"penguasa" poems
Palembang, 31 Agustus 2014
Aku ingin segera menjadi dewasa
Supaya aku bisa menikmati hidup lebih leluasa
Minum kopi sambil mengobrol tentang politik dan penguasa
Duduk di café menulis novel dan mengambar sketsa
Aku ingin segera wisuda
Memiliki pekerjaan sendiri yang aku damba
Memiliki apartemen sendiri dengan konsep yang aku suka
Membeli semua buku yang ku anggap menarik dan membuat sendiri ruang baca
Aku ingin segera mengakhiri masa kesendirianku
Ku harap aku bisa memilih sendiri pasanganku
Seseorang yang selalu setia di saat apapun
Seseorang yang bisa ku ajak “gila-gilaan” sepajang waktu
Aku ingin segera mengandung
Memiliki anak-anak yang manis yang akan ku panggil “sayang”
Memanjakan mereka seperti aku dimanjakan bunda
Membahagiakan orangtuaku dengan kehadiran mereka
Aku ingin
Aku ingin mati dikelilingi orang-orang yang ku cinta
Aug 31, 2014
Aug 31, 2014 at 10:04 AM UTC
Malam sunyi ini
Berubah menjadi berarti
Karena penguasa hati ku
Datang pada ku
Tuk persembahan terakhir
Lagu paling indah
Ku katakan dengan indah
Suatu ungkapan yang berarti
Bahwa ku akan setia
Walau kau harus terganti
Sebagai inspirasi hari
Dan di masa depan
Datang hadir temani hati
Takkan terlupa
Persembahan terakhir mu
Ada senyum, tawa, hembusan nafas,
teriakan, alunan yang behitu indah
Bagai hati ku dan hidup ku
by. Aridea Purple
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:56 AM UTC
Aku selalu senang berbincang pada semesta
Membicarakan dia,laki laki yang kucinta
Yang selalu ku sebut ditiap bait bait doa
Meminta pada penguasa
Untuk menjadikannya pendamping selamanya
Dan dipisahkan ketika sudah akhir usia
Egois memang,
Tapi bukannya ketika kita meminta harus katakan yang sejujurnya
Sekalipun itu memaksa ?
Intinya,aku mencintainya.
Semoga semesta selalu baik kepadanya.
Jul 25, 2019
Jul 25, 2019 at 12:54 AM UTC
APA KAU TAK DENGAR ??
Sebuah nyanyian gerakan melingking lurus tajam
ke arah penguasa yang menusuk hati rakyat.
Para pemuda dan mahasiswa yang berada
dalam pusaran arus kerusakan
Maka tiada lagi, kita harus melawan !
Disaat buku hanya berada dikantong saku berdebu
Disaat pena tak lagi mengeluarkan goresan tajamnya
Disaat megaphonemu tak lagi bersuara karena usang
Disaat tongsismu membunuh sikap kritis !
Mana raunganmu wahai Pemuda ?
Keluarlah dari barak kos dan sekretariatanmu Mahasiswa !
Apa kau tak dengar ??
Mana raunganmu wahai Pemuda ?
Keluarlah dari barak kos dan sekretariatanmu Mahasiswa !
Apa kau tak dengar ??
Sungguh ibumu tak kan rela melihat dapur rumahnya
yang tak lagi mengepul
Apa kau tak dengar ??
Sungguh bapakmu tak kan rela melihat kau
menderita karena miskin tenaga
Apa kau tak dengar ??
Sungguh jalan raya merindukan berbagai aksi aksimu
disetiap hentakan langkah kakimu
Apa kau tak dengar ??
Sungguh engkau adalah Generasi yang diharapkan
ummat Muhammad !
Wahai Mahasiswa.. Kau pembebas dunia
Wahai Mahasiswa.. Kau penerus negeri
Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah !
Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah !
Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah !
#RinduPergolakan
Mar 18, 2015
Mar 18, 2015 at 12:15 AM UTC
Jakarta, 30 Maret 2009
Jangan takut musuh negeri ini
Jangan takut penguasa negeri ini
Takutlah pada air bah yang mengalir
Takutlah pada penyapu kota ini
Jangan percaya kata mereka
Jangan percaya janji mereka
Percayalah pada diri sendiri
Percayalah pada Allah SWT
Maret pertandakan akhir
Pembayaran hutan akan janji
Amuk amarah alam negeri ini
Sebab tak satupun pemimpin peduli
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:59 PM UTC
~a letter for you
Kita,
Dari daerah melangsir ke kota
Dari kota berbalik ke daerah
Dan takkan dapat lagi ke kota
Lain sebab apa, lain sebab kenapa
Kendatipun impresi memberontak kita
Kota,
Kita ingat tentang kota
Kota takkan ingat kita
Sebab kita tak miliki tahta
Lain sebab apa, lain sebab kenapa
Apa daya reminisensi meronta
Kota,
Kita ingat tentang kota
Kawanan sutet di kota kita
Menari menawan menara kota
Dekorasi dari kita, gradasi ufuk dunia
Persuasi para penguasa kota
Prasasti Suwarnadwipa, pula
Visualisasi ragam abiotik Tuhan Yang Esa
Kota,
Kita ingat tentang kota
Hamparan ladang pabrik di kota
Riasan pipa asap terus-menerus menyala, gradasi ufuk dunia
Luas menggugah animo di daerah
Meski honorarium tak seberapa
Kita duga cukup tuk besar di kota
Manalagi di daerah
Kita,
Telah lama tak singgah pada kota
Lain sebab apa, lain sebab kenapa
Kota kita indah katanya
Kota, bilamana kita berjumpa pula?
Kita takkan abaikan memori tentang kota
Lain sebab apa, lain sebab kenapa
Kota kita indah katanya
Kota, bilamana kita berjumpa pula?
Dari pengagummu di daerah
Tuk segenap kenangan kota yang hampa.
May 14, 2020
May 14, 2020 at 10:40 AM UTC
Jantung semesta.
Ku sebut ia jantung semesta.
Pengatur detak jantung antara hidup dan mati.
Manusia penguasa rasa.
Yang datangnya ditunggu dan hilangnya dibenci.
Masih dalam keadaan koma di ruang ICU
Apr 30, 2020
Apr 30, 2020 at 7:05 PM UTC
Bacakan untukku tragedi penghancur semesta
Dalam bayang yang merana
Ditengah malam para pendosa
Bacakan untukku kematian yang harum
Melesat masuk kedalam ringkuhnya tulang-tulangmu
Hingga remuk berbutir pasir
Panggil para penguasa dalam mayanya utopia
Biar mereka merangkak disana
Aug 11, 2020
Aug 11, 2020 at 12:18 PM UTC
hutan digunduli
rakyat di provokasi
mahasiswa turun aksi
kembali ke zaman reformasi
kebebasan diperketat
yang keblabasan malah dipercepat
ini bukan tontonan pelepas penat
tapi menyadarkan para pengkhianat
negara ini milik bersama
tapi penguasa yang seenaknya
jika tidak ada kita-kita
kau bisa apa
kekuasaan bukan tolak ukur
sampai urusan selangkangan saja diatur
kalian itu cocoknya hanya tidur
sekalinya kerja malah ngelantur
kasihan ibu pertiwi
diperkosa anak sendiri
cakapnya saja mengabdi
tapi sikapnya bak pencuri
Indonesia
berduka
atau
bercanda
Sep 29, 2019
Sep 29, 2019 at 6:57 AM UTC
Sunyi nian, sungguh
Ketika intuk ku tempuh
Lalu hampa melanda angkuh
Lenyap semua yang ku butuh
Dilematis sekali menggapai asa
Hingga nuragapun terkesan percuma
Sungguh, hanya daksa yang ku punya
Sisanya, tak ada yang benar-benar berguna
Pada setiap derap ku melangkah
Tak mungkin terasa resah
Ketika Sang Penguasa bertitah.
Feb 14, 2025
Feb 14, 2025 at 10:27 AM UTC