Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"memberimu" poems
Palembang, 7 Mei 2012 Gambaran indah wajahmu selalu terlukis di awan hidupku Angin pun selalu membawa suaramu di melodiku Lonceng bersuara merdu tak semerdu suaramu di benakku Musim selalu berganti namun kau tak terganti Akar ini bersarang di hatiku Namanya pasti kau tahu, akar cintaku Fatamorgana tak bisa ku temukan di sini Rupamu tertinggal untuk ku nanti Embun telah membangun sarangnya di hidup ini Di dalam palung jiwa ini Engkau fatamorgana ku Riwayat hidupku Indahmu, adalah Cintaku Kecintaanku akan kamu Fase cintaku Energi mutakhir yang diciptakan darimu Rasa sakit selalu Genangan air mata melulu Ucapanku dulu Setelah ku memberimu itu Otakku mati, lidahku kelu Nisanku, tak perlu kau tahu
0
May 19, 2012
May 19, 2012 at 8:56 AM UTC
GFF
Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau mulai memberi nasihat, kau tak melakukan apa yang kuminta. Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau mulai bilang aku tak perlu merasa begitu, kau menginjak-injak perasaanku. Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau merasa harus berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalahku, kau telah mengecewakanku, memang aneh kelihatannya. Dengar! Yang kuminta hanya kau mendengarkan bukan bicara atau berbuat—hanya dengarkan aku. Nasehat itu murah; 60 sen akan memberimu rubrik nasehat yang ada di koran. Dan itu bisa kulakukan sendiri. Aku bukan tak berdaya, mungkin kecil hati dan bimbang, tapi bukan tak berdaya. Ketika kau lakukan sesuatu untukku yang bisa dan perlu kulakukan sendiri, kau menambah ketakutan dan kelemahanku. Tapi saat kau terima kenyataan bahwa aku merasa apa yang kurasa betapapun tak masuk akal, aku bisa berhenti mencoba meyakinkanmu dan memahami apa di balik perasaan yang tak masuk akal. Dan ketika semuanya jernih jawaban menjadi jelas dan aku tak butuh nasehat. Perasaan-perasaan yang tak masuk akal menjadi sebaliknya saat kau memahami ada apa di balik semuanya. Mungkin karena doa itu manjur, terkadang, untuk sebagian orang karena Tuhan tak bersuara, dan tak memberi nasehat atau mencoba memperbaiki sesuatu. Tuhan hanya mendengarkan dan membiarkanmu menyelesaikannya sendiri. Jadi, tolong dengar dan hanya mendengarkanku. Dan bila kau mau bicara, tunggulah giliranmu, dan aku akan mendengarkanmu.
0
Mar 5, 2015
Mar 5, 2015 at 3:22 AM UTC
Dengar
Aku pernah menjadi angin Menyusuri tingkap-tingkap rumahmu Membawa sejuknya pagi ke kamarmu Semilir menyentuh kulitmu, membangunkanmu Aku pernah menjadi awan Melayang-layang mengikutimu Menahan risau sampai menghitam Mendung kala itu Aku pernah menjadi lagu Kala kau menatap melalui kaca jendela Beradu dengan deru hujan Sayup menemani lamunanmu Aku pernah menjadi nada Suara yang kau beri warna Yang terus kau latih Selalu kau nyanyikan Aku pernah menjadi naskah Cerita indah di balik luka Dan kau adalah ratunya Drama yang kau pentaskan Aku pernah menjadi malam Dingin namun memberimu kebebasan Mengakhiri harimu yang lelah Menemanimu terlelap
0
Sep 8, 2017
Sep 8, 2017 at 5:10 AM UTC
Pernah
hari ini— kuputuskan untuk menghapus namamu dari lembar-lembar buku harian itu berhenti membuat puisi tanpa arti tidak ada lagi intuisi di sini dulu— aku pernah memberimu ruang paling indah dalam hatiku sebuah tempat yang tak pernah kuberi pada lelaki manapun sampai kau datang membawa badai membuatnya luluh lantak hingga tak ada lagi tersisa tempat untukmu aku bisa saja membuat ruang lain untukmu tapi aku tau kau tak akan lagi singgah di dalamnya lagi pula, aku sudah terlanjur berdarah dan aku tak mungkin menyembuhkannya hanya dengan berhenti memikirkanmu jadi, kuputuskan untuk berhenti mencintaimu bukan karena kenangan yang perlahan memudar aku hanya berusaha terlepas dari rasa sakit aku bukannya manyerah aku hanya mencoba bangkit dari ketidakmampuan memilikimu fri, 08/12/17; 04.39am//wib
0
Dec 7, 2017
Dec 7, 2017 at 4:40 PM UTC
Puisi Terakhir