"pandai" poems
Palembang, Selasa 29 November 2011
Maaf,,,
Maaf hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan
Sungguh,,,
Kalian tahu sendiri aku terlalu bodoh tuk berbuat
Dan aku terlalu bodoh tuk bicara
Yakinlah,,,
Aku selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi
Jadi orang yang mudah senyum dan menyapa
Tapi kalian tahukah?
Tuk melakukannya itu terlampau sulit bagiku
Bila hidup ini ku kurung sendiri
Ku kunci sendiri
Tanpa interaksi
Aku tahu kalian pun bertanya
Mengapa aku terpilih bila aku tak bisa apa-apa?
Jawabannya adalah beruntung
Ya, terkadang Keberuntungan mau berteman dengan ku
Tapi lebih banyak ia meninggalkan ku
Kalian pasti tahulah mengapa ia meninggalkan ku
Karena aku tak pandai berteman
Karena bakat ku melukai perasaan orang
Meski aku tak bermaksud
Terkesan begitulah di hati kalian
Sekali lagi
Maaf aku tak bisa menjadi yang kalian mau
Inilah aku apa adanya
Yang ku mau kalian bisa sabar
Sehingga terbiasa menghadapi aku yang sekarang
Nov 29, 2011
Nov 29, 2011 at 8:05 AM UTC
terbalas pertemuan singkat tadi siang
dengan sedikit berdebah dengan ego
malu menukik dan gemetar beramai gaduh
sulit juga, berjuang dengan lara yang
kian runyam
kian dalam
kian menepis dalam malam
aku yakin dia bertanya
"kenapa dia?"
haha.. apa aku harus jawab aku rindu
aku rindu seperti dulu
bukan apa-apa
tidak ada lugas kata atau tindakannya
hanya saja aku sudah terlajur menyukainya
menyukai derap langkahnya
lemah gemulai tubuhnya beradu dengan udara sekitar
aku juga suka saat matanya bertemu dengan mataku
sisi lainnya muncul
lebih hangat dari yang kubayangkan
bolehkah juga aku berseru ?
aku menyukaimu ! sangat..
lungai sudah jika itu terucap
pasrah..
tapi tenang, aku masi pandai menyimpan
masih pandai menukik ego
tapi tetap
aku rindu,.,.,.,.
-rindu,mengenang-
May 22, 2018
May 22, 2018 at 12:18 PM UTC
Kebanyakan orang tinggal bersamanya, saya tidak.
Seperti bisa memasak, tapi tidak terlalu pandai seperti Ibu.
Selalu lebih, kadang lebih asin, kadang lebih hambar.
Pernah saya membencinya, sebelum saya tau isi hatinya.
Memaafkan adalah hal yang sangat luar biasa, entah ada mantra apa di dalamnya, namun setelah itu saya merasa sangat tenang.
Dia bilang bahwa saya mirip dengan seseorang.
Katanya, dia persis seperti saya saat kecil, rambut tipis agak ikal, hidung, bibir dan matanya, katanya persis seperti saya.
Saya menangis, entah sedih, sakit, senang, atau haru.
Saya tidak pernah diajarkan untuk membenci seseorang, sekalipun yang sudah menghancurkan saya.
Sudah saya bilang, bahwa ada mantra ajaib dibalik kata maaf.
Bisa saja saya membencinya, namun saya tidak memilih hal itu.
Bukan hanya saya yang terluka, dia juga lebur.
Jun 1, 2019
Jun 1, 2019 at 5:28 PM UTC
Berikut adalah percakapan antara aku dan aku;
Aku bertanya, apa itu self love ?
Mencintai diri sendiri jawabku.
Bagaimana bentuknya ?
Mencintai dan menjaga diri sendiri.
Bagaimana spesifiknya kalau boleh tahu ?
Merawat diri sendiri baik dari tubuh, pikiran, dan hati.
Bisa beri detail lebih jelas mengenai merawat tubuh, pikiran, dan hati ?
Tentu saja.
Dari tubuh,
Jika engkau ingin mempercantik dirimu tetapi benar benar untuk dirimu. Bukan hanya sekedar konsumsi publik semata agar engkau dianggap kualitas super hanya dari fisik. Maka, lakukanlah.
Dari pikiran,
Oke ini level dua. Sulit.
Kau harus pandai mengolah semua pikiran negatifmu. Cobalah ubah menjadi sebaliknya, rasa takut kau ubah sebagai rasa penasaran menghadapi suatu hal, singkirkanlah logis yang terlalu mengedepankan ego sejenak, ajak pikiranmu tenang lalu coba bawa ia ke tempat yang luas.
Dari hati,
Sulit. Karena mungkin sejatinya sifat tiap kamu kamu itu terefleksi dari sini. Tinggal pilih, mau babak belur mencoba lebih baik atau nyaman di tempat kotor ?
Kalau ini caraku.
Cobalah untuk selalu berbuat kebaikan, banyak orang yang akan sering berkata kamu nanti terlalu naif, munafik. Halah, persetan dengan itu semua. Jalani hidupmu sendiri sendiri, senang itu tergantung kita bukan orang lain. Kita yang putuskan mau senang apa tidak.
Coba lihat, karena apa ?
Ego mereka sulit diolah, atau bahkan sudah diracuni oleh ego sendiri ?
Apapun itu, aku turut berduka untuk mereka.
Intinya berbuat baik, tidak hanya kepada makhluk hidup saja.
Alam jangan dilupakan.
Kau itu sama sama ciptaan-Nya, bukankah kalau saling sayang kita akan selalu tenang ?
May 19, 2018
May 19, 2018 at 9:51 PM UTC
Sejak kecil mereka aku kasihi dengan sangat
Tak boleh ada masalah dan persoalan yang didapat
Aku memberi yang dibutuhkan
Walau kadang agak dipaksakan
Melalui hari-hari sekolah kalian ku bimbing
Melalui waktu-waktu susah kau ku bina
Mengarungi saat-saat penting kau kutemani
Tak ada saat dimana kau kutinggalkan
Masuk masa perkuliahan kau dapatkan
dimana kau ingin melanjutkan pendidikanmu
Walau seakan mustahil tapi Tuhan memberi
itulah yang aku ingatkan
Masa perkuliahan kau jalani juga gadisku
Pergaulan yang susah kau lewati
Kau dapati teman-teman sendiri
Yang memenuhi hari-hari yang dilewati
Kau dapati juga seorang jaka
Yang kau suka karena berbeda
Pandai dan dapat dipercaya
Kau kenalkan dia sebagai pacar
May 2, 2017
May 2, 2017 at 12:08 AM UTC
Penghujung hari tiba
Kau menutup tirai panggung
Mengganti naskah dan cerita
Siap untuk kau mainkan kembali
Penghujung hari tiba
Hangat sentuhanmu menguap
Kecupanmu memudar
Kau rebut kembali rasa yang kau titipkan
Namun kitalah kepura-puraan yang sempurna
Dua tokoh utama dalam naskah drama
Aku cermin pecah yang berkali-kali direkatkan
Kaulah sang pandai kaca
Malam akan segera berlalu
Kau tutup tirai, siapkan panggung baru
Rias kembali wajah serta tubuhmu
Aku siap melupakan hari semalam
Dec 23, 2018
Dec 23, 2018 at 5:20 AM UTC
Aku suka kata-kata
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ begitu pun kamu
tapi bukankah
Seno pernah mengutuk kata-kata karena
mereka sudah terlalu banyak di dunia?*
.kata-kata tak punya makna
apalagi jiwa
kata-kata mudah menguap
sampai kita harus (mengurungnya)
sebelum terevaporasi entah-berentah
tak lagi dipahami!
Apa arti 'kita'
jika kata-kata tak punya makna?
Aku cukup payah
mencari kata 'kita' di antara tumpukan buku
yang tak selesai kubaca.
Kamu pernah bilang
aku membiusㅡmembisukan
tapi bukankah kata hanya sampai
bila diutarakan? tidak ke selatan, 'kan?
Kata-kata memang tak punya makna
apalagi yang tak tersampaikan
kata-kata mudah dilupakan
meski kamu pandai meramu kata
menjadi sajak-sajak cinta, dan menyuapiku:
semua terasa getir, aku tak punya selera.
Aku hanya bisa
menelan perasaan penasaran
yang tak kunjung habis.
Hingga aku kepayahan
merapal kata-kata 'kita,'
entah-berentah
Aku belum paham.
Dec 13, 2019
Dec 13, 2019 at 9:44 AM UTC
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman.
Kadang sendiri, kadang bersama kawan.
Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa.
"Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman.
Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan.
Luka bekas sayatan menganga lebar di dada.
Ia bermandikan darah dan air mata.
Gadis kecil berpipi bulat terkesima.
"Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran.
Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas.
Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya.
"Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?"
Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan.
Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap.
Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.
Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya.
[Jakarta, 17 Juni 2019.]
_________
Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita.
Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka.
Tuan Singa pandai bersandiwara!
Sesekali tertawa di selipan duka.
Gadis kecil berpipi bulat melihat.
Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita.
Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan.
Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa.
Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa.
Gadis kecil berpipi bulat terdiam.
"Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa.
Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau.
Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur.
"Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya.
Selamat tidur dan bermimpi.
Semoga mimpi malam ini indah."
Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas.
[ Jakarta, 22 Juni 2019 ]
——
Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak.
Gawat.
Raja hutan mempermainkan teka-tekinya.
Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri.
“Tuan singa. Tuan singa.
Apa yang tuan inginkan?
Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?”
[5 Agustus 2019]
——
Raja Singa sedang terluka.
Ia gelisah.
Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati.
Atau,
bukan dia, yang sang raja cari ?
[19 September 2019]
____
Cukup.
Waktunya telah tiba.
Gadis kecil berpipi bulat harus pergi.
Semoga kamu bisa tidur.
[04 Oktober 2019]
Jun 18, 2019
Jun 18, 2019 at 11:16 AM UTC
aksaraku benar benar mati,
tenggelam bersama tangis,
meringis, miris, teriris.
selamat tuan,
kau pandai memerankan peran antagonis berkedok protagonis.
Nov 10, 2019
Nov 10, 2019 at 11:34 AM UTC
'fah masa bla bla bla bla.. bangsct.'
'cowo emang bangsct lu..
santuy, kita juga harus bangsct.'
begitulah
percakapan dua gadis
belum bisa bercakap dengan manis
di sela sela kuliah siang
sembunyi bunyi dari pengawasan sang dosen
terhalang dua ruang kelas
pertanyaannya :
satu, apakah semua laki laki seperti itu ?
dua, apakah kami berdua harus ikut seperti itu ?
ya betul sekali, dua pertanyaan tadi sangatlah retoris.
pastilah jawabannya...
tentu.
gakdeng, saya berusaha melawak saja.
dan untuk kamu, semoga tidak seperti itu ya sayang.
Sep 3, 2019
Sep 3, 2019 at 6:53 AM UTC
Bermekaran bunga mengiringi senyummu
Harum mewangi semanis madu
Rendahkan sedikit sekuntum kelopakmu
Tak ayal kumbang bergemuruh
Semanis madu kau mengundang
Aku terbuai layaknya kumbang
Indah gemulai tak kunjung lekang
Kau ratuku bukan sembarang
Tak kusadar burung berkeciap
Gagah benar paruh mengkilap
Hebat benar kepakkan sayap
Kumbang limbung terbangnya kalap
Bunga indah harum mewangi
Ternyata pandai bermain api
Tak disangka membakar janji
Batang indah bertumbuh duri
Kumbang sesak terbangnya lirih
Perihnya hati dusta sang terkasih
Berharap terang hujanpun masih
Berharap lekang sayangpun masih
Nov 8, 2017
Nov 8, 2017 at 12:19 AM UTC