"penghujung" poems
3..2..1..
aku hitung tempat pijak cakrawala
tapi tidak pada tempu jejak awan
mereka pinta benah kala diri
diacung pangkal lusa berpayung tangguh
metronom berdecak habis sabar
bagai waktu berkecimpung ikut mengawasi
tanda memaafkan kabarnya
kamu boleh lihai bersembunyi,
tetapi gelombang muara mimpi tetap pilih rasa hujan
hujan rindu katanya
karena dinginnya menggigit menyebar
hentikan kata buat tercekat,
ke seluruh tubuh buat menggigil
aku sudah bangun dari terkejut
terimakasih terutama kamu,
ciptaan di penghujung hari
karen satu dan lain hal
Mar 18, 2017
Mar 18, 2017 at 1:53 AM UTC
Terkadang bukan fisik yang terpenting.
Walaupun tanpa fisik, rasa tak kunjung muncul.
Mungkin aku menyayangkan cinta yang tak kian bersatu.
Keraguanmu menahanku bagai angin yang menderu.
Di penghujung jalan pun 'ku tersadar,
keraguanmu bukan untukku.
Karena cinta untukku sudah tiada sejak dulu.
Aku bukan pejuang cinta,
aku hanyalah pecinta yang setia.
Ketika cinta pergi,
itulah saat dimana pecinta undur diri.
Karena untukku,
cinta kita harus diperjuangkan
dan cintaku seorang haruslah dilenyapkan.
Bukan oleh waktu, tapi oleh angin dan debu
bercampur air mata.
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 11:09 PM UTC
Dia yang memberikan irama obrolan begitu hangat di penghujung fajar,
Aku terlarut di dalamnya
Aku meminta lagi irama itu di fajar selanjutnya
Aku adalah oasis yang membantu melepaskan dahaganya,
kala ia berkelana di gurun nan tandus
Namun setelah segar kembali ia menyumbat mata air dengan pasir
Lalu ia berkelana kembali
Tuk mencari oasis selanjutnya, tuk menyumbat yang lain-lainnya
Dia lalu kembali ke jalan berkerikil menuju rumahnya
Dikala ia harus memilih di antara menyimpan kucing yang ia temukan di dalam sebuah peti emas di pinggir jalan
Atau dia akan pergi dengan peti emas dan meninggalkan kucing itu tak bertuan
May 6, 2017
May 6, 2017 at 11:12 AM UTC
Penghujung hari tiba
Kau menutup tirai panggung
Mengganti naskah dan cerita
Siap untuk kau mainkan kembali
Penghujung hari tiba
Hangat sentuhanmu menguap
Kecupanmu memudar
Kau rebut kembali rasa yang kau titipkan
Namun kitalah kepura-puraan yang sempurna
Dua tokoh utama dalam naskah drama
Aku cermin pecah yang berkali-kali direkatkan
Kaulah sang pandai kaca
Malam akan segera berlalu
Kau tutup tirai, siapkan panggung baru
Rias kembali wajah serta tubuhmu
Aku siap melupakan hari semalam
Dec 23, 2018
Dec 23, 2018 at 5:20 AM UTC
hei, kenapa?
kalut rasanya
hampir tak mengenal siapa yang ada di raga ini
hari yang rumit , bergulat dengan perdebatan diri
hampir lelah dengan tiap kondisi
terus berkelana menemukan sebuah resolusi
sepertinya sudah sampai di penghujung intuisi
namun, tak satupun dapat meredakan ini
aku mengerti
aku terpenjara oleh pikiran sendiri
Jul 13, 2019
Jul 13, 2019 at 6:18 AM UTC
Tepat di hari kedua sebelum akhir Agustus, entah repetisi yang keberapa kali--aku bertanya pada aku.
Sedang aku meninggalkan apa yang aku tunggu, sebagian lain dari aku membiarkan apa yang datang menuju.
Tepat di peralihan pagi dan khotbah Jumat, ia datang lagi.
Yang harusnya kubiarkan pergi sendiri dengan maunya
Ntah akan kusambut kembali atau nanti menjadi babak tercanggung.
Ntah, kali ini jawaban entah telah ditolak sepersekian lebih awal sebelum ditanyakan.
Aku menolak mengikhlaskan apa yang aku sendiri tidak tau apa inginnya.
Melalui percakapan rutin beberapa kali sehari, seminggu dan sudah masuk separuh tahun.
Tepat menuju penghujung hari, aku membiasakan apapun ia boleh lakukan. Aku biarkan semaunya menghirup-hirup apa yang sudah dilewati.
Agar jika pada bagian akhir yang awal nanti ia tak salah langkah, kembali kesini atau mengantar kabar lain yang lebih ia senangi.
30 Agustus 2019
B_A
Aug 30, 2019
Aug 30, 2019 at 1:17 AM UTC