Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"merekah" poems
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
Darah Biasanya keluar rumah Saat tengah malam Sambil menangis Hanya Untuk bermandikan Seseguk amis Setelah itu, Ia lanjut merajut Duka Atas air maut Yang tak kunjung jatuh Darinya Sama, Suaramu Terdengar kala malam Terisak-isak perih Dan masih berbau darah Tapi setelah kuratapi Sekarang makin legam Lagi-lagi Suaramu dibebani Pagi yang merekah-rekah Dan pada saat selalu saja, Ia akan tergesa membisu basi Menunggu sambutan gulita Keduanya tidak sadar Bahwa Mereka saling Beradu pekat Suaramu tapi Masih percuma Alunannya mengais pedih Langkahnya meringkuk mati Seolah tak tahu Terus tanya Siapakah tuannya Mungkin Ternyata Memang bukan kamu Dan di saat seperti ini Gelap biasanya Keluar terbahak Terbatuk Tertatih meracau rindu Kalau ia lumpuh Dan tak dapat lagi menghentak Suara liar yang kerap Bersenandung pedih Mungkin ini sekedar hantumu Menyanyi Main-main dengan duka malamku
0
Sep 20, 2015
Sep 20, 2015 at 7:19 AM UTC
Sesikat Sakit Gentayangan
Kadang jarak membuat cinta merekah Kadang pula membuat lupa Tentang kepada siapa cinta itu bersandar Dan apa perasaan itu sendiri Segalanya itu memiliki batas Kau membutuhkan jarak untuk saling menghargai Pun untuk saling rindu
0
May 31, 2018
May 31, 2018 at 11:18 AM UTC
Ruang Senggang
Semuanya berteriak dalam pikir Mengutuk diri berulang kali Menyalahkan atas yang terjadi Dia menginginkan aku untuk pergi Tuhan, aku ingin pulang Rumah di sini tidak senyaman milikmu Di sini berisik Aku dicekik berkali-kali Aku kedinginan Aku ingin hangat yang menenangkan Barangkali sajak ini sampai saat tak ada senyum merekah Tuhan, maaf, aku sudah menyerah
0
Feb 22, 2025
Feb 22, 2025 at 11:08 AM UTC
Sajak 'tak Bertuan
Sore itu senyum mu merekah, menyambut aku yang sangat mengulur waktu. Apakah kau tahu saat itu? Aku seolah tersihir oleh mata coklat mu. lelucon kecil yang kau ucapkan, membuat ku nyaman dalam tawa. Kau habiskan 2 gelas es kopi susu. Seolah masih jelas di bayang ku berapa banyak batang rokok yang kau hisap untuk mendengar cerita ku. Aku selalu rindu sore itu, Sore dimana rasa kagum ku mendengar suara merdu mu masih menjadi sebuah teka-teki.
0
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 2:16 PM UTC
suatu sore di salihara
TANDUS Ketika kamu sudah mulai terbiasa, apa yang bisa memaksa? Segala bentuk, bahkan segala hal yang buruk rupa Yang kau benci pada mulanya Sekarang kau menikmatinya, bukan? Apa yang tumbuh di dalam sana? Di tanah yang mati kelihatannya. Yang tak pernah berharap ada biji yang tumbuh disana Tak ada buah yang diinginkan Hanya tanah tandus tanpa harapan Betapa hebatnya waktu, bermain diatas hati manusia. Mencoret, daan sekenanya menghapus tanpa mengizinkanku untuk memilih. Kenapa tanah itu tak terus tandus saja? Entah dari mana datangnya biji emas itu. Yang hanya menimbulkan keserakahan dan kedengkian hati manusia. Cuma aku sekarang disini. Diatas tanah subur yang dulunya tandus Ditengah bunga bunga yang sedang merekah. Jadi gagak hitam yang mematuki biji emas. Antara berusaha mengukir emas dengan paruh tuanya Atau berpikir emaslah sisa hidupnya. Dua-duanya mustahil. Tanah yang tandus itu sendiri, tak juga bergeming dari bubungan harapan. Menanyakan ketulusan, dimanakah letaknya?
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:26 AM UTC
Tandus