Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menghapus" poems
Setoples garam, sejumput di jarinya Dikulum masa mudanya, berani. Bukan hanya menembak, menusuk Melayangkan doa istri yang merindu Menghapus sosok bapak, dari sang anak Dikenangnya pandangan serdadu itu Jarinya adalah maut, matanya adalah bidik Senapannya adalah kubur, pelebur semua cinta Juang adalah bahan bakar seruannya, Merdeka! Bambu itu simbol perjuangan, ibu Namaku akan seharum sukma bapak! Saat kawannya berkawin, bunting, mati Dia tetap bersolek layaknya gadis Gincunya dari belanda, mengucur langsung dari lubang pelornya tepat di jantung Bedaknya dari tanah desa bapaknya dulu bergundu Parfumnya alami dari pori-pori semangatnya berlari Belum lagi perhiasannya, Antingnya dari granat, meledak tepat di sisinya Kalungnya adalah medali sebagai pengingat maut, bergurau dengan nyawanya Tiba saatnya dia berbaring, lelah, terluka dan pusing Menjadi guling yang dicengkramnya Berselimut lumpur dan mayat sebagai kasurnya, lelap. Senja itu angin semilir bergema Kenangan atau mimpi, dia berandai Namun pecah ketika aku berteriak Ibu! Sudahkah? Aku lapar!
0
Aug 13, 2016
Aug 13, 2016 at 10:51 AM UTC
Sepanci Kenangan dan Perjuangan
Palembang, Kamis 10 November 2011 Siapa yang bisa disalahkan? Ketika hasrat ku harus dikorbankan untuk menghargai orang lain Apa yang bisa aku lakukan? Ketika hati ini tersayat begitu dalam Dan penuh penyesalan Siapa yang bisa memprediksi? Bahwa hati ku akan terus hancur setiap hari Siapa yang bisa mengerti? Bahwa aku menangisi mereka yang tidak ada Siapa?? Tidak ada! Kini ku hanya duduk terdiam Menuliskan perasaan ku Membanjiri wajah ku sendiri Menahan hati yang begitu pedih Siapa yang akan menghapus air mata ini? Ketika tiada seorang pun di sini Hanya tinggal sepi
0
Nov 10, 2011
Nov 10, 2011 at 8:05 PM UTC
Siapa?
Hati sang dewi kembali pulih Tak lagi pedih, tak lagi perih Berbumbung cinta bertirai kasih Berambang cita suci bersih Sang dewi setia menanti Sang bulan mengambang di malam hari Sebagai teman penyejuk hati Menghapus sepi yang memakan diri Bisikan malam bulan dan dewi Memecah sunyi dari langit ke bumi Berjanji setia sehidup semati Selagi bulan mengambang lagi
0
Sep 26, 2015
Sep 26, 2015 at 2:23 PM UTC
Sang Dewi
Suatu saat kulihat ronanya Atau barangkali komposisinya Dan jikala hati terpaut, tak ragu kurupainya. Kurupai serupa-rupa Karena perupa adalah aku. Warnai kanvas kosong biar tak nelangsa Karena perupa adalah aku. Kelak di lain saat kulihat ronanya Atau barangkali komposisinya Dan jikala hati terpaut, tak ragu kurupainya. Kurupai serupa-rupa; merupai hal baru Lantas kubuang rupa lampau Kulupakan tanpa mengindahkan Kulupakan selupa-lupa Karena pelupa adalah aku. Menghapus kanvas berhuni biar nelangsa Karena pelupa adalah aku
0
Nov 11, 2014
Nov 11, 2014 at 7:24 AM UTC
Perupa dan Pelupa
*Dan bayang mu semakin semu Ku tanya bulan dia tak tahu “Aku mencintaimu” katamu, sendu Tapi bohong terpampang di matamu Hujan datang menghapus cerita Aku mengadu kepada senja Kau pergi begitu saja Meninggalkanku dalam derita*
0
Nov 8, 2016
Nov 8, 2016 at 4:15 AM UTC
palsu
hari ini— kuputuskan untuk menghapus namamu dari lembar-lembar buku harian itu berhenti membuat puisi tanpa arti tidak ada lagi intuisi di sini dulu— aku pernah memberimu ruang paling indah dalam hatiku sebuah tempat yang tak pernah kuberi pada lelaki manapun sampai kau datang membawa badai membuatnya luluh lantak hingga tak ada lagi tersisa tempat untukmu aku bisa saja membuat ruang lain untukmu tapi aku tau kau tak akan lagi singgah di dalamnya lagi pula, aku sudah terlanjur berdarah dan aku tak mungkin menyembuhkannya hanya dengan berhenti memikirkanmu jadi, kuputuskan untuk berhenti mencintaimu bukan karena kenangan yang perlahan memudar aku hanya berusaha terlepas dari rasa sakit aku bukannya manyerah aku hanya mencoba bangkit dari ketidakmampuan memilikimu fri, 08/12/17; 04.39am//wib
0
Dec 7, 2017
Dec 7, 2017 at 4:40 PM UTC
Puisi Terakhir
3 tahun lalu, kamu berjanji ingin terus bersama denganku. 2 tahun lalu, kamu berjanji tidak akan meninggalkanku. 1 tahun lalu, kamu berjanji akan kembali kepadaku. kemarin, kamu berjanji akan menghapus kenangan kita.
0
Aug 31, 2020
Aug 31, 2020 at 9:07 AM UTC
janji
Bulan kembali memutari bumi untuk ke-enam kalinya di tahun ini. Bersyukur, hanya itu yang dapat kulakukan untuk segala nikmat yang masih kurasakan. Kalau kata Pak Sapardi, dalam sajaknya « Hujan Bulan Juni ». Ia itu tabah, bijak, dan arif. Namun, akankah ia turun kali ini? untuk merahasiakan, menghapus, dan membiarkan–– ––segala sesuatu perbuatan manusia, pun baik dan buruk.
0
Jun 1, 2020
Jun 1, 2020 at 2:25 PM UTC
JUNI
TANDUS Ketika kamu sudah mulai terbiasa, apa yang bisa memaksa? Segala bentuk, bahkan segala hal yang buruk rupa Yang kau benci pada mulanya Sekarang kau menikmatinya, bukan? Apa yang tumbuh di dalam sana? Di tanah yang mati kelihatannya. Yang tak pernah berharap ada biji yang tumbuh disana Tak ada buah yang diinginkan Hanya tanah tandus tanpa harapan Betapa hebatnya waktu, bermain diatas hati manusia. Mencoret, daan sekenanya menghapus tanpa mengizinkanku untuk memilih. Kenapa tanah itu tak terus tandus saja? Entah dari mana datangnya biji emas itu. Yang hanya menimbulkan keserakahan dan kedengkian hati manusia. Cuma aku sekarang disini. Diatas tanah subur yang dulunya tandus Ditengah bunga bunga yang sedang merekah. Jadi gagak hitam yang mematuki biji emas. Antara berusaha mengukir emas dengan paruh tuanya Atau berpikir emaslah sisa hidupnya. Dua-duanya mustahil. Tanah yang tandus itu sendiri, tak juga bergeming dari bubungan harapan. Menanyakan ketulusan, dimanakah letaknya?
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:26 AM UTC
Tandus
Kali ini tentang rasa Rasa yang kehilangan maknanya Entah ini putus cinta Atau patah hati Aku sudah tidak tahu Perhatianku tidak ada harganya Nyamanku mengganggunya Rasaku dipertanyakan Sifatku disalah artikan Entah harus mundur atau pura pura jatuh Agar dipedulikan Sakitnya sama saja Entah menghapus atau mengulang Apa bedanya dengan tidak mengenalnya Kabar bukan lagi prioritas Hanya sebuah kata yang diciptakan semesta Sekedar untuk merindukan luka dari salah satu mahluk bumi Untuk apa memperjuangkan sesuatu yang diam Sesuatu yang tak berjiwa Sesuatu yang tidak peduli Sesuatu yang kamu bahkan tidak kenal Bodohnya, setelah semua ini Aku masih belum menyerah
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:35 AM UTC
Hampir punah