"menghangatkan" poems
Di suatu tempat, di suatu hari
Kini ku beranjak dewasa
Dan malam ini aku berfikir
Hormonku telah mencapai puncak
Aku butuh bercinta
Ya... memang gila diriku ini
Tapi... aku benar-benar dan sangat ingin
Ku butuh pelukan seorang pria
Di setiap malamku yang dingin
Ku butuh ciuman mesranya
Untuk menghangatkan tubuh ini
Adakah pangeran yang mau melakukannya untukku?
Setiap malam aku kesepian
Hanya bermimpi...
Bercumbu dengan bayangannya
Memeluknya... menciumnya
Begitu mesra menyentuh jiwa
Gila! Gila! Gila!
Memang gila fikiranku ini
Tapi tak bisa ku hindari
Saat nafsu ini melumuri jiwaku
Pikiranku... dan cintaku
Begitu jauh...rumah pangeranku
Tak sanggup sendiri aku ke sana
Sekali lagi...
Pelukan...
Sentuhan...
Kecupan...
Dan saat-saat bercintalah yang akan ku tunggu
Hingga sang pangeran tiba
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:28 AM UTC
Pagi disemat dingin sejuk
Terbit matahari menghangatkan
Melihat senyum indah darimu
Apakah raga ini terbangun di surga ?
Memulai hari dengan imajinasi yang menghanyutkan
Memandang Sang Penerang bangkit dengan dirimu
Sungguh menyempurnakan elemen dunia ini
Khayalan di dunia nyata
Nyata atau mimpi
Dirimu sungguh sempurna di dua dunia
Satu yang memandang dekat
Lainnya yang memandang jauh.
Oct 28, 2017
Oct 28, 2017 at 10:56 AM UTC
Obrolan ceria menyambut pagi
Memaksaku menguap untuk terakhir kalinya
Suaramu bergetar lembut melalui sambungan telepon
Kau menceritakan mimpi semalam
Sambil menyanyikan sebuah lagu
Tak kau biarkan dunia melihatmu bersedih
Walau aku tahu,
Semalam tak sedikitpun kau mampu pejamkan mata
Derik jangkrik bertukar dengan kicau burung
Namun aku tak ingin apapun menukar dirimu
Kau adalah malaikat kala mimpi burukku
Kau layaknya bintang di siang hariku,
Surya pada malam-malamku
Kau nyanyikan sebuah lagu cinta
Suaramu menghangatkan sejuknya embun
Nafasmu menghidupkan diriku
Memberi warna pada duniaku
Membirukan langitku yang selalu hitam
Memerahkan hatiku yang biru
Kita akhiri percakapan hari ini
Kau menutup panggilan telepon dan melanjutkan harimu
Aku meresap sisa-sisa suaramu yang menggema dalam kepalaku
Kubawa suara itu dalam doa-doaku
Semoga suara itu masih bisa kudengar lagi nanti
Semoga masih ada lagu cinta untukku
Sep 13, 2018
Sep 13, 2018 at 1:40 AM UTC
Tawa renyahmu di sela-sela bisikan lembut
Menghangatkan malam yang dingin
Ingin kumiliki sepasang sayap di belakang pundakku
Agar bisa kubawa tubuhku ke hadapanmu, kapanpun kau katakan rindu
Kupasrahkan seluruh ragaku atas senyummu yang menyihir
Kurelakan setiap jengkal kata yang kuucapkan,
setiap detik yang kulewatkan,
setiap nafas yang kuhembuskan,
setiap detak dari jantungku,
Untuk kau kuasai
Malam-malam yang membelaiku dengan lembut
Memberiku alasan untuk terlelap dengan nyaman
Namun kau datang meretas mimpiku
Suaramu selembut angin memetik dedaunan musim gugur,
menggema dalam kepalaku
Senyummu semanis madu mengaliri relung-relung hatiku
Sentuhanmu sedahsyat guntur menggelegar
Memaksaku terbangun seketika dan menyadari
Kaulah mimpi yang tak ingin kusudahi
Kau menumbuhkan taman bunga di tengah padang pasirku
Kau memaksa bulan muncul di saat pagi hariku
Kau memutar badai pada lautku yang tenang
Kau memancing senyum saat hari-hari kelam
Kau bara apiku yang terus meradang
Kau kicau merdu yang menyambut sejuknya pagi
Kau bintang-bintang yang menutup dinginnya malam
Kau cinta yang mengisi hatiku hingga memerah
Aug 28, 2018
Aug 28, 2018 at 9:26 AM UTC
Haiii... sapaan mentari pagi hari
Tampak seorang gadis sedang menyoroti secercah kilauan matahari
Barangkali ia sedang menghangatkan hatinya yang sempat membeku
Langkah demi langkah ia menulusuri jalan
Berharap kebekuan segera terpecah dari dalam dirinya
Seolah mata air mengamini harapnya
Germercik air sungai memecah kebekuan
Bagaimana tidak, air itu ikut berisik
Semesta tahu ia adalah gadis periang
Ahhhh gadis, senyummu membangun harap yang sempat mati
Oct 2, 2020
Oct 2, 2020 at 11:02 PM UTC
Tempat yang sebelum Ramadan sepi kini ramai,
malam yang tadinya tenang kini lebih bising.
Aku tahu ini berbeda,
tapi kali ini, aku menghadapinya dengan lebih santai.
Aku hanya perlu mencari sudut lain,
di mana aroma kopi tetap menghangatkan,
angin masih berhembus pelan,
dan suasana tetap memberi ruang untuk diam.
Tak ada yang perlu tergesa,
tak ada yang perlu dipertahankan.
Ketenangan bukan soal tempat,
tapi bagaimana aku menikmatinya.
Jadi biarlah semuanya berjalan,
biarlah kota berdenyut dengan ritmenya.
Walaupun di tempat yang berbeda
Aku juga bisa duduk, menyeruput kopi,
dan menikmati sore ke malam seperti biasa.
Mar 23, 2025
Mar 23, 2025 at 3:58 PM UTC