Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"memang" poems
Bila memang AKU BUKAN PILIHAN HATI MU Biar ku pendam CINTA DALAM HATI ku Sungguh, yang akan ku berikan UNTUKMU SELAMANYA Pergilah kau SEJAUH MUNGKIN membawa LAGUKU Ke TEMPAT TERINDAH di SURGAMU RASA SAYANG ini hanya untukmu Dan ku akan menunggu DI SINI UNTUKMU Berharap kau bawa LAGU CINTA yang TERCIPTA UNTUKKU WAKTU YANG DINANTI akankah datang? DEMI WAKTU ku kan berubah Tak akan SEPERTI YANG DULU Yang hanya berkhayal melihat wajahmu Di BAYANG SEMU Sungguh indah kau bagiku TIADA YANG SEPERTI DIRIMU Yang ku kagumi sepanjang waktu Ku rindu SAAT INDAH BERSAMAMU Walau di mimpiku aku mencintaimu Namun, APALAH ARTI CINTA tanpa hadirmu Kumohon IZINKAN AKU Member CIUMAN PERTAMA KU untukmu Karna saat indah itu mungkin TAKKAN TERULANG BERJANJILAH kau tuk selalu menghiasi ku Karena tak satupun SAHABATKU yang indah seperti mu Ku ingin terbang MELAYANG UNTUK TEMUKAN dirimu yang SESUNGGUHNYA Ku sadari memang BUKAN AKU untukmu Tapi, aku hanya ingin kau BERIKAN AKU CINTA Meski sedikit, walau terpaksa Tak lelah SUARA HATI ku memanggilmu Yang ingin menjalani CERITA BERSAMAMU DOA ku panjatkan selalu Memohon tuk bertemu kamu Meskipun kamu punya CINTA YANG LAIN Ku rela melepasmu untuknya Kau TAK PERLU mengaku bahwa kau cinta aku Memang, tak pernah kau cinta aku Yang ku kenang kini adalah Ku bahagia mengenal LAKI-LAKI seperti kamu
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:33 AM UTC
Ungu
Palembang, Selasa 21 Juni 2011 Aku punya mimpi mulia Butuh seribu tahun tuk menggapainya Ku tak serius, hanya mengira Karena ku selalu tak sempurna tuk jalaninya Hingga betisku biru Lututku lecet Bobot tubuhky berlipat Sampai pikiran ku sangat terbebani Hanya dapatkan phobia sesaat Saat api kulihat di mata tepat Mulutku kelu ludahku kering dan aku berkeringat Dan tersadar tak satupun peduli aku di malam pekat Ingat hanya aku tahu semampunya Tak buktikan apa-apa yang telah ku buat Orangpun merendahkan aku bagai tersiksa Tak bisa ku membela sendiri karna tlah telat Sadar-sadar di hari nan senja Bahwa ku makan hanya sisa saja Ku terima karena ku akui aku memang suka Berharap perbaikan akan datang mangubah semua Nama-Nya selalu ku sebut di setiap masa Meski aku dan Dia tahu bahwa aku masih salah Namun salahkah aku masih ingin dicinta? Kepalaku berat bagai hampir tak bernyawa
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:28 AM UTC
Short Story
Palembang, 14 Januari 2014 Apa yang susah? Menguasai diri sendiri memang susah Melakukan ini tapi takut, takut salah Tapi tidak dilakukan akan menyesal, juga salah Apa yang mudah? Memerintah orang memang mudahnya Menyuruh orang melakukan kehendaknya Entah siapa yang untung dan rugi di antaranya Apa yang gampang? Menghakimi orang juga gampang Tak peduli tampang Mau presiden, mau pejabat, mau gembel asal hati senang Apa yang gampil? Menasehati orang juga gampil Tinggal ucapkan kalimat kecil Berlagak bak orang yang terbiasa nan terampil Apa yang sukar? Menyadarkan orang itu yang sukar Meski hati sudah dongkol dan mulai terbakar Apa daya orang itu tak sadar-sadar #miris
0
Jan 14, 2014
Jan 14, 2014 at 11:42 AM UTC
Apa Yang Sukar?
Kini belum dipertemukan Aku dengan soulmate yang dinanti Teman ku menjauh Aku sendiri di sini Tapi biar Aku jalani sendiri hidup ini Toh di pulau seberang Ku cari lagi teman sejati Memang tak jodoh Aku berteman dengan semua Di Jakarta ini aku berbuat kesalahan Hingga tersakiti oleh mereka Mereka membuat ku cemburu Tapi aku rela asal mereka bahagia Biar aku diam di sini Agar mereka tak tersakiti Oleh sikap ku yang tak sengaja Melukai hati mereka Maaf aku teman, ku tak ingin menyakiti Asal kalian bahagia, siksa saja aku ini Created by Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:39 PM UTC
Mencari Teman
Palembang, Kamis 6 Januari 2011 Hari ini aku seneng banget Aku sedang dekat dengan seseorang Dan aku tak yakin menyebutnya cinta Karena aku tuk saat ini tak percaya dengan cinta Cinta memang indah sih Tapi aku sedang tidak beruntung saat aku dengan mantan Aku sekarang bisa merasakan dua belas rasa cinta Sayang, kangen, senang, kecewa, cemas, marah, perih, sedih, menyesal, bimbang, benci, dan lain-lain Oleh karena iti aku tak sanggup bertemu cinta Lebih baik tunggu saja hingga aku siap Tapi bila aku mendapatkan satu kesempatan lagi Aku berjanji tuk mengambilnya Tak akan ku sia-siakan kesempatan itu Sungguh aku berjanji Aku tak sanggup untuk bercerita tentang nya Karena ku takut rasa itu akan berubah Dan yang ku rasa akan berbeda Pasti itu akan menyakiti hatiku Sangat Dan yang manusia tahu Mereka tidak mau tersakiti Apalagi oleh cinta :)
0
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 2:06 AM UTC
12 Rasa Cinta
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
dari awal memang aku hanya kertas kosong bagimu tak bisa digambar, tak bisa ditulis yang terlupakan, yang tertinggal yang terbuang, tak berharga meski ku coba tuk tulis sendiri kau hapus begitu saja, dan kau buang nama ku tak pernah kau sebut mungkin karena kau lupa mungkin karena kau tak suka aku Erikaa kau bisa panggil ku apa saja sesukamu tapi jangan, jangan kau tak menyapaku ku baca statusmu diam-diam, dari akun temanku, teman baikku kau benar suka dia? haha tentu saja! kau kembali ke kampung halaman, besoknya kau pergi lagi menjemputnya oh betapa beruntungnya dia dicintai malaikat sepertimu jika kau menikah, apa ada kau akan mengingatku? mengingat kekonyolanku? menertawai kebodohanku? kini semuanya ku buang, semua tentangmu senyummu, candamu, tapi ku mohon, izinkan aku menyimpan foto-foto mu bukan foto dirimu, tapi foto mu, pohon, jalanan, Samudera Atlantik, yang kau foto No! Akan ku hapus semua! Terima kasih tuk selama ini. Kau tlah berikan 0.5% cinta mu padaku Terima kasih telah 99.5% membenciku sehingga aku sadar akan kedudukanku Terima kasih sudah 100% mencintai dia aku yakin kau takkan menyakitinya ""Selamat G----- F--------- F-------- Semoga kamu BAHAGIA""
0
Sep 24, 2012
Sep 24, 2012 at 11:35 AM UTC
love 0.5%
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
0
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
Bidadari Fajar
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Continue reading...
6
Yang mengutarakan salam pagi ini Hanya sesayat keheningan Dari reruntuhan nafas yang tiap isapnya Riuh dirundung rindu Perhatikan, Ini salah satu pertanda Soal dekadensi kidung Yang biasanya, tanpa kita sadari Teralun lemas tiap pagi Lembut tanpa gemericik Kidung itu bisa jadi sudah keterlaluan Bisa jadi ia terlalu sadis pada sepi tiap subuh. Senandung itu, memang benar, Sebatas bisikan-bisikan lantang Yang gemar memuja sepi dengan memporak-porandakannya, Yang gemar menghantui sunyi agar  terlelap sebelum terbit. Mungkin, kidung itu terlalu masokis Bernyanyi sendiri tanpa ada yang Peduli pada dendangnya yang kelewat mengusik Dan kelewat menggoda, sehingga semua lebih memilih Terlelap saja. Bukan berdansa. Ini salah satu pertanda Soal dekadensi kidung perih Yang biasanya teralun malas tiap pagi Menggerakkan setan-setan kecil Untuk membutakan mata dan membuat tuli dalam sekejap. Jangan berdansa. Tak ada yang peduli, semua masih tertidur. Dan itu bisa jadi salahmu sendiri. Tapi tak apa, iblis masih menyayangimu Dengan sangat manusiawi. Lagipula, seperti pagi ini, Kesunyian kembali bersila pada permadaninya Ditemani kicauan mencibir burung rohani. Selamat pagi, Senyap. Anda yakin tidak ingin bangun Dan menanggapi kidung yang terus memanggil Untuk berdansa setengah jiwa? Subuh hanya datang seterbit sekali. Tuhan hanya merindu lima kali sehari.
0
Feb 16, 2016
Feb 16, 2016 at 11:02 AM UTC
Dekadensi Kidung Tiap Pagi
Aku berdosa, Telingaku bunuh diri. Sudah baru-baru ini Aku sepenuhnya tuli Aku tak tahu lagi   Apa kata dedaunan Pada tanah yang terantuk lemas dibawah Atau ceracau yang diteriakkan Bunga keparat Untuk mayat dingin si kumbang. Bahkan di restoran tua Yang setiap sela kayunya berdarah dingin, Tempat rintihan musik bisumu selalu dialunayunkan Semuanya hanya tertawa hening lalu mati begitu saja. Dan meskipun duduk menghadapmu Aku masih tak dapat mendengar Suara mengaji jam setengah mati Yang kerap menceritakan Dongeng gelap kita Dari lampau sampai me— La lala la la       lala la lala La la la la la lala            La la la lalala la la La —Lampaui Pemakaman hati yang mati dipancung Di pekarangan rumah tiap senja gulana Yah, baru-baru ini aku tuli Bisu lagi, Mampunya cuma mengumpat dalam tulis. Dan dihadapkan denganmu, Sesekali dalam terkadang Aku anehnya dapat mendengar Serintikan isak tangis yang Sama sekali tidak kita cucurkan Lalu ini semua salah siapa, Kalau aku baru tuli Lalu kamu sudah bisu? Apa memang ini dosaku? Di palangnya tertulis; Nama: Siapapun yang menangis Di sela-sela pengakuan dosa Kematian telinga gila Dan kelumpuhan bibir hambar Kita tiba-tiba melongo, Tuhan tertawa Sabar lagi bahagia, Mengisyaratkan untuk Sudah, ya, Simpul mati saja senyum satu sama lain.
0
Aug 30, 2015
Aug 30, 2015 at 8:46 AM UTC
Pengakuan Dosa Penyair Tuli Pada Sebuah Film Bisu
sedikit demi sedikit, aku sudah tidak merasakan kamu di cangkir kopiku setiap pagi. entah rasanya mengapa sangat sangat habar. seakan kamu sudah benar-benar pergi dari sini. tidak ada yang membuat jantung ini seakan sudah tidak berada di tempatnya lagi ketika mataku menangkap sosokmu. aku tahu, nantinya memang kamu akan pergi. mencintai pilihanmu yang lebih sempurna dariku. aku hanya manusia, mi querido. aku bukan dia yang lebih dari manusia normal. dia spesial untukmu. sedangkan aku tidak. oh, tidak. aku tidak pernah kemana-kemana. aku tidak pergi. aku tetap disini dan menunggu. hanya sepertinya kamu saja yang tidak pernah sadar jika aku disini. sudah menerka-nerka. semua ini akan berakhir tidak berbalas. semua ini berakhir sia-sia. tapi apakah kamu tahu? semenjak kamu bersama dia, aku sangat menikmati hobiku merangkai aksara tentangmu. walau kadang maknamu sudah terasa hambar. kamu tahu mengapa? karena tangan ini tidak akan pernah mampu meringkuh wajahmu dan mulut ini akan kaku ketika bertatapan denganmu. aku membiarkan tangan ini menari-nari diatas papan kata dan merangkai karangan tentangmu.
0
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:09 PM UTC
tidak terucap
Palembang, Selasa 29 November 2011 Aku yang selalu menyalahkan diri sendiri atas kesalahan ku Terus menerus berfikir apa pantas tuk mendapatkan itu Bila berdoa saja pun aku selalu bolos Aku yang kata orang tak sadar diri Selalu dan selalu membela diri Memang iya, aku melakukannya sendiri Aku yang sedang-sedang saja Tak pintar, tak menarik pun tak beruang Masih mau bersedekah untuk batin ini juga Aku yang segalanya Segalanya bohong, malas, bodoh Hanya bisa menangis ataupun acuh seperti orang hilang Aku yang masa depannnya suram Tak berani berucap mau jadi apa Kalau mengadu pada-Nya saja aku sungkan Aku yang hidupnya menyedihkan Duduk memangku harapan Menunggu keajaiban Tuhan
0
Nov 29, 2011
Nov 29, 2011 at 7:44 AM UTC
Aku Yang Menunggu Keajaiban Tuhan
Kepada Kamu. Kita terlalu sama. Suka menangis diam diam. Kelihatan tegar di luar, padahal hancur di dalam. Ketika kini kulihat tawamu yang terlalu keras, aku tahu bahwa kau sedang tidak baik baik saja. Kau memang ahli bermain peran, tapi tidak di hadapanku. Cobalah hidup jujur terhadap apapun yang kau rasa. Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sia-sia. Hidup tidak melulu soal bahagia, tapi juga sebaliknya. Itu kemutlakan yang tak bisa kau tolak. Seperti sekarang, jangan selingkuhi perasaanmu sendiri, menangislah. Sungguh, tidak ada yang salah dengan jatuhnya airmata. Airmata bukan penanda lemah, sebaliknya itu pertanda agar kau tidak lengah. Setiap kita memiliki lukanya sendiri sendiri. Juga, memiliki cara sendiri sendiri untuk memulihkannya. Airmata adalah cara lain kau berbahasa dan mengungkap rasa, ketika kau tak sanggup mengolah kata. Biarkan luka terbawa oleh setiap tetes airmata yang menitik sukarela. Terkutuklah mereka yang percaya ‘anak hebat tidak menangis’ lalu menurunkan kebijakan yang tidak bijak itu pada anaknya. Mereka pasti mati rasa. Izinkan aku menemanimu, tanpa banyak bicara, memberi petuah yang menjemukan, atau bertingkah konyol agar kau tertawa. Aku hanya akan duduk di sampingmu, menemani selama kau mau. Dan sesekali memberi genggaman, untuk menguatkan. Note: bahkan airmata adalah buah tawa, saat aku bahagia bisa menemanimu dan mendengar cerita kegiatanmu seharian.
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 2:40 AM UTC
Tear
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial. Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu. Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu. Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu. Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’. Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela. Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang. Kamulah tempatku pulang.
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
11.00 - Aku, Kamu dan Jogja.
Jakarta, 31 Desember 2009 Dulu aku cinta kamu Kamu satu yang indah bagiku Dirimu yang ku rindu dalam tidur ku Tapi dulu… Hanya dulu… Entah… Ku tak paham rasa ini Alasan ku betapa cinta kamu Tapi, cinta ku memang tanpa alas an Sekarang, baying mu kabur Cahaya mu redup Tak tahu aku kemana mencari Engkau berubah liar… kejam! Tak sudi lagi air mataku Menangisi makhluk seperti mu Tapi memang, aku masih cinta kamu!
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:35 AM UTC
Masih Cinta
Pukul satu, kakiku melangkah ke sudut warung kecil itu Sunyi, lalu ku pilih tempat duduk di ujung sana Setelah memesan kopi, pilot ku menggores kertas Yang sama putihnya dengan kulitmu Tak lupa kubakar ujung rokokku Yang namanya sehangat pelukanmu Lalu kuhembuskan kepulan asap tembakau Menguar sama harumnya dengan tubuhmu Sepekat nikotin di pembuluhku Ku tulis kisah kita, dari awal mula hingga akhir bersua Yang terdampar di sudut kenangan dan rindu, dan kupaksakan masuk ke dalam loker kerjaku Sehingga lupa ku adalah tabu, dan memoir adalah ***** Dirimu ku lukis dalam surat ini; "Di hingar bingar kota, dimanakah kau berada? Jika lelahmu beradu, dimakah kau berteduh? Aku disini kasih, Surabaya tempatmu lari Menolehlah jika kau ada di sudut persimpangan Mungkin, aku disitu mencari dan mencari Sisa-sisa cintamu jika itu memang terjatuh Menadah air matamu, jika itu memang tercecer. Temui aku, jika berkenan menjumpa nostalgia" Kuhembuskan uap-uap tar yang menguning Menerawang di bohlam remang-remang. Ketika kabut itu pergi, begitu pula aku Saat api ini padam, redup juga jiwaku Pukul tiga aku beranjak, Bayar dan pergi Surat itu kutinggalkan di atas meja.
0
Apr 7, 2016
Apr 7, 2016 at 2:05 AM UTC
Secarik Surat Cinta dan Sebatang Rokok Surya
Semusim ini ku jalani dengan bebas Hingga suatu hari di musim berikutnya aku tersesat Menanggung sakitnya duri kehidupan akibat perbuatanku sendiri Di saat begitu siapa yang ada bersamaku di jalanan sepi? Kalian bisa lihat sendiri betapa kehilangannya diriku Kehilangan akal sehatku Kalian tidak mengerti, kalian tidak mau mengerti Aku memang terlalu rumit Musim ini aku ditemani sepi Melanglang buana sendiri Mencoba tuk temukan ketenangan yang pernah aku miliki Aku duduk lama di tepi sungai dan menatap ke air seraya lirih Menggoyangkan kaki-kakiku yg beralas sepatu usang Merasakan angin sore menusuk hingga ke telapak kaki Aku menunggu mentari jatuh di ufuk barat Kemudian pulang berjalan kaki berharap pamrih Hari ini aku masih sendiri Musim masih lama berakhir
0
Nov 20, 2013
Nov 20, 2013 at 8:12 AM UTC
Musim Ini
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main - main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi. Belajar dari 'hujan desember' Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ? Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ? Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu .. Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan " Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati .. Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ? Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" .. Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit .. Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur . Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal. Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya .. Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat .. Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH .. Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
0
Feb 23, 2015
Feb 23, 2015 at 4:51 AM UTC
Be Rain
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main - main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi. Belajar dari 'hujan desember' Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ? Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ? Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu .. Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan " Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati .. Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ? Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" .. Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit .. Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur . Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal. Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya .. Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat .. Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH .. Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
Continue reading...
17
Membinasakan, demi bertahan Menindas, mencerca, demi jadi raja hutan (singa kali..) Ganas dan bengis, mengingkari kawan seperjuangan Memang, manusia sekarang banyak yang tak lebih dari binatang! Aku juga ingin jadi binatang Binatang semut.. Ulat dimakan ayam Ayam dimakan elang Elang dimakan harimau Semut? Semut tak pernah masuk rantai makanan Karena ia kedahuluan mati terinjak Walau begitu Semut menggemukkan tanah Tanah gembur tempat tumbuh rumput dan pohon subur Rumput dan pohon subur jadi pusat rantai makanan Kalian lihat kan peran semut? Cakap dan mulia urusannya Saking jadi pahlawan Semut tak layak dinamai binatang Mereka tak pas jadi tandingannya hehe Makanya aku ingin jadi semut
0
Aug 4, 2016
Aug 4, 2016 at 1:18 PM UTC
Ingin jadi semut
Palembang, 30 Desember 2013 Ini terjadi lagi, tuk yang kesekian kali Jiwaku terbentur batu, keras sekali Retak, hampir pecah berapi Gesekan kemarahan dan penyelesaian hati Menjadi mayat tak berhati Tak mampu berfikir lagi Menahan diri tuk bertahan dalam raga ini Meski kaki ini tak mampu berdiri Nafas ini tak mampu berhembus lagi Hanya satu yang aku yakini Keajaiban yang benar ada di dunia ini Rencana indah Tuhan yang lain Yang tak pernah bisa dihindari Hidup tidak selalu buruk atau baik Perubahan kecil sangatlah berarti Tuk hidupku yang sunyi Aku memang sendiri Tapi ku tak ingin sembunyi Apapun yang kan terjadi akan ku hadapi aku yang memilih aku yang jalani Ini bukanlah janji Ini adalah curahan hati Keinginan yang tak mampu ku raih Namun ku jua tak lelah berlari Meraih keingnan di hidup ini Jika kalian membaca ini Tolong, hargai dan temani Aku di sini sendiri ...
0
Dec 30, 2013
Dec 30, 2013 at 2:09 AM UTC
Curahan Hati
Aku harus mendaki tebing bernama proses; menaklukannya. Legenda berkata bahwa diujungnya tinggallah sesuatu yang baik. Namun memang semua pendaki tau bahwa tebing yang satu ini tidaklah mulus. Bebatuan, dataran curam, udara dingin, debu menyesakkan, silahkan kau sebut semua hal itu. Mereka ada di tebing ini, selalu. Semesta kejam dan kamu sendirian. Setidaknya itulah yang harus aku ingat. Aku tidak mau berujung hanya sebagai seonggok jasad dengan nama tertulis. Maka dari itu datanglah keharusan untuk mengejar sesuatu yang baik ini. Aku takut. Aku takut. Sebenarnya aku takut. Karena semacam tebing bukanlah rumahku. Tebing kurang akan rasa nyaman dan rasa cukup tau. Sungguh tak pula aku paham benar dengan apa yang dimaksud dengan 'sesuatu yang baik'. Namun semua orang tetap harus mendaki, entah kenapa.
0
Nov 7, 2015
Nov 7, 2015 at 5:52 AM UTC
Sajak #1
Di suatu tempat, di suatu hari Kini ku beranjak dewasa Dan malam ini aku berfikir Hormonku telah mencapai puncak Aku butuh bercinta Ya... memang gila diriku ini Tapi... aku benar-benar dan sangat ingin Ku butuh pelukan seorang pria Di setiap malamku yang dingin Ku butuh ciuman mesranya Untuk menghangatkan tubuh ini Adakah pangeran yang mau melakukannya untukku? Setiap malam aku kesepian Hanya bermimpi... Bercumbu dengan bayangannya Memeluknya... menciumnya Begitu mesra menyentuh jiwa Gila! Gila! Gila! Memang gila fikiranku ini Tapi tak bisa ku hindari Saat nafsu ini melumuri jiwaku Pikiranku... dan cintaku Begitu jauh...rumah pangeranku Tak sanggup sendiri aku ke sana Sekali lagi... Pelukan... Sentuhan... Kecupan... Dan saat-saat bercintalah yang akan ku tunggu Hingga sang pangeran tiba
0
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:28 AM UTC
Di Suatu Tempat, Di Suatu Hari
aku bernama sepi... tanpa ayah, ibu, sahabat, apalagi seorang kekasih hidupku tak bahagia... tapi aku tak pernah frustasi aku tak pernah berpaling dari realita... karna ini memang nasibku... aku bernama sepi... tanpa ayah, ibu, sahabat, apalagi seorang kekasih! berbahagialah kau yang memiliki semuanya! sepi lalu meninggalkanku bahagiakah aku?
0
Sep 20, 2009
Sep 20, 2009 at 11:50 PM UTC
sepi bercerita padaku tentang hidupnya
Biar ku sendiri Ku rela semua hilang Dari pada ku sakiti Biar aku yang menderita Lirik indah idolaku Cukup sejuk melindungi aku Dari panas ocehan semua Atas salah ku kepada mereka Ku tutupkah mulut ini Agar sepatah kata menyakiti Tertahan bahkan mati Haruskah ku sendiri Memang tiada teman untuk ku YAng baik dan mengerti Kekurangan pada diri ini Jika memang tidak ada Ku siap hidup sendiri Dengan merantau ke pulau seberang Ku jalani hidup yang tenang Created by Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:44 PM UTC
Derita Hati
Maaf Maaf Maaf Kau bukan secarik kertas yang dibuang begitu saja setelah kupakai Kusut, coreng-moreng Bukan, kau adalah kartu pos yang disimpan rapi di lemari jati Meski usiamu tiada muda Kau bukan terik matahari yang dicaci orang ketika ada, diabaikan ketika tiada Bukan, kau adalah suara rintik hujan yang dipuji, dikagumi, didengar Meski kau membasahi baju mereka Kau bukan jam rusak yang digantung terlalu tinggi untuk diganti Berdebu, usang Bukan, kau adalah api yang dicari orang sampai kalang-kabut Meski kau membakar rumah mereka Tapi maaf jika aku membuatmu merasa seperti secarik kertas, terik matahari, dan jam rusak Bukan niat ingin menyakiti Tapi aku memang tak bisa dicintai Maaf.
0
Oct 21, 2013
Oct 21, 2013 at 6:17 AM UTC
Maaf