Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"otakku" poems
Palembang, 16 September 2012 Pagi ini cerah. Tak tahan tuk ku sembunyikan senyum ini. Semalam aku memimpikanmu. Dan sekarang aku merindukanmu. Aku duduk, di sampingku jendela terbuka lebar. Cahaya mentari hangat menyentuh kulitku. Di depanku ada tempat pensil, aku siap menulis. Ada penghapus, pena, stapler, lem dan kertas. Untuk sedetik ada image mu di sekelilingku. Kreatifitasku muncul untuk memvisualkan dirimu. Penghapus. Andai aku bisa terbang, akan ku hapus awan. Dan ku ambil pena, tuk menuliskan “Aku mencintaimu” besar-besar. Lalu akan ku stapler rasa ini di otakku. Kemudian ku ambil lem tuk merekatkan wajahmu di hatiku.
0
Sep 16, 2012
Sep 16, 2012 at 1:42 AM UTC
ATK
Palembang, 7 Mei 2012 Gambaran indah wajahmu selalu terlukis di awan hidupku Angin pun selalu membawa suaramu di melodiku Lonceng bersuara merdu tak semerdu suaramu di benakku Musim selalu berganti namun kau tak terganti Akar ini bersarang di hatiku Namanya pasti kau tahu, akar cintaku Fatamorgana tak bisa ku temukan di sini Rupamu tertinggal untuk ku nanti Embun telah membangun sarangnya di hidup ini Di dalam palung jiwa ini Engkau fatamorgana ku Riwayat hidupku Indahmu, adalah Cintaku Kecintaanku akan kamu Fase cintaku Energi mutakhir yang diciptakan darimu Rasa sakit selalu Genangan air mata melulu Ucapanku dulu Setelah ku memberimu itu Otakku mati, lidahku kelu Nisanku, tak perlu kau tahu
0
May 19, 2012
May 19, 2012 at 8:56 AM UTC
GFF
Lahir dan besar di desa yang bisa dibilang sangat sejuk Tumbuh dengan aman, nyaman dan bahagia Bermain ke ladang, kebun, sungai, bahkan hampir seperti hutan Selalu aman dan tetap jauh dari bahaya Teman-teman berdatangan ke rumah untuk bermain dan berbagi cerita Berkumpul seperti keluarga besar Lalu aku pergi dari desa dimana aku dilahirkan dan mulai tinggal di tempat yang baru di desa yang baru dengan situasi yang berbeda Aku tumbuh disana dan mengenal berbagai pembaharuan Hari demi hari hingga bertahun-tahun aku menyaksikan berbagai perubahan Dimana banyak perubahan yang sulit dipercaya Hampir segala sesuatu yang aku lihat dan alami sulit dipercaya Hingga timbul perasaan tidak nyaman, gerah, takut, sesak, terancam, tertindas di tempat yang ku sebut rumah Rumah, bukan bangunan yang aku tinggali Tapi disini, di tanah aku berpijak Semua sudah tak lagi sama Hingga muncul dalam otakku Haruskah aku tinggal atau aku tinggalkan? Rumah, Aku merindukanmu
0
Feb 10, 2017
Feb 10, 2017 at 1:46 AM UTC
Rumah
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
0
Dec 9, 2017
Dec 9, 2017 at 9:34 AM UTC
satu lagi kisah singkat yang sempat terbuang
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
Continue reading...
1
Aku selalu suka caramu menceritakan dunia, dengan barisan kata yang asing, membuatku harus memutar otakku yang rendah kapasitasnya ini. Aku selalu suka caramu bahagia, bahkan kamu tidak tersenyum ketika bahagia. Hebatnya kamu, bahagiamu bisa sampai ku rasa tanpa senyumanmu yang hadir. Aku selalu suka caramu bersedih, kamu selalu kehabisan kata. Melampiaskannya dengan hal yang bisa mematikanmu, namun pada akhirnya kamu juga butuh pelukanku. Aku selalu suka caramu marah, kamu selalu terdiam. Sampai pada akhirnya kata maaf terucap, karena kamu takut aku akan terganggu dengan marahmu. Aku selalu suka caramu optimis, membanggakan dirimu sendiri sampai lupa kalau di dunia ini ada orang sehebat Pak Habibie. Aku selalu suka caramu pesimis, tidak henti menyalahkan diri sendiri, tapi tidak memakan waktu lama. Setelah itu kamu bangkit lagi. Tapi satu yang tidak aku suka, caramu yang selalu mematikan rasa. Kamu tidak pernah membiarkan rasa-rasa dalam dirimu menyala. Kamu benci rasa. Sama seperti aku membenci diriku sendiri. Tapi tidak apa, Nanti kita sama-sama belajar untuk merasa lagi, ya? Namun, akan lebih baik jika pada akhirnya kita yang bisa saling menumbuhkan rasa.
0
Feb 26, 2020
Feb 26, 2020 at 2:16 PM UTC
02.16
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
0
Jan 5, 2020
Jan 5, 2020 at 11:23 AM UTC
catatan waktu itu1
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
Continue reading...
32
Namamu memudar dari otakku Seakan-akan hanya sesekali terlintas Namamu menjadi tak seperti dulu Selalu hadir seperti tanpa batas Apa aku terjangkit amnesia? Melupakan nama yang pernah kucinta Sedikit demi sedikit wajahmu mulai sirna Perlahan bayangmu mulai tiada Baguslah jika benar itu adanya Aku tidak perlu susah susah lagi berupaya Membuatku lelah dalam mencinta Lalu aku pergi seenaknya
0
May 5, 2018
May 5, 2018 at 8:02 AM UTC
Lupa
“Cium bibir itu nafsu. Love language aku tuh cium mata dan cium pipi. Nih mau aku praktekin?” Cup Cup “Berasa gak sayangnya?” Aku bergeming. Semoga kamu paham Love languageku adalah membiarkan otakku berimajinasi sesukanya seperti membiarkan mata dan pipiku menerima segala kecupan darimu, dan berharap ada perasaan yang memang terselip di antaranya.
0
Jul 19, 2020
Jul 19, 2020 at 12:48 PM UTC
Love Language