"memakan" poems
Hati sang dewi kembali pulih
Tak lagi pedih, tak lagi perih
Berbumbung cinta bertirai kasih
Berambang cita suci bersih
Sang dewi setia menanti
Sang bulan mengambang di malam hari
Sebagai teman penyejuk hati
Menghapus sepi yang memakan diri
Bisikan malam bulan dan dewi
Memecah sunyi dari langit ke bumi
Berjanji setia sehidup semati
Selagi bulan mengambang lagi
Sep 26, 2015
Sep 26, 2015 at 2:23 PM UTC
Dirimu menawan meski dalam gelap
Tubuhmu pilu
Bibirmu sendu
Matamu sembilu
Kau berdiri membeku
Diruang gelap bernama kenangan
Meninggalkan kekasih yang terlupakan
Hingga yang terlupakan merasa luka
Kini luka melawan waktu
Memakan rindu yang kelabu
Dan kekasih,
Kita tak akan seperti dulu
Kini aku telah menutup pintu
Tak bisa kau sentuh
Nov 8, 2017
Nov 8, 2017 at 10:55 PM UTC
Aku selalu suka caramu menceritakan dunia, dengan barisan kata yang asing, membuatku harus memutar otakku yang rendah kapasitasnya ini.
Aku selalu suka caramu bahagia, bahkan kamu tidak tersenyum ketika bahagia.
Hebatnya kamu, bahagiamu bisa sampai ku rasa tanpa senyumanmu yang hadir.
Aku selalu suka caramu bersedih, kamu selalu kehabisan kata. Melampiaskannya dengan hal yang bisa mematikanmu, namun pada akhirnya kamu juga butuh pelukanku.
Aku selalu suka caramu marah, kamu selalu terdiam. Sampai pada akhirnya kata maaf terucap, karena kamu takut aku akan terganggu dengan marahmu.
Aku selalu suka caramu optimis, membanggakan dirimu sendiri sampai lupa kalau di dunia ini ada orang sehebat Pak Habibie.
Aku selalu suka caramu pesimis, tidak henti menyalahkan diri sendiri, tapi tidak memakan waktu lama. Setelah itu kamu bangkit lagi.
Tapi satu yang tidak aku suka,
caramu yang selalu mematikan rasa.
Kamu tidak pernah membiarkan rasa-rasa dalam dirimu menyala. Kamu benci rasa. Sama seperti aku membenci diriku sendiri.
Tapi tidak apa,
Nanti kita sama-sama belajar untuk merasa lagi, ya?
Namun, akan lebih baik jika pada akhirnya kita yang bisa saling menumbuhkan rasa.
Feb 26, 2020
Feb 26, 2020 at 2:16 PM UTC
di rumahku
pemandanganku
semuanya kamu
di teleponku
pendengaranku
tentang kamu
pengerat berlari
kamu sendiri
pengerat pergi
kamu tidak cari
setelah kami ini
ada lagi
setelah kami pergi
suaramu meninggi
8 pagi sampai 5 petang
posisimu selalu terlentang
dibelai-belai penuh kasih sayang
bila telat jam makan kau mengerang
sembari menonton sinetron di TV
sembari menghitung sisa uang jajan kemarin
sembari memakan indomie
ketika pulang dini hari
semuanya, kau jadi saksi
Jul 27, 2018
Jul 27, 2018 at 5:56 PM UTC
Di kala sunyi minda berlari
Di atas kertas pena menari
Mencoret kata yang tidak terperi
Melabuh beban yang memakan diri
Sep 26, 2015
Sep 26, 2015 at 2:43 PM UTC
Bosan dan jenuh
Ada saat dimana aku merasa tidak ada seorang pun yang mengerti keadaanku.
Ada saat dimana aku ingin hilang.
Ada saat dimana aku tidak mengerti aku bernafas untuk apa.
Ada saat dimana ketika aku mencapai titik dimana aku tidak memiliki hidup.
Aku muak...
Kadang aku muak terhadap sekelilingku, muak terhadap orang-orang terdekatku, dan bahkan aku muak terhadap diriku sendiri. Saat aku ataupun mereka tidak sesuai ekspektasiku.
Ketika itu sudah mulai merasuk ke pikiran.
Kembali,
Aku tegaskan kepada pikiran, bahwa aku hidup untuk-NYA.
Sering...
Pikiran dan rasa muak memakan tujuanku, hingga aku tetap kembali terlunta-lunta dengan kebosanan dan kejenuhan berebut menarik kekanan-kiriku.
Memakan rasa syukur dan kasih sayang yang mereka berikan kepadaku.
Membuat butiran debu di setiap pikiran untuk tetap hidup.
Aku harus bersyukur... HARUS.
Mar 21, 2020
Mar 21, 2020 at 11:29 PM UTC