"meledak" poems
Setoples garam, sejumput di jarinya
Dikulum masa mudanya, berani.
Bukan hanya menembak, menusuk
Melayangkan doa istri yang merindu
Menghapus sosok bapak, dari sang anak
Dikenangnya pandangan serdadu itu
Jarinya adalah maut, matanya adalah bidik
Senapannya adalah kubur, pelebur semua cinta
Juang adalah bahan bakar seruannya, Merdeka!
Bambu itu simbol perjuangan, ibu
Namaku akan seharum sukma bapak!
Saat kawannya berkawin, bunting, mati
Dia tetap bersolek layaknya gadis
Gincunya dari belanda, mengucur langsung
dari lubang pelornya tepat di jantung
Bedaknya dari tanah desa bapaknya dulu bergundu
Parfumnya alami dari pori-pori semangatnya berlari
Belum lagi perhiasannya,
Antingnya dari granat, meledak tepat di sisinya
Kalungnya adalah medali sebagai
pengingat maut, bergurau dengan nyawanya
Tiba saatnya dia berbaring,
lelah, terluka dan pusing
Menjadi guling yang dicengkramnya
Berselimut lumpur dan mayat
sebagai kasurnya, lelap.
Senja itu angin semilir bergema
Kenangan atau mimpi, dia berandai
Namun pecah ketika aku berteriak
Ibu! Sudahkah? Aku lapar!
Aug 13, 2016
Aug 13, 2016 at 10:51 AM UTC
lampu lampau telah mati.
dicekik bahasa-bahasa cinta
yang menguar dari mulutmu.
ruang penuh raung itu maka
padam. aku diselimuti hangat
tenang dan bara senang.
lihat, setelah punggung
yang kauberi kemarin,
kembang-kembang api
kini tak mau meledak di langit.
pucuknya selalu pecah
sebagai kesunyian
di kepalaku.
kanya, 2017
Aug 5, 2017
Aug 5, 2017 at 12:49 PM UTC
jarak ini amunisi,
yang membuat rindu melesat meledak di dadamu.
sedang tombol 'qwerty' ini seperti belati yang menikam kata kata rindu tajam ke ulu jantungmu.
Aug 30, 2019
Aug 30, 2019 at 1:03 PM UTC