Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"peran" poems
Kepada Kamu. Kita terlalu sama. Suka menangis diam diam. Kelihatan tegar di luar, padahal hancur di dalam. Ketika kini kulihat tawamu yang terlalu keras, aku tahu bahwa kau sedang tidak baik baik saja. Kau memang ahli bermain peran, tapi tidak di hadapanku. Cobalah hidup jujur terhadap apapun yang kau rasa. Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sia-sia. Hidup tidak melulu soal bahagia, tapi juga sebaliknya. Itu kemutlakan yang tak bisa kau tolak. Seperti sekarang, jangan selingkuhi perasaanmu sendiri, menangislah. Sungguh, tidak ada yang salah dengan jatuhnya airmata. Airmata bukan penanda lemah, sebaliknya itu pertanda agar kau tidak lengah. Setiap kita memiliki lukanya sendiri sendiri. Juga, memiliki cara sendiri sendiri untuk memulihkannya. Airmata adalah cara lain kau berbahasa dan mengungkap rasa, ketika kau tak sanggup mengolah kata. Biarkan luka terbawa oleh setiap tetes airmata yang menitik sukarela. Terkutuklah mereka yang percaya ‘anak hebat tidak menangis’ lalu menurunkan kebijakan yang tidak bijak itu pada anaknya. Mereka pasti mati rasa. Izinkan aku menemanimu, tanpa banyak bicara, memberi petuah yang menjemukan, atau bertingkah konyol agar kau tertawa. Aku hanya akan duduk di sampingmu, menemani selama kau mau. Dan sesekali memberi genggaman, untuk menguatkan. Note: bahkan airmata adalah buah tawa, saat aku bahagia bisa menemanimu dan mendengar cerita kegiatanmu seharian.
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 2:40 AM UTC
Tear
Membinasakan, demi bertahan Menindas, mencerca, demi jadi raja hutan (singa kali..) Ganas dan bengis, mengingkari kawan seperjuangan Memang, manusia sekarang banyak yang tak lebih dari binatang! Aku juga ingin jadi binatang Binatang semut.. Ulat dimakan ayam Ayam dimakan elang Elang dimakan harimau Semut? Semut tak pernah masuk rantai makanan Karena ia kedahuluan mati terinjak Walau begitu Semut menggemukkan tanah Tanah gembur tempat tumbuh rumput dan pohon subur Rumput dan pohon subur jadi pusat rantai makanan Kalian lihat kan peran semut? Cakap dan mulia urusannya Saking jadi pahlawan Semut tak layak dinamai binatang Mereka tak pas jadi tandingannya hehe Makanya aku ingin jadi semut
0
Aug 4, 2016
Aug 4, 2016 at 1:18 PM UTC
Ingin jadi semut
Andaikata aku adalah seekor burung Terbang membentangi praja Menapaki ribuan ruang impian Melekang langit senja nan dekat Tak akan kulakukan Andaikata aku adalah seekor burung Yang tentu ialah Aku rindu dengan potret otentikku Kedua kaki, kedua tangan, akal dan pikiran Andaikata aku adalah manusia Menyandang kedua sayap putih bak malaikat Tanpa lelah, tanpa sakit, tanpa keluh Peran satria menjaga fisik juga hati Angan jauh sebab manusia itu aku Andaikata aku berjaya nanti Ada di puncak emas dengan berlian sebagai udaraku Seraya senyum lagak hormat Akankah aku merindu sosokku yang sederhana kala itu?
0
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:01 PM UTC
Realitas Bunga Tidur
aksaraku benar benar mati, tenggelam bersama tangis, meringis, miris, teriris. selamat tuan, kau pandai memerankan peran antagonis berkedok protagonis.
0
Nov 10, 2019
Nov 10, 2019 at 11:34 AM UTC
—aksara
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa. Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap. Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta. Adalah karenamu, duniaku kembali berputar. Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa. Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan. Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti. Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri. Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya. Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:02 AM UTC
RAMPUNG
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa. Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap. Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta. Adalah karenamu, duniaku kembali berputar. Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa. Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan. Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti. Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri. Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya. Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
Continue reading...
10