Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menjemputku" poems
Basah, ku lihat pipimu. Katanya kau kelelahan, Tapi yang ku lihat bukan keringat. Kata nenekku, itu air mata, Karena matamu merah. Mana mungkin, kau berkeringat dengan mata merah dan sedikit bengkak? Lusuh, ku lihat mukamu. Katanya kau tak menyentuh air seharian. Debu yang kemarin kau dapatkan ketika menjemputku di Taman Kota masih menempel, katamu. Lusuhmu bukan karena debu, Kata Ibuku, itu karena lapar. Ternyata kau sudah berhenti makan, Sejak dua hari sebelum kita bertemu. Kenapa memang? Memang aku tidak berhak tahu kalau kau sedang tidak baik saja? Alih-alih kau tidak ingin menambah bebanku, Kau selalu mengatakan kalimat-kalimat yang tidak benar adanya. Kenapa memang? Memang aku tidak berhak untuk paling tidak, membuat mu merasa lebih baik? Ah benar saja, Aku kan tidak pernah mampu, Sebab, siapa aku? Hanya tempat pelampiasan nafsu.
0
Nov 30, 2020
Nov 30, 2020 at 12:46 AM UTC
Salatiga
Hujan lebat telah turun Berganti matahari yang cerah terbit Sekarang biru Aku sendiri berjalan di tangga pelangi Lalu awan putih menjemputku Aku hanya duduk manis di atasnya Merasakan angin yang berbisik lembut ditelingaku Mengisyaratkan dan mencoba meyakinkanku, untuk jangan takut Sementara burung bernyanyi riang Menemaniku untuk berjalan-jalan Aku baru saja tiba di depan sebuah istana Penuh bunga bunga yang mekar Dan menyambutku Lalu aku ingin tinggal di sana Jika aku bisa..
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:48 PM UTC
Aku dan khayalku
Bulan mencela berselimut awan Gelap cakrawala di penutup malam Dan di jarinya selipan resah dan asa Hamba yang pasrah merindu hawanya Di bawah sunyi sesak derungan cahaya Hatta jiwanya pun meronta-ronta "Tuan, bila tak mampu bersambung jiwa dan rasa Sekurangnya pernah kita bersorai bersama Dan semoga hati kita sampai bertukar cerita Kala nanti waktu menjemputku sia-sia."
0
Sep 12, 2025
Sep 12, 2025 at 11:24 AM UTC
Lenguh