Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menghidupkan" poems
Obrolan ceria menyambut pagi Memaksaku menguap untuk terakhir kalinya Suaramu bergetar lembut melalui sambungan telepon Kau menceritakan mimpi semalam Sambil menyanyikan sebuah lagu Tak kau biarkan dunia melihatmu bersedih Walau aku tahu, Semalam tak sedikitpun kau mampu pejamkan mata Derik jangkrik bertukar dengan kicau burung Namun aku tak ingin apapun menukar dirimu Kau adalah malaikat kala mimpi burukku Kau layaknya bintang di siang hariku, Surya pada malam-malamku Kau nyanyikan sebuah lagu cinta Suaramu menghangatkan sejuknya embun Nafasmu menghidupkan diriku Memberi warna pada duniaku Membirukan langitku yang selalu hitam Memerahkan hatiku yang biru Kita akhiri percakapan hari ini Kau menutup panggilan telepon dan melanjutkan harimu Aku meresap sisa-sisa suaramu yang menggema dalam kepalaku Kubawa suara itu dalam doa-doaku Semoga suara itu masih bisa kudengar lagi nanti Semoga masih ada lagu cinta untukku
0
Sep 13, 2018
Sep 13, 2018 at 1:40 AM UTC
Lagu cinta
Mati sudah hati dan segenap perasaanku kau bunuh Mati semua pengharapanku kau regas Mati rupa dan baikmu dalam ingatanku kau rampas habis Lalu dengan mudah kau bilang maaf Sertamerta lantang kau bersumpah serapah mampu menghidupkan yg mati Tidak. Kau bukan Tuhan, kau bajingan Biar aku yg bersaksi bahwa kau pantas dikubur sedalam-dalamnya sebisa semauku Mati, mati Kau buat kamu menjadi mati.
0
Jul 27, 2020
Jul 27, 2020 at 10:25 AM UTC
Mati
Ketika rindu lebih besar dari lelah, kau biarkan malam memelukmu lebih lama. Ketika kecewa lebih tajam dari kantuk, kau temukan sunyi sebagai pelarian. Bergadang bukan sekadar menunda pagi, bukan pula kebiasaan tanpa arti. Kadang ia jadi obat asmara, kadang ia jadi ruang paling jujur bagi yang terluka. Di balik layar, tawa dan kata berpendar, menghidupkan rindu yang tak bisa dipeluk. Di balik sepi, air mata jatuh tanpa suara, melepas kecewa yang tak sempat diungkap. Malam tak pernah bertanya kenapa, tapi selalu menerima tanpa syarat.
0
Mar 7, 2025
Mar 7, 2025 at 1:45 PM UTC
Bergadang: Rindu, Luka, dan Sunyi
Pada gersangnya bibir, kerongkongan merengek tersedu-sedu seperti laki-laki kecil sepulang sekolah. Seiring dengan semakin mencekamnya kantung mata yang menghitam, dan kemarau yang tak kunjung usai bersemayam pada kelopak yang lelah, gadis kecil menyandarkan jiwanya pada ayunan yang rapuh di halaman belakang rumah tua. Di seberang persimpangan jalan, laki-laki kecil menggerutu tentang udara yang mencekik seluruh tubuhnya. Ia menyusuri jalanan tempat orang-orang kehilangan rasa. Terus berjalan di belakang waktu. Waktu yang menggerogoti jiwa orang-orang di sekitarnya. Di atas rumah pohon, di awal musim penghujan, gadis kecil bersedih. Ia menangisi bekas luka yang tak jua sembuh. Luka yang menghidupkan kembali ketakutannya. Dan ketakutan yang pada akhirnya akan memenggal kakinya di akhir musim. Musim berlalu-lalang, orang-orang datang dan pergi dengan pasti. Tapi apakah pergi selamanya tentang menghilang? Musim baru selalu tiba, sesekali tepat waktu, seringkali sulit terprediksi. Seperti kedatangan dan kepergian, kapanpun ia akan mengetuk pintu kewarasan.
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:07 AM UTC
Musim-Musim Yang Selalu Kita Tangisi.