Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"pemilik" poems
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial. Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu. Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu. Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu. Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’. Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela. Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang. Kamulah tempatku pulang.
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
11.00 - Aku, Kamu dan Jogja.
Pernahkah kau bertanya, seakan kau benar-benar ingin tahu? Apa itu resah? Mengapa ada salah? Dimanakah tuan rumah? Siapakah pemilik masalah? Kapankah semua musnah? Atau, Kau benar-benar peduli soal logika? Dan berhenti percaya? Soal keajaiban Yang dulu kau harapkan? Kudengar darimu hanya dusta-dusta Tentang mitos orang tua Kau gigih bertapa, atau apalah namanya Cobalah renung dalam dungumu Yang kau sembah dengan ragu Inilah aku, sang atheis Bertuhan tanpa rengek, dan tangis
0
Apr 8, 2016
Apr 8, 2016 at 7:42 PM UTC
Atheis
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
0
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 5:39 AM UTC
Rumah
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
Continue reading...
10
Panas terpapar auramu Menggeliat menyapu menyeluruh Hingga gugur kalbu Terbakar oleh angan para penyelatu Hilang perlahan menggugur Berasap menghilang semu Layaknya debu-debu tertiup sang bayu Memudar seperti bayang nafsu Dari pemilik warna warna itu Menjajakan aksara palsu Mendulang manis ucap rindu Membiaskan maki dalam untaian lagu Menerkam mangsa yang diam terpaku Sampai penuh hasrat itu ”Oh, Jadi seperti ini rupa asli kawan kawanku? sugguh lucu”
0
Oct 1, 2016
Oct 1, 2016 at 10:13 AM UTC
API
Kau duduk dalam diam Segaris senyum kau tebar Aku yang lemah menyerah kalah Membakar omong kosong Menciptakan bara apiku Aku terpaku, pertama kalinya bagiku Suara renyah bergairah Menggelitik daun telinga Mendarat indah di relung hati Tak perduli yang kau katakan Aku hanya ingin mendengarkan Ingin rasanya kugenggam tanganmu Menculikmu dengan gagah berani Layaknya ksatria dan kau sang putri Menyibak rambut ombakmu Kusematkan bunga Yang kita petik bersama Namun... Aku bukanlah ksatria Dan kau sendirilah pemilik kastil itu Tak ada bunga mekar yang bisa kupetik hari itu Namun di lain hari kuharap kita bertemu lagi
0
Sep 29, 2017
Sep 29, 2017 at 4:58 AM UTC
Pertama Kalinya
Seorang lelaki Pemilik pabrik gula Jatuh miskin malam ini Penyebabnya; ia terlalu sering menyuguhkan lautan gula
0
Apr 12, 2020
Apr 12, 2020 at 8:00 AM UTC
Bangkrut
terima kasih sudah melengkapi disini tertulis untukmu pada dini hari jika dihadapkan lagi oleh tawamu satu detik saja kita ada berdesir wangi lembut aku kenang lagi aromamu akan ku putar lagi perjalananku menghampirimu 13 januari nanti jangan berhenti tetap seperti ini siapa aku berani menuntut abadi
0
Nov 7, 2019
Nov 7, 2019 at 12:41 PM UTC
tentang pemilik bulan Januari