aku
*Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melepas seikat rindu Untuk seseorang berpandangan sayu Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu Seberat langit mendung yang sendu Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan Sembari menanti hentinya rintik hujan Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melekatkan seikat harapan Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri* ------------------------------------------------------------------------------------------- Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah, Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya, Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku, Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu, Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu, Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
ruang tergelap
Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya Berusaha untuk menahan segala rasa sakit Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana. Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?" Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu Ia hanya menatap langit-langit kamar  sambil tersenyum pahit. "Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah" Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya. Suara hujan mengiringi gadis itu Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata "Aku sudah tak punya hati lagi"
0
Dec 14, 2015
Dec 14, 2015 at 7:09 AM UTC
Hujan Desember
Palembang, 25 Juli 2011 Ketika kita sangat mencintai seseorang, kita akan melakukan apa saja untuk dia. Ketika kita tak bisa bertemu orang yang kita cinta, rasanya sedih sekali hati kecil kita. Ketika yang kita miliki terluka atau diambil orang lain, pasti kita akan merasa sangat marah. Ketika orang-orang yang kita cintai sedih, kita pasti ikut menangis. Ini bukan tentang mencintai satu orang saja. Tetapi semua orang dan benda juga. Perasaan itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang memahami arti cinta sesungguhnya dan orang yang mencoba mengerti arti hidup sebenarnya
0
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 7:09 AM UTC
Perasaan
Palembang, Selasa 29 November 2011 Maaf,,, Maaf hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan Sungguh,,, Kalian tahu sendiri aku terlalu bodoh tuk berbuat Dan aku terlalu bodoh tuk bicara Yakinlah,,, Aku selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi Jadi orang yang mudah senyum dan menyapa Tapi kalian tahukah? Tuk melakukannya itu terlampau sulit bagiku Bila hidup ini ku kurung sendiri Ku kunci sendiri Tanpa interaksi Aku tahu kalian pun bertanya Mengapa aku terpilih bila aku tak bisa apa-apa? Jawabannya adalah beruntung Ya, terkadang Keberuntungan mau berteman dengan ku Tapi lebih banyak ia meninggalkan ku Kalian pasti tahulah mengapa ia meninggalkan ku Karena aku tak pandai berteman Karena bakat ku melukai perasaan orang Meski aku tak bermaksud Terkesan begitulah di hati kalian Sekali lagi Maaf aku tak bisa menjadi yang kalian mau Inilah aku apa adanya Yang ku mau kalian bisa sabar Sehingga terbiasa menghadapi aku yang sekarang
0
Nov 29, 2011
Nov 29, 2011 at 8:05 AM UTC
Untuk Kalian
Hidup ku ini bukanlah permainan! Yang bisa dimulai dan dihentikan kapan pun Perasaan ku juga bukanlah medan perang! Yang terus saja tertindas Kau buat lemah! Kau buat aku tak berdaya Hati ku ini adalah emas Yang apabila hilang, aku akan jatuh miskin Miskin iman karena kehilangan arah Miskin materi karena pikiran ku tak jalan Aku ini bukanlah babu! Yang selalu menuruti apa mau mu Aku ini hanyalah pekerja lepas Yang tak mau terkekang manghadapi mu Aku ini hanyalah pasien rawat jalan Meski sakit parah tapi tetap berjuan untuk hidup Kau kira aku ini apa? Kau membuat ku menjadi korban terparah Aku pecundang di antara manusia Mengapa kau tidak pergi saja dari hidup ku? Hey, aku ini bukan papan catur 'tuk dipandangi Aku juga bukan sarung tinju tuk menuruti mu Lepaskan aku! Ku mohon lepaskan aku Aku tak ingin lagi menangisi hidup ku Ku ingin berhenti mengasihani hidup ku Tolong, damaikanlah hidup ku
0
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 11:52 AM UTC
Ini Suara Hati Ku
Dear Heart. Janganlah kamu terlalu berharap Cinta itu bukan harapan tetapi kepastian Jangan pula kamu terlalu menyimpan rasa Rasa itu bisa saja tak tepat bahkan salah Bersikaplah seperti akal, yang mengalah Tidak mengharap pada kebahagiaan cinta Tetapi senantiasa waspada jikalau terluka Akal menjagamu, Heart Dari sakitnya dilukai cinta Dari perih kejamnya perasaan Dear Heart, jiwa ini tahu kau mencintainya Tetapi akal ini yang paling tahu mana yang tepat Jangan gegabah, Heart Jangan terlalu senang dulu, kau bisa saja salah Kau bisa saja terluka Kau bisa saja jatuh Akal akan terus melindungimu Dear Heart, Simpan saja rasamu untuknya Jangan sekali-kali kamu membongkarnya Maka akal akan bertindak Ia akan berbohong untuk melindungimu Ia akan menutupi kebenaranmu Itulah yang akan dilakukan akal untuk melindungimu, Heart (Palembang, 12 Januari 2015)
0
Jan 12, 2015
Jan 12, 2015 at 12:59 AM UTC
Dear Heart
(Palembang, 28 Oktober 2015) Halo, Halo?? Aku bilang, Halo Lihat aku! Aku sedang berkemas. Kemas hati yang telah meleleh karena kata-katamu. Berantakan, Berceceran di lantai hingga menghalangi perasaan ini tuk hilang. Halo~~~ Aku cukup gagal memperbarui hati yang pernah bahagia. Hati yang pernah merona-rona ketika dekat denganmu. Hati yang selalu merindu ketika jauh darimu. Coba lihat hatiku sekarang ini! Rusak, Parah~ !! Tak bisa ku perbaiki. Halo lagi, Tanggung jawab atau kau akan aku lupakan selamanya! Tak percaya lagi denganmu. Halo, ini yang terakhir kali. Aku pergi tanpa membawa hati.
0
Jan 6, 2016
Jan 6, 2016 at 9:31 AM UTC
Halo
Jumat, 6 Agustus 2010 Tak lagi kini kata syukur pada diriku Tak ku sadari begitu bencinya Dia Hingga kini ku diberi kesempatan Yang tak ku sadari adalah cahaya-Nya Tak lagi kini ku terpanggil untuk-Nya Tak tahu aku ada apa dengan raga Dan jiwa pun kini ku tak tahu di mana berada Hanya ocehan kasar yang terucap Tingkah laku yang berdosa saja Perenungan yang membawa hasil Namun tak sanggup aku berkata maaf Sudah terlambat dan telah berlalu Ku hanya bisa menangis sedu Dan menanggung perasaan malu Ku harap kali ini Ku mampu memanfaatkan waktu Demi hatapan dan tujuanku Mengembalikan kata syukur pada diriku Dan ku ucap syukur itu setiap waktu Created by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:44 AM UTC
... Syukur
Palembang, Kamis 10 November 2011 Siapa yang bisa disalahkan? Ketika hasrat ku harus dikorbankan untuk menghargai orang lain Apa yang bisa aku lakukan? Ketika hati ini tersayat begitu dalam Dan penuh penyesalan Siapa yang bisa memprediksi? Bahwa hati ku akan terus hancur setiap hari Siapa yang bisa mengerti? Bahwa aku menangisi mereka yang tidak ada Siapa?? Tidak ada! Kini ku hanya duduk terdiam Menuliskan perasaan ku Membanjiri wajah ku sendiri Menahan hati yang begitu pedih Siapa yang akan menghapus air mata ini? Ketika tiada seorang pun di sini Hanya tinggal sepi
0
Nov 10, 2011
Nov 10, 2011 at 8:05 PM UTC
Siapa?
Jakarta, Senin 20 Oktober 2008 Ku terlahir di dunia Untuk hidup dan berusaha Ku kira, aku akan bahagia Namun ternyata tidak Ku berdoa . . . Ya ilahi … akulah dia Yang malas bekerja Yang tak mengejar masa depan Yang hanya duduk dengan lamunan Ku iri dengan gunung dan langit Lirik dengan melodi, hati dengan perasaan Karang dengan laut, angin dengan pohon Dan … kini ku sadari Akulah Manusia Bodoh
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:27 AM UTC
Manusia Bodoh
Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau mulai memberi nasihat, kau tak melakukan apa yang kuminta. Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau mulai bilang aku tak perlu merasa begitu, kau menginjak-injak perasaanku. Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau merasa harus berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalahku, kau telah mengecewakanku, memang aneh kelihatannya. Dengar! Yang kuminta hanya kau mendengarkan bukan bicara atau berbuat—hanya dengarkan aku. Nasehat itu murah; 60 sen akan memberimu rubrik nasehat yang ada di koran. Dan itu bisa kulakukan sendiri. Aku bukan tak berdaya, mungkin kecil hati dan bimbang, tapi bukan tak berdaya. Ketika kau lakukan sesuatu untukku yang bisa dan perlu kulakukan sendiri, kau menambah ketakutan dan kelemahanku. Tapi saat kau terima kenyataan bahwa aku merasa apa yang kurasa betapapun tak masuk akal, aku bisa berhenti mencoba meyakinkanmu dan memahami apa di balik perasaan yang tak masuk akal. Dan ketika semuanya jernih jawaban menjadi jelas dan aku tak butuh nasehat. Perasaan-perasaan yang tak masuk akal menjadi sebaliknya saat kau memahami ada apa di balik semuanya. Mungkin karena doa itu manjur, terkadang, untuk sebagian orang karena Tuhan tak bersuara, dan tak memberi nasehat atau mencoba memperbaiki sesuatu. Tuhan hanya mendengarkan dan membiarkanmu menyelesaikannya sendiri. Jadi, tolong dengar dan hanya mendengarkanku. Dan bila kau mau bicara, tunggulah giliranmu, dan aku akan mendengarkanmu.
0
Mar 5, 2015
Mar 5, 2015 at 3:22 AM UTC
Dengar
Sekuntum mawar yang kau berikan Mawar merah dengan segenap tumpahan perasaanmu Hanya sekuntum, tetapi cukup untuk melumpuhkan Cukup untuk melambangkan rasamu Tak ku mengerti, sebenarnya untuk apa kau memuji? Tak ku mengerti, sejujurnya untuk apa kau bermanis-manis? Sungguh, tak ku mengerti untuk apa? Sekuntum mawar yang kau berikan Mewakili perasaan yang membutakan Meskipun rasa dan pikirmu tersampaikan, Hei, tak semua hal memiliki jawaban, bukan?
0
May 10, 2014
May 10, 2014 at 10:55 AM UTC
Jawaban Untukmu
esensi sebuah cinta bukanlah pelampiasan perasaan kepada seseorang. esensi sebuah cinta adalah saat [ia] rela meminjamkan kebahagianya hanya untuk melihat [dia] tersenyum. kemudian seseorang bertanya, "lalu mengapa [mereka] harus berpisah?" sungguh, hanya semesta yang tau mengapa mereka harus berpisah. mungkin ideologi cinta yang selalu mereka gengam tidaklah memliki arti yang sama lagi, biarlah semesta yang menjawabnya. tetapi, jika semesta ini melukis dirinya dengan sebegitu indahnya, bisa apa kita selain jatuh cinta?
0
Feb 5, 2019
Feb 5, 2019 at 6:12 AM UTC
Esensi sebuah Cinta
Beruntung bisa berbincang Terikat dalam dunia mu Mencinta dibalik pertemanan Menumbuhkan bibit cerita diriku & dirimu Izinkan aku untuk memberi isyarat Biarkanlah perasaan mu menjalar Dekaplah bila terasa nyaman Rasa ini telah menyatakan Semesta yang menjadi saksi Bahwa keajaiban terjadi di hati ku Mendekatlah Tangan mu akan merasakan detak ini Berdetak hanya untuk mu Sampai akhir hayat Terikat dengan mu Mendekatlah.
0
Jan 23, 2018
Jan 23, 2018 at 8:24 AM UTC
Mendekat.
*Kalau betullah dia suka akan si dia, dia tak akan sakitkan hati si dia kan? Dia tak akan ingat perasaan si dia boleh dibuat main main.*
0
Jul 12, 2015
Jul 12, 2015 at 1:20 AM UTC
Untitled
andai, dan kalau orang boleh jenguk hati orang lain seorang seorang, naluri nya atau mungkin periksa tahap remuk jantung nya. aku rasa, itu sudah cukup buat mereka untuk diam mungkin sentap seketika sebab, sebalik setiap insan, remuk hati, mati jiwa, setiap perasaan yg berkecai, tidak akan mampu didefinisikan dgn sebuah 'insan' di luar roh dan nalurinya. ada yg gigih sembunyi. ada yg kecundang. lalu mati bersama jiwa.
0
Jan 23, 2015
Jan 23, 2015 at 8:44 AM UTC
Andai aku-- kita
Kadang jarak membuat cinta merekah Kadang pula membuat lupa Tentang kepada siapa cinta itu bersandar Dan apa perasaan itu sendiri Segalanya itu memiliki batas Kau membutuhkan jarak untuk saling menghargai Pun untuk saling rindu
0
May 31, 2018
May 31, 2018 at 11:18 AM UTC
Ruang Senggang
Lahir dan besar di desa yang bisa dibilang sangat sejuk Tumbuh dengan aman, nyaman dan bahagia Bermain ke ladang, kebun, sungai, bahkan hampir seperti hutan Selalu aman dan tetap jauh dari bahaya Teman-teman berdatangan ke rumah untuk bermain dan berbagi cerita Berkumpul seperti keluarga besar Lalu aku pergi dari desa dimana aku dilahirkan dan mulai tinggal di tempat yang baru di desa yang baru dengan situasi yang berbeda Aku tumbuh disana dan mengenal berbagai pembaharuan Hari demi hari hingga bertahun-tahun aku menyaksikan berbagai perubahan Dimana banyak perubahan yang sulit dipercaya Hampir segala sesuatu yang aku lihat dan alami sulit dipercaya Hingga timbul perasaan tidak nyaman, gerah, takut, sesak, terancam, tertindas di tempat yang ku sebut rumah Rumah, bukan bangunan yang aku tinggali Tapi disini, di tanah aku berpijak Semua sudah tak lagi sama Hingga muncul dalam otakku Haruskah aku tinggal atau aku tinggalkan? Rumah, Aku merindukanmu
0
Feb 10, 2017
Feb 10, 2017 at 1:46 AM UTC
Rumah
Pernahkah terlintas dalam pikiranmu, tentang seseorang yang hadir di beranda? Dialah yang menangkap setiap perasaan bimbang dan cemasmu Pernahkah engkau benar-benar merasa takjub, ketika ia mengatakan: "Burung kolibri merah dadu itu kuterbangkan dari hatiku, hanya untukmu. Sungguh." Lalu kaucuri sepasang bintang dari tatapannya yang amat cemerlang. Pernahkah?
0
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 11:54 AM UTC
Burung Kolibri Merah Dadu