Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menderu" poems
Terkadang bukan fisik yang terpenting. Walaupun tanpa fisik, rasa tak kunjung muncul. Mungkin aku menyayangkan cinta yang tak kian bersatu. Keraguanmu menahanku bagai angin yang menderu. Di penghujung jalan pun 'ku tersadar, keraguanmu bukan untukku. Karena cinta untukku sudah tiada sejak dulu. Aku bukan pejuang cinta, aku hanyalah pecinta yang setia. Ketika cinta pergi, itulah saat dimana pecinta undur diri. Karena untukku, cinta kita harus diperjuangkan dan cintaku seorang haruslah dilenyapkan. Bukan oleh waktu, tapi oleh angin dan debu bercampur air mata.
0
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 11:09 PM UTC
Ketika Cinta Pergi
Mata itu membiru duka lama yang menderu Badai dan lindu mengantar jasad tubuhku Terbilang sudah berapa kali kau dan aku berjanji Diantara pagi haru dan sedikit isak tangis merdu Aku suka kala kau menangisi canda tawa terbawa pula hawa panas diantara kata berlalu Rapat-rapat tak ada dalam bisik-bisik mayat Sedepak dari liang lahat berpijak, jemari kaki peti-peti mati digusur pergi Lelah lelaki itu bertelingkah Membuang gelas yang telah dituang Meracau melampau dari batas kewarasan Disana dia merumput maut, meraut ribut Pergi pulang membaur diantar lalu lalang kabut
0
Nov 16, 2016
Nov 16, 2016 at 12:39 PM UTC
Diantar Pulang Kabut
Dia, Bagaikan angin yang menderu, Lembut dan tenang menyapaku. Bagaikan matahari, Menerangi hidupku. Di kala aku kesunyian, Dia menjelma. Di kala aku kesepian, Dia juga yg ada untukku. Di kala aku sedih, Dia tempatku mengadu. Dikala aku gembira, Dia yang aku mahu. Tidak bermakna hidupku, Tanpa dia di sisi ku.
0
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 12:12 AM UTC
Dia
pergi pergi yang menyepi menyendiri di tengah sunyi sunyi sunyi yang mati terlelap dalam lamunan diri siapa peduli? sayup sayup yang menderu menyatu khidmat dalam sendu sendu sendu yang biru membisikan kata rindu apakah itu kamu? yojana yojana yang dalu torehkan gelak berbalut sedu sedu sedu yang maksum mengantarkan kamu kepadaku lantas siapa aku?
0
Sep 22, 2016
Sep 22, 2016 at 11:58 AM UTC
Ran·tai
Hembusan angin menderu rayu, Tak henti aku mendengar cerita tentang bagaimana kau sangat mencintai hidupmu, Bagaimana kau selalu melihat kebaikan dalam segala keburukan. Bagaimana kau selalu memaafkan dalam segala kecerobohan. Sial, bagaimana ada orang seperti kamu hadir di dunia? Tidak pernah mengkhawatirkan tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi, Tidak seperti aku. Kembali aku menoleh ke matamu, Yang katanya bintang pun tidak bisa bersinar se terang itu. Ku pertajam lagi tatapku, Meyakinkan diri bahwa bintang pasti menang, Dia pasti menang atas dirimu. Sial, aku salah lagi. Kamu menang atas segalanya. Termasuk atas diriku.
0
Sep 24, 2019
Sep 24, 2019 at 3:27 PM UTC
Kamu.
Langit memberi kesan Bahwa kesedihan membawa Warna ungu pucat di pipinya Tanpa seorang teman Tanpa awan kelabu untuk Berkabung dengan kesendiriannya Hujan dikenal sebagai pembawa sendu Namun dia tak datang untuk bersyair diantara gemuruh guntur yang berkilat Diantara gemerlap air yang ditangisinya Langit tetap merindu Bersedu sedan dan menderu Memanggil-manggil nama yang tidak diketahui oleh siapapun Meninggalkan ruam ungu Diantara pucat pasi di pipinya
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:27 PM UTC
Kala Langit Ungu Pucat
bakar saja paru-parumu. hantam saja semua, biar jatuh berhamburan sampai koyak. tendang sekeliling deretan batu bata yang tersusun rapi sampai kakimu ngilu. aku telah kebal pada tatapan tajammu. telingaku tuli dari raungamu yang menderu. ketukan bunyi lidah tak bermakna kian lesap mengganggu. biar bergelut dengan bingungmu. aku benci caramu menyatakan perang.
0
Jul 11, 2019
Jul 11, 2019 at 11:56 AM UTC
marah.