Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"membisu" poems
Darah Biasanya keluar rumah Saat tengah malam Sambil menangis Hanya Untuk bermandikan Seseguk amis Setelah itu, Ia lanjut merajut Duka Atas air maut Yang tak kunjung jatuh Darinya Sama, Suaramu Terdengar kala malam Terisak-isak perih Dan masih berbau darah Tapi setelah kuratapi Sekarang makin legam Lagi-lagi Suaramu dibebani Pagi yang merekah-rekah Dan pada saat selalu saja, Ia akan tergesa membisu basi Menunggu sambutan gulita Keduanya tidak sadar Bahwa Mereka saling Beradu pekat Suaramu tapi Masih percuma Alunannya mengais pedih Langkahnya meringkuk mati Seolah tak tahu Terus tanya Siapakah tuannya Mungkin Ternyata Memang bukan kamu Dan di saat seperti ini Gelap biasanya Keluar terbahak Terbatuk Tertatih meracau rindu Kalau ia lumpuh Dan tak dapat lagi menghentak Suara liar yang kerap Bersenandung pedih Mungkin ini sekedar hantumu Menyanyi Main-main dengan duka malamku
0
Sep 20, 2015
Sep 20, 2015 at 7:19 AM UTC
Sesikat Sakit Gentayangan
Palembang, 24 November 2013 Suara itu Suara yang tak terdengar, suara yang membeku Menyentuh dalam kalbu Miris, suara itu Bau itu Bau yang tak tercium, bau yang melebur Menyayat hatiku Kasihan bau itu Pandangan itu Pandangan yang terpaku, hanya diam membisu Mengabaikanku Tak menoleh sedikitpun Sentuhan itu Senyuhan palsu, yang tak tersentuh Memukulku, di sini Di arah sini, dekat hatiku Pikiran ini Pikiranku, yang tak berujung Memikirkanmu Membuat aku ragu
0
Nov 24, 2013
Nov 24, 2013 at 10:15 AM UTC
indraku
Hentian tak bermakna tiba kegelapan tak semestinya hiba keindahan tunjang sehingga pucuknya bukanlah anugerah dalam sekilat cahaya sambungan cerita kita yang punya tapi beza adaptasinya terkadang patah renyuk tak disangka terkadang wangi semerbak bunga terkadang terik memancar sinar terkadang kaku kelu membisu namanya perjuangan masihkan kekal entahkan wujud entahkan binasa menggapai semua mampukah kita menyelongkar hingga tak ketemu jua masakan diri menongkah jaya moga memijak di alam nyata agar sempurna gambaran selamanya....
0
Oct 11, 2014
Oct 11, 2014 at 10:05 AM UTC
Di mana...
Kutarik secarik kertas putih Kutumpahkan tinta hitam Kutulis namamu Kuceritakan segalanya Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong Hingga menjadi sebuah kupu-kupu Terbang melintas dunia Berakhir dengan kematian Tetes demi tetes tinta Menyusun kata per kata Membentuk sebuah kalimat yang ramai Mewakilkan mulutku yang membisu Untuk siapa kubuat tulisan ini? Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat Putih suci ditimpah hitam penuh dosa Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. " Jemari bergerak melipat surat itu Berbentuk perahu Perahu kertas. Raga berjalan ke tepi laut Seakan jiwa yang menggerakkan Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa Tangan melepaskan surat itu Perahu kertas, Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu Berlabuhlah di neraka Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
0
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Perahu Kertas.
Skycrapers on land of history Buildings filled with people who tries to live A twilight city When it's the first time to saw an angel, You. Berjabat tangan diawal realita Berpeluk mesra diakhir imajinasi Aku jatuh padamu Terlalu dalam. Walking around the city Feels like just you and me Talking things, laughing things Living our day in different dimension. Hari - hari disisimu membuat hari mewangi Ketika kaki menginjak di depan duniamu Menatap mata Hati pun berbicara, mulut membisu.
0
Dec 13, 2017
Dec 13, 2017 at 9:16 AM UTC
Twilight City.
Salah apa cermin padamu hingga kau membenci itu Salah apa cermin padamu padahal hati yang sedang biru Salah apa cermin padamu padahal ia hanya membisu ?
0
Jul 7, 2020
Jul 7, 2020 at 9:36 AM UTC
Salah Apa Cermin Padamu?
Semua begitu suram, Semua begitu kelam, Semua begitu buram. Kupu-kupu tak lagi berkumpul di kebun, Lebah tak lagi menghasilkan madu, Burung tak lagi berkicau merdu. Ditanyakan pada alam, "Apahal semua ini?" Ditanyakan pada malam, "Apa yang terjadi?" Ditanyakan pada siang, "Mengapa seperti ini?" Tapi percuma saja, Semua hanya bisa membisu. Bagai abu sisa bara yang masih menyala.
0
Jul 20, 2019
Jul 20, 2019 at 12:47 PM UTC
End
sayup sayup 'ding ding' terlihat, saya terkejut segera, saya melaju buru buru 'ding ding' diam, saya kira membisu terpaksa, saya masuk gusti. tadi itu sangatlah manis sudah diperbolehkan, terimakasih.
0
Sep 9, 2019
Sep 9, 2019 at 11:26 AM UTC
sego megono. dekatnya tapi.
Kepada bumi yang semakin liar. Dipenuhi sesak yang membakar. Kepada para manusia yang disebut pemimpin. Lihatlah tempat-tempat di mana kami bermukim. Panas, seakan membakar diri. Peluh berjatuhan semakin jadi. Tanpa hirauan dari kalian para petinggi. Melepas kata seolah akan kami pahami. Sudahilah kepura-puraan kalian. Kami muak akan kepalsuan. Kau bungkam kami dengan janji manis. Kemudian kau tertawa dengan bengis. Hancur sudah perlahan mimpi. Tak satupun orang-orang yang peduli. Terbujur kaku dingin diam membisu. Kepada siapa lagi kami kan mengadu. Banyak kata terbuang percuma. Mengkoarkan segala duka penuh kecewa. Kepada mereka para petinggi yang berkuasa. Takpunya hati dan rasa bela sungkawa. -M-
0
Sep 29, 2019
Sep 29, 2019 at 7:00 AM UTC
Para Petinggi