"muram" poems
setiap kota
takkan kekal abadi
dan yang ada
di dalamnya
hanyalah penghuni
yang kekal
selamanya ditemani
isi-isi
yang tak berisi
tiada puisi,
tiada seni
tanpa arah
tanpa erti
yang ada hanyalah
imbalan
dan keuntungan
yang berpuing
di udara kota
yang berlegar
di pengairan kota
segalanya
terasa muram
apa bezanya
hidup di dalam
lohong hitam?
Sep 9, 2018
Sep 9, 2018 at 10:49 PM UTC
Aku kerap melihat segerombolan
Anak kecil
Menengadah takjub
Pada keburukan rupa arakan
Berpuluh awan mendung.
Mereka terus menatap seolah
Tiap gumpalnya adalah punuk di punggung
Malaikat
Yang akan menghujani mereka
Dengan berpuluh hadiah kecil
Kecil
Kecil
Andai aku anak kecil
Bocah
Aku mungkin tahu apa yang
Disembunyikan
Tiap guratan murung awan itu.
Mungkin,
Aku akan dapat melihat hujan
Sebagai sesuatu yang lebih indah
Daripada isak tangis ketiadaan.
Sekarang,
Kita sudah tua
Murung lagi muram.
Akankah kita berlinang,
Dan sirna setelahnya?
Feb 8, 2016
Feb 8, 2016 at 10:06 AM UTC
Angin semilir menghembuskan
Lembaran kertas, bergurat bagai nadi
Namun mereka tetap menari.
Sayu, menatap serat-serat kayu
Dan merendah, menghamba pada ilmu
Ku tahu mereka berlari namun tak berlabuh
Harapan mereka gantung di sisi bulan
Yang menemani muram di sisi jalan
Lelaplah, karena bintang
Tak dapat kau peroleh semalam.
Apr 20, 2016
Apr 20, 2016 at 1:48 PM UTC
Matanya yang kalap di kotak
menghampas debur debu dari atap ke puncak dahan. Menutup temaram lampion.
Berusaha menampik getar di dada yang telanjang. Itu-kini
sampai kesekian lintas kelokan. Terlewati.
Enam uang logam terbuai lendir lintah saat kududuki kursi tak ubahnya senjakala & engkau sadar. Berdiam & terus bungkam
menunggu henti nyanyian puan nun sumbang
berkaca daku yang terpasung, itu di abu
letupan yang mencandu hujam asam &
melulu jadi bisu-kita. Di renda setengah tertutup/ semua orang sudah tahu.
Perihal hening yang memang tak pernah membuah harap.
Hilangnya alkisah kemuning pala kambing yang enggan memerah.
Walau bertumpu akan cita dalam almanak musnah-karam
/ tiada henti di jaga oleh wajah-wajah muram;
di garis vertikal
di persegi dua dimensi/ hitam
pun segitiga/ jajar genjang
& semut kita mengerubung oval. Seraya penonton menyilang dua lengan di dada
di lingkar rafia sementara ini semakin terasa di Kursi. Meja. Cangkir. Jendela. Cat. Kuas & Tv. Lentera. Buku. Radio. Senter
/beringin di jiwa.
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 3:46 PM UTC
Kini kamu bukan hanya
berdiri di atas kaki sendiri
Melampauinya-
kamu berani berdiri
di atas permukaan laut
yang hitam dan muram
Menyelaminya dalam-dalam
tersedak-sedak air asin
mendesak-desak ruang
dengan gelagat cemas
sambil menderit-derit
seperti mesin berdesing
Dan aku bangga
melihat mu mampu
bahkan mulai menantang
batas-batas ruang dalam waktu
yang berkelebatan
Maka terbanglah, kawan ku!
Terbanglah--
karena luas laut tak mampu
membendung derai hasratmu
Terbanglah jauh
karena dunia taksabar menantimu
Terbanglah dan lupakan
lautan itu
Lautan yang selalu kau kutuk: Sialan
bila malam datang dan pagi
enggan kau jumpai
Maka lupakan ia
lalu
Terbanglah
sekarang
juga!
Sep 18, 2019
Sep 18, 2019 at 8:57 PM UTC