"pelajaran" poems
Ditarik, kami diarahkan membaca apapun yang tidak ada penjelasannya.
Dikodratkan harus paham isi kepala makhluk yang hanya sesekali berkata iya dan tidak.
Kami terpingkal, Puan.
Bagaimana tidak?; Kain yang kau gunting sendiri dan pintal dengan rajut sedari subuh sudah cantik--tapi kau merasa kurang, dan kami adalah penyebabnya katamu.
Duduk kami melingkar bersama dengan gelas gelas berisi teh melati,
Hangat membaur aroma kebingungan kaum kami.
Sekali beberapa menit kami terpingkal lagi, berusaha terus membaca setiap halaman kosong dan beberapa titik saja di sudut kiri kanannya.
Tidak ada barang satupun buku yang mengerti keinginan puan.
Cemasnya puan ingin dilindungi,
Lembutnya puan yang ingin dikasihi,
Ah, apalagi tangisan yang tiba-tiba terisak di malam sehabis mimpi.
Tersenyum kami menahan tawa dan kantuk, sembari melihat-lihat wajah puan yang tertunduk mengharap ditanya mengenai hari ini.
Semenit dua menit kami lihat lekat-lekat wajah puan.
Kami bisa tidur malam ini,
Jawaban kebingungan lelaki bukan tertulis pada buku-buku; tapi dua bola mata yang senantiasa banyak bercerita setiap ia duduk hening tanpa berbicara.
Ah, engkau puan~
Buku pelajaran yang tak ada tamatnya.
B_A
10 Mei 2019
May 10, 2019
May 10, 2019 at 12:23 AM UTC
Trotoar yang basah
karena es yang mencair,
Ungkapan penyesalan
beserta cacian terlontarkan.
Seseorang memilih hidup di masa lalu,
Seseorang yang ingin merubah semuanya,
Seseorang yang ingin mencari tujuan,
Kita semua punya dosa masing-masing bukan
"Kami tertawa kami sepakat
ini semua baru permulaan."
Beberapa pria sulit menceritakan hal buruk
yang terjadi pada dirinya,
Beberapa dari kita terjebak dalam rutinitas
yang tidak pernah kita sukai,
Pola yang berulang setiap pekan.
21 yang menyebalkan, namun penuh pelajaran
Kami melempar dadu yang sama berkali-kali dan menebak angka yang salah,
Kami anggap ini skakmat kehidupan
Menunggu dimakan atau membalas menyerang.
2025
reydmh
May 19, 2025
May 19, 2025 at 3:23 PM UTC