Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"nantinya" poems
sedikit demi sedikit, aku sudah tidak merasakan kamu di cangkir kopiku setiap pagi. entah rasanya mengapa sangat sangat habar. seakan kamu sudah benar-benar pergi dari sini. tidak ada yang membuat jantung ini seakan sudah tidak berada di tempatnya lagi ketika mataku menangkap sosokmu. aku tahu, nantinya memang kamu akan pergi. mencintai pilihanmu yang lebih sempurna dariku. aku hanya manusia, mi querido. aku bukan dia yang lebih dari manusia normal. dia spesial untukmu. sedangkan aku tidak. oh, tidak. aku tidak pernah kemana-kemana. aku tidak pergi. aku tetap disini dan menunggu. hanya sepertinya kamu saja yang tidak pernah sadar jika aku disini. sudah menerka-nerka. semua ini akan berakhir tidak berbalas. semua ini berakhir sia-sia. tapi apakah kamu tahu? semenjak kamu bersama dia, aku sangat menikmati hobiku merangkai aksara tentangmu. walau kadang maknamu sudah terasa hambar. kamu tahu mengapa? karena tangan ini tidak akan pernah mampu meringkuh wajahmu dan mulut ini akan kaku ketika bertatapan denganmu. aku membiarkan tangan ini menari-nari diatas papan kata dan merangkai karangan tentangmu.
0
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:09 PM UTC
tidak terucap
kursi di bawah pohon kenari masih dengan setia duduk disana tidak peduli siapa yang mendudukinya atau siapa yang lewat di depannya ia tetap setia menunggu kedatangannya burung-burung dengan bebas menyuarakan nada-nada indah berisi pesan untuk diberikan kepadamu, tuan tanpa nama jangan berpura-pura tidak peduli kepada dunia di lubuk hatimu yang terdalam, sial, aku sangat yakin kau kesepian kau membutuhkan seorang teman yang rela mendengar ocehan mautmu sampai matahari tenggelam di ufuk barat nantinya kemarilah, tuan tanpa nama duduk bersamaku di bawah pohon kenari dan menikmati indahnya matahari senja
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 7:14 PM UTC
kau mendengarku
Ayo, pergi bersamaku. Aku akan mengajakmu pergi menikmati angin malam sambil melihat gemerlap cahaya dari gedung tinggi ibu kota Ayo, pergi bersamaku. Kita akan menyanyikan lagu indie sambil berteriak lirik yang salah, menatap jalanan besar yang kosong dan tertawa bersama Ayo, pergi bersamaku. Aku akan mengajakmu menikmati senja jauh dari kerumunan ibu kota diantara rerumputan liar dan kehangatan sentuhan telapak tanganku yang kasar. Ayo, pergi bersamaku. Aku akan membelikanmu baju bekas dengan brand ternama dan memakaikanmu kacamata hitam untuk perjalanan yang panjang nantinya Ayo, pergi bersamaku. Sini, ke mobilku. Tapi, kenapa kamu hanya menatapku?
0
Oct 28, 2018
Oct 28, 2018 at 2:35 PM UTC
Ayo
Jemariku bergetar saat menuangkan isi hati dan kepalaku kali ini. Entah sudah berapa purnama ku lewatkan tanpa berada di bawah atap yang sama denganmu. Bertukar suara via telepon genggam —yang hanya secuil dibanding dengan waktu duapuluh empat jam— pun ku sudah lupa rasanya. Namun satu hal yang pasti, bagian darimu akan selalu jadi bagian dariku. Akan ku bawa sampai ke ujung waktu. Mungkin aku akan pergi lebih dulu, atau mungkin engkau? Tak ada yang tahu. Semoga Tuhan tetap melindungi, di mana pun kau berada sampai nantinya kita akan bertemu kembali. “Namamu jadi rahasia, dalam diam kan ku bawa; mendarah.” –Mendarah, Nadin Amizah
0
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:56 PM UTC
Surat Tersirat
Tak ingin hilang, tak ingin juga berpetualang. Seakan tak rela, Namun juga tak ingin menyesal nantinya. Kau yang berdiri diujung jalan Dibaliknya terdapat penyesalan Dia yang berjalan disisi Angannya yang tak pasti Temanku berkata, “sudahlah jangan kau pikirkan yang belum pasti” Tapi kenyataannya aku yang tak tau bagaimana caranya berhenti “Nanti kau juga capek sendiri”, sahutnya.
0
Dec 21, 2020
Dec 21, 2020 at 11:48 AM UTC
Sudahlah