Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"melambat" poems
ketika berjalan di atas rumput waktu seakan melambat seakan aku melangkah terseok seakan bumi berusaha menelan kakiku kubiarkan tubuhku terjatuh sementara mataku memanah langit menunggu alam menjamahku menggerogoti nadiku tulang sumsumku nyawaku biarlah darahku menjadi nutrisi bagi tanah mungkin dagingku bergizi bagi hewan liar sementara tubuhku membusuk bersatu dengan hara tunas-tunas mungil muncul dari dalam dan bunga-bungaan bermekaran di antara tulang rusukku
0
May 7, 2014
May 7, 2014 at 9:03 AM UTC
untitled
Aku menulis Menulis lagi hal yang semu Makna yang tak pasti Aku berpikir keras, kata demi kata ku ketik Klik, Klik, Klik Berharap kelak tulisanku terpajang indah di tembok lorong Aku tidak melihat ke depan, ataupun ke belakang Aku hanya fokus pada layar yang ada di depanku Memandang, membaca, memahami Mengimajinasikan visual hidupku ke dalam kata Terus Klik, Klik, klik Aku berusaha tak terputus, terus mengetik Tiada orang lain yang ada dipikiranku Tidak diiidiii, ibuku, bahkan kawanku Hanya berpikir, huruf apalagi yang harus ku tulis setelah huruf ini? Klik, klik, klik, Aku mulai melambat Namun ku tak pernah menyerah Tak ingin kutinggal Kini pikiranku buntu Di saat aku mulai meninggalkan layarku Sejenak imajinasiku berbicara "You can not be changed... But you can make a change." . . . Tak ada lagi Klik, Klik, Klik Aku hanya memikirkannya Dan semua selesai Hanya dengan satu KLIK
0
May 28, 2013
May 28, 2013 at 7:55 AM UTC
KLIK
Yang jalang meloncat telah tiba & kita merangkak menjauh sutera & kau melihat pada selangkang merebak dedaunan riba. Kini menjalin kepada alang-alang, merayu kepada segala buangan. Yang terbuang kemudian terjerembab ke-Esa-an/ pertolongan/ makian/ gelak ketidak sudian. Semua bajing meloncat-loncat kala malam tiba & aku tidak menemui dirimu menjalin asmara, pada bantal dan kerangka bunga & batok-batok kelapa bersumpah pernah bersimfoni di gedung tua bangka. Katakan semua yang terlihat menemukan artinya, berbalik dan melenggok tiada suka. Aku merusak gelanggang samudera, dan menemukan orang-orang bercumbu di dalamnya. O Gayung merambah kepada sujud-sujud La beruja. Melirik kepada hampa & tau kah, dirimu mencintai duka. Semua manusia kemudian melambat Gedung-gedung berselimut jas pekat /kini duka melihat rembulan siang Merajut benang & diam-diam melempar bebatuan. 3/7/19
0
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 10:59 AM UTC
Kontempo
Dalam ke-tiga ratus empat puluh empat meter per detik kecepatan suara, ternyata tak ada bibirmu didalamnya. Sebab kabar tak lebih cepat dari suara, dan tak lebih lambat dari jatuh cinta. Apakah mungkin, suara dapat merasuk lebih cepat jika dia merangkak di dalam air mata? Mungkin juga sebaiknya kita perhatikan bagaimana suara merambat melalui dua puluh satu derajat selsius suhu udara, menjadi sebuah rangkaian gelombang kata-kata yang melambat dan merangkai dengan sendirinya. Apakah mungkin getaran suara dapat lebih cepat, jika kulitku tidak menjadi sehangat ini? Jika kamu bukan getaran suara, lantas mengapa sepersekian detik nama mu bergaung dalam kenangan?
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:31 PM UTC
Kecepatan Suara