Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"luar" poems
4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap. Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap. Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja. Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari.. Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat.. Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!! Maka telah tertutuplah pintu taubat.. Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi.. Bismillahirrahmanirrahim.
0
Mar 25, 2015
Mar 25, 2015 at 11:14 PM UTC
MUHASABBAH
Kepada Kamu. Kita terlalu sama. Suka menangis diam diam. Kelihatan tegar di luar, padahal hancur di dalam. Ketika kini kulihat tawamu yang terlalu keras, aku tahu bahwa kau sedang tidak baik baik saja. Kau memang ahli bermain peran, tapi tidak di hadapanku. Cobalah hidup jujur terhadap apapun yang kau rasa. Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sia-sia. Hidup tidak melulu soal bahagia, tapi juga sebaliknya. Itu kemutlakan yang tak bisa kau tolak. Seperti sekarang, jangan selingkuhi perasaanmu sendiri, menangislah. Sungguh, tidak ada yang salah dengan jatuhnya airmata. Airmata bukan penanda lemah, sebaliknya itu pertanda agar kau tidak lengah. Setiap kita memiliki lukanya sendiri sendiri. Juga, memiliki cara sendiri sendiri untuk memulihkannya. Airmata adalah cara lain kau berbahasa dan mengungkap rasa, ketika kau tak sanggup mengolah kata. Biarkan luka terbawa oleh setiap tetes airmata yang menitik sukarela. Terkutuklah mereka yang percaya ‘anak hebat tidak menangis’ lalu menurunkan kebijakan yang tidak bijak itu pada anaknya. Mereka pasti mati rasa. Izinkan aku menemanimu, tanpa banyak bicara, memberi petuah yang menjemukan, atau bertingkah konyol agar kau tertawa. Aku hanya akan duduk di sampingmu, menemani selama kau mau. Dan sesekali memberi genggaman, untuk menguatkan. Note: bahkan airmata adalah buah tawa, saat aku bahagia bisa menemanimu dan mendengar cerita kegiatanmu seharian.
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 2:40 AM UTC
Tear
Sebelum nafasku yang terakhir Ku luar kan kepadamu Engkaulah yang ku tunggu Engkaulah bintangku Dan kamu Aku masih sayang kepadamu Biarlah ini satu rahsia buatmu Adakah ini suatu mimpi Yang selama ini engkau menyelami Menyinari Menghiasi alamku dengan warna cinta pelangi Engkau ada tetap dihatiku walau ku tiada Engkau ada tetap dijiwaku walau bisa Dan ku harap kau maafkanlah segala dosa Sebelum ku pejamkan mata untuk selama-lamanya Dan kamu Aku masih sayang kepadamu Biarlah ini satu mimpi indah bagiku Apabila nadiku berhenti Tamatlah sudah puisiku ini Tapi ini bukanlah satu erti Kuharap engkau kan terus bermimpi Kubina cinta di alam mimpi Bayanganmu ku kan salji Selalu berada sentiasa disisi Selamanya kepadamu Aku.. Aku berjanji.. ©2014 RevoLusi ©2014 Maman Screams
0
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 4:11 AM UTC
Mimpiku Yang Terakhir (My Last Dying Dream)
Palembang, 3 November 2011 Sunyi . . . Di luar hujan mereda tinggal rintik Aku duduk terlemas terpaku Otak ku berputar "mengapa ini selalu terjadi kepada ku?" Aku menangis... Aku menyesal... Aku meronta... Di dalam hati Aku bertanya. . . Apa salah ku? Ya, andai aku bisa lebih sabar Allah pasti kan memberiku hadiah Namun tadi aku belum beruntung Aku kecewa . . . Pada diriku sendiri Mengapa tak ku dengar kata hatiku? Seakan inilah takdir ku Tidak pernah beruntung Baiknya, Allah selalu mendengar doa ku "Maafkan aku, boleh ku minta hadiah ku?"
0
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 10:55 AM UTC
Kuhilangkan Hadiah Ku
Jakarta, 29 April 2008 Ku langkahkan kaki ku Naik sesuatu yang akan membawa ku Roda berputar mengelilingi kota Yang panjang berkelok-kelok Di tengah jalan ku lihat dia Dengan lekuk senyum penuh sinar Sesaat saja aku melihatnya Aku pun berlalu lanjutkan perjalanan Roda berhenti, aku keluar Menghirup udara luar Kerlipan cahaya hiasi malam Langkahku mulai dekati pintu Aku keluar dengan perut kenyang Masuk kembali dan bawa ku pulang Di tengah jalan ku antusias Mencari dia lagi yang indah Tapi, tak terlihat senyum cahayanya Aku berlalu jauh dari dia Hatiku sedih tak memandangnya Aku pun pulang diantar roda
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 9:56 AM UTC
Senyum Cahaya
Dalam retrospeksi minda naif kecilku pernah berimaginasi memikirkan dunia luar sana yang bagaikan fantasi hati merontakan suatu kebebasan yang diimpi namun kini ku sedari, itu semua hanyalah persepsi seorang gadis kecil yang dahulunya bercita-cita tinggi masa sudah tiba untuk kembali ke realiti. Selamat datang ke Kota Korupsi di mana manusia-manusia bertopengkan syaitan kehausan kuasa, kerakusan harta duniawi dipuja, dipuji dan disanjung tinggi pil penawar pula makanan ruji untuk depresi tiada lagi tempat mengadu, tempat meluahkan hati hanya tinggal kata-kata yang kehilangan erti terpapar di kotak skrin empat segi. Bangsaku semakin alpa, agamaku jauh sekali soal halal haram tidak dipertikaikan lagi hanya topik sembang santai di kedai kopi bicara hari nanti ditolak dahulu ke tepi. Dunia yang dahulu semakin pudar hanya serpihan di hujung sudut memori masa berlalu terlalu pantas, terlepas dari jari-jemari sekarang sudahpun tiba generasi baru menapakkan kaki namun, lihatlah sejarah mengulangi dirinya sekali lagi selagi nafas belum terhenti selagi kita belum pergi.
0
Dec 29, 2017
Dec 29, 2017 at 6:45 AM UTC
Kota Korupsi
Tak ada yang bergerak di luar jendela Rahasia tersimpan rapi diantara bantal-bantal yang tersusun Izinkan aku untuk masuk Aku tak akan menyakitimu Kita terjebak diantara Surga dan Neraka Mencari tempat berlindung Ketika rasa sakit mengalir turun seperti hujan Mereka membagikan rasa itu secara cuma-cuma Saat bagian tersulit berakhir Kita akan terus berada disini Kita bisa memberitahu Iblis untuk kembali ke tempat ia berasal Karena kau dan aku telah melawati batas-batas ketakutan berdua.
0
Jun 5, 2016
Jun 5, 2016 at 10:01 AM UTC
Selisih
AKHI, JIKA BENAR ENGKAU MENCINTAI ISTRIMU... Ijinkan dia berdakwah... Berkumpul dengan akhwat seperjuangan.... Relakan kepergiannya ke berbagai majelis ilmu... Sekalipun itu mengurangi waktunya, untukmu... Banyak suami salah prioritas... Istrinya boleh bekerja di luar rumah... Bebas beraktivitas jika hasilnya menunjang ekonomi keluarga... Bahkan didukung untuk kuliah pascasarjana... Tapi, minta ijin 2 jam saja dalam seminggu untuk ngaji, TIDAK BOLEH? Jangan egois, wahai saudaraku.. Suami memang punya "hak veto" dalam rumah tangga... Keputusannya adalah kewajiban istri mentaatinya... Larangannya adalah keharusan istri meninggalkannya... Maka, gunakanlah kewenangan itu dalam PRIORITAS YANG BENAR... Dakwah itu wajib, bagi pria juga wanita... Doronglah istri ikut berjuang di jalan dakwah... Sesekali ambil alih kerjaannya di rumah agar dia bisa leluasa bergerak... Sudah pasti ini mengurangi kebersamaanmu dengannya... Tapi, percayalah ini hanya sementara... Kelak ada masa bebas bercengkerama dengan yang tercinta... Di dalam surga, dan kalian berdua akan terus bergembira... ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺃَﻧﺘُﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺒَﺮُﻭﻥَ "Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan". (QS. Az-Zukhruf, 43: 70) ‪#‎women‬ and sharia
0
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 4:48 AM UTC
Ya Akhi
Douro que corres por querer Correr sem direcção por encostas esculpidas, Brilho nas noites de luar em que te sentes só, Amanhecer com névoas ainda adormecidas, Rio meu, de meus pais e avós.... Tua melancolia que parece humana, Nas tuas margens sargaço que emana, Rio que escondes segredos e enganos, Sejam eles grandes ou pequenos. Douro dourado de um sol fatigante, Rio feito de amor por sua gente. Esbate teu amor nas sombras do salgueiro, Sublime e excelente conselheiro. Rio Douro esverdeado e também azulinho, A tua límpida água parece ser puro vinho, Rio do Douro belo que à alma dá prazer, Sede de sempre tua água beber. Victor Marques
0
Apr 24, 2014
Apr 24, 2014 at 1:54 PM UTC
Douro que Corre por Correr
Correrias loucas do ser humano, Engano e desengano, Povos, novos mundos, Adormecidos em sonos profundos. Pessoas se torturam e consomem. Uns nem sabem seu nome, Pensadores sem direito, idolatrados em v|\ao, Religiosos sem ter religi\ao... As pessoas pouco labutam, Algumas hist]orias at]e se escutam, Pessoas da sociedade singular, S\ao janelas deitadas ao luar.. Victor Marques
0
Jun 24, 2010
Jun 24, 2010 at 3:08 AM UTC
Pessoas...Pessoas
Sou eu …. Caminhando por entre vales sonolentos, Penedos com mil encantos, Sobreiros abençoados, amores bem-amados, Fontes de tesouros abandonados…. Sou eu… Me vejo imortal nas papelarias feito postal, Imagino ser sempre menino, Cantar na escola o mesmo Hino, O hino sublime de Portugal. Sou eu… Que pernoito ao luar sem contas para dar, Me enalteço com vitórias e derrotas, Vejo coisas vivas quase mortas, Sentimento ímpar de um olhar. Sou eu… Nascido numa terra que seu rio sempre vai amar, Nevoeiro que se envaidece sem falar, Amor de um amor que me quer sempre bajular, Sou eu e meu fado por cantar… Victor Marques
0
Apr 22, 2014
Apr 22, 2014 at 8:37 AM UTC
Sou eu .... mais eu
Kebanyakan orang tinggal bersamanya, saya tidak. Seperti bisa memasak, tapi tidak terlalu pandai seperti Ibu. Selalu lebih, kadang lebih asin, kadang lebih hambar. Pernah saya membencinya, sebelum saya tau isi hatinya. Memaafkan adalah hal yang sangat luar biasa, entah ada mantra apa di dalamnya, namun setelah itu saya merasa sangat tenang. Dia bilang bahwa saya mirip dengan seseorang. Katanya, dia persis seperti saya saat kecil, rambut tipis agak ikal, hidung, bibir dan matanya, katanya persis seperti saya. Saya menangis, entah sedih, sakit, senang, atau haru. Saya tidak pernah diajarkan untuk membenci seseorang, sekalipun yang sudah menghancurkan saya. Sudah saya bilang, bahwa ada mantra ajaib dibalik kata maaf. Bisa saja saya membencinya, namun saya tidak memilih hal itu. Bukan hanya saya yang terluka, dia juga lebur.
0
Jun 1, 2019
Jun 1, 2019 at 5:28 PM UTC
Hal yang baik
andai, dan kalau orang boleh jenguk hati orang lain seorang seorang, naluri nya atau mungkin periksa tahap remuk jantung nya. aku rasa, itu sudah cukup buat mereka untuk diam mungkin sentap seketika sebab, sebalik setiap insan, remuk hati, mati jiwa, setiap perasaan yg berkecai, tidak akan mampu didefinisikan dgn sebuah 'insan' di luar roh dan nalurinya. ada yg gigih sembunyi. ada yg kecundang. lalu mati bersama jiwa.
0
Jan 23, 2015
Jan 23, 2015 at 8:44 AM UTC
Andai aku-- kita
Keretanya melaju sangat kencang. Sampai-sampai, ia lupa cara untuk bernafas. Matanya tertuju pada kesunyian yang tampak di luar jendela. Otaknya terus menerus melontarkan tanya, apakah ia bisa bertahan dilajunya kereta ini? Apa ia bisa untuk berdiri dan berjalan kemanapun yang ia mau? Apa bisa? Kalau hatinya mati, ia takkan kesepian lagi? Tetap saja, ia tak tahu bagaimana cara menjawab pertanyannya sendiri. Dan, keretanya takkan pernah berhenti.
0
Apr 13, 2021
Apr 13, 2021 at 8:19 AM UTC
Keretanya Takkan Pernah Berhenti
Uma casca solta, prisioneira de uma falha perfeita, Perfeitos são o mitos, aos olhos de gente fechada, Explicações são fraquezas, de acções de fachada. Não sei mais quantas vezes eu repetirei, a ceita! O peixe escorregadio, que vadio desaguou do mar, Se esconde na toca do Coelho, que é toca desafeita, Num segredo moribundo, de computador de aldeães, Segundo um mito motar de um braço partido ao luar! Essa vaquinha que pastou, pintada de vermelho corado, Desfeita tantas vezes no pasto, moribundo da praia vazia, Era apenas um segredo, pintado nas veias do tal marado, Que mais ligada que a mentira à realidade, produzida, diria! Que se fodam os mitos, que se lixe o correto, porque certo? Estou eu, e eu, segundo os mitos que considero correctos, Não tiro nem ponho, continuo caminho fora, boquiaberto, Enquanto penso, na esperteza dos enxames concretos! Na sementeira alheia, vanguardeira cairá tão perto, Seu ***** espaço de terra, de um vazio moribundo, E eu cumprida a missão, estarei bem melhor decerto, Porque tudo como nada, tem um preço de vinda ao mundo! Escolhas guardadas comigo, desde o dia que nasci, Cabe ao meu cérebro processar o dia, é costume, Que de tão leve vive meu lume, que ela não teme, Limpeza de água, que cai e faz fumo, e aprendeu! Autor: António Benigno Código de autor: 2013.07.25.02.10
0
Aug 31, 2013
Aug 31, 2013 at 5:08 AM UTC
Esta é a utopia
Dizer que tenho saudades tuas, agora é uma espécie de mentira coberta com um pano de linho Tenho somente saudades do que era antes de Ti E isso é a cruz que carrego Vincada e afiada que se pôs as minhas costas E se me mexo me corta em dois Como carne fina do talho gourmet Comparação inadequada, eu sei Mas a única que penso agora, que sou estreita. Por vezes olho para o relógio, e já nem contando as horas Reparo nas datas, extensas Dou por mim a ver um mês E no momento a seguir, o olho E vejo dois meses, a correr Pergunto-me se estou louca ou simplesmente Exausta O tempo deixa de ter nexo e o Mundo fica pequeno Os dias passam como se não tivessem vida E em vez de correr, existo Durmo ao Luar e ao Sol Como se tudo se tratasse do mesmo Do sonho Do sono Explicar-te porque sinto saudades tuas, agora é uma espécie de firmamento do caminho insano que percorro Tenho somente saudades do Tempo que parava Quando nos teus braços respirava Sossegava E agora não tenho sangue suficiente para estancar a ferida Dura, profunda, dolorosa Como os pés que piso Que não são meus.
0
Jul 7, 2012
Jul 7, 2012 at 9:04 PM UTC
o nunca ter tido
O universo que te aquece A vida do sentimento te aquece, O universo te rejuvenesce O pelourinho inerte enlouquece, O bom pensamento agradece… Gargalhadas ao acaso  embaladas, Salgueiros que choram sem parar, Caminhadas feitas ao luar, Recordações guardadas. O peito toca estranhas sensações, Gotear pelas serenas ilusões. Te amar ao toque do vento, Penar com a pena do alento. Victor Marques ,
0
Dec 10, 2009
Dec 10, 2009 at 10:46 PM UTC
O UNIVERSO QUE TE AQUECE
A flor colorida Não te prometo sandálias para caminhar, Dou-te beijos de embalar. Horizonte estonteante, apaixonado, Afecto bem guardado. Não te prometo a neve da montanha, Carinho desmedido. Um amor comprometido, Desejo e amor rejuvenescido. Não te prometo o céu e o mar, Barco para navegar. O eterno luar tem paraíso, Um beijo, um sorriso. Não te prometo um céu estrelado, Carícias em qualquer lado. Primavera envaidecida, Flor florida. Cordiais Cumprimentos. Victor Marques
0
Dec 23, 2010
Dec 23, 2010 at 4:01 AM UTC
Flor Florida
A noite chega com gemidos e lamentos, Eu com a vida em torno de ternos momentos, Se nasce em qualquer lugar, vivemos com sonhos para realizar, E eu aqui sentado com o pranto e o luar... A lua hoje é plena e observa todos os seres que vivem para sempre morrer, Uns acreditam outros não numa vida sem tristeza em eterna comunhão, Pedaços de saudade de quem partiu sem por vezes querer... Jesus Cristo foi vinho, foi pão, foi a única esperança para a vida,morte e ressurreição. A vida foi aquilo que quis ser, pois pensamos que tudo podemos fazer, Nunca temos a verdadeira preocupação que nascemos e vivemos para terra tornar a ser... Com o canto dos grilos e com a terna saudade de quem foi vivo e nos deixou, Me abandono ao mundo, ao céu e a Deus que tudo criou. Victor Marques
0
Aug 25, 2018
Aug 25, 2018 at 5:55 PM UTC
A Saudade de quem nos deixa
Vivemos num sono profundo Os rios correm sem parar, As estrelas enlaçadas no luar. Ser comum de viver vagabundo, Embriagado num sono profundo. As montanhas inertes, transformadas, Arvores mal tratadas. Borboletas que poisam sobre as flores, Riachos sem rouxinóis reprodutores. Joio e as belas searas aloiradas, Uvas e suas lagaradas. Alegria e tristeza neste mundo controverso, Caminhar num caminho incerto. Estalar de dedos sobre sobreirais do destino, Vaguear nos sonhos de menino… As ervas daninhas e as grandes constelações, Me adormecem com um sono de ilusões. Victor Marques
0
Oct 10, 2013
Oct 10, 2013 at 9:02 AM UTC
Vivemos num sono profundo
Acordar Na noite adormeço os sonhos do dia, No travesseiro repouso poesia. As estrelas brilham no firmamento, Eu acordo a cada momento. Podemos ter sonhos inacabados, Segredos bem guardados. Silencio magistral para o corpo e nossa mente, Acordar novamente… Os que acordam em camas de ninguém, Felizes sem nada acordam também. A natureza com suas rolas a cantar, Quatro da manhã toca a despertar. O Silencio da noite santifica, O Sono te acolhe e dignifica. Nas estradas do mundo ao luar, Eu me sentei para acordar. Victor Marques
0
Jun 18, 2012
Jun 18, 2012 at 11:11 PM UTC
Acordar
Jesus está aí No amor Jesus é meu Deus, Ama filhos que não são seus. Nas constelações sem altar, Na bruma e no luar, Jesus quer nos amar. Nos caminhos com ciladas, Nas tristezas encontradas. No teu amor que nos consola, Na harpa, na viola. No deserto com areias, No sangue que corre nas veias, No horizonte que imortaliza, Temos Deus e JESUS com Vida. Cordiais Cumprimentos. Victor Marques
0
Jan 1, 2011
Jan 1, 2011 at 10:45 AM UTC
Jesus está aí
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
0
May 27, 2019
May 27, 2019 at 12:42 AM UTC
Sumpah Dibayar Mata
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
Continue reading...
35
E por hoje dizer-te não é banal Estive atento e discretamente olhei o teu doce olhar, Passei noites ao luar, descrevendo as estrelas de bonitas, Mas bonitas mesmo são tuas pétalas, flor de esplendor! Tua sensibilidade e visão de mulher, a mim das nas vistas! A certeza no destino, é como lotaria no caminho, Onde te encontrei, no meio de tantas eu te vi sozinho! Há muito tempo mesmo, que teimou em não passar, Suspirei, me cansei, tirei todas, para agora te inflamar! Sinto perto o carinho, da pessoa, minha amiga e mulher, Te chamei e falei ao coração, para te agarrar e poder amar, És tu hoje, em quem eu pego e petisco, com qualquer colher, Porque muito ou pouco que nela couber, te saboreio ao petiscar! És refeição completa para mim, como sangue vivo, ao coração, Tuas doses tão prudentes de afecto, é outro nível neste patamar, Orgulho de te cuidar, porque de mim, cuidas tu, como a terra do seu mar! Se eu hoje respiro vida, ao querer cada hora do dia, desde o levantar, Devo-te muito a ti e as palavras que escrevo não são hoje fantasias, Porque cuidas de mim, como terra do seu vazo, da planta, de encantar, Encanta meu sorriso, pelo teu cuidar, nas coisas que fazes e me dizias! Não é falso nem é mentira, acredito na realidade que tu me trazes, Não finjo, não mudo, não acredito que precises tu princesa, de mudar! Olhei-te do chão, mirei-te, e tu com teu jeito doce, levantas-te meu olhar, E eu confie-te nos braços tudo, na hora me deitar, pelo que tu me fazes! A falta de carinho não a sinto hoje, porque a não tenho, A ti te darei respeito, pela dama e senhora que te achei, Encontro-te a ti a cada dia, no meu leito, e no meu cardanho! Porque ele é gíria de tudo aquilo que tenho e em ti encontrei! Autor: António Benigno Código de autor: 2013.09.09.02.20
0
Sep 9, 2013
Sep 9, 2013 at 8:24 AM UTC
E por hoje dizer-te não é banal
E por hoje dizer-te não é banal Estive atento e discretamente olhei o teu doce olhar, Passei noites ao luar, descrevendo as estrelas de bonitas, Mas bonitas mesmo são tuas pétalas, flor de esplendor! Tua sensibilidade e visão de mulher, a mim das nas vistas! A certeza no destino, é como lotaria no caminho, Onde te encontrei, no meio de tantas eu te vi sozinho! Há muito tempo mesmo, que teimou em não passar, Suspirei, me cansei, tirei todas, para agora te inflamar! Sinto perto o carinho, da pessoa, minha amiga e mulher, Te chamei e falei ao coração, para te agarrar e poder amar, És tu hoje, em quem eu pego e petisco, com qualquer colher, Porque muito ou pouco que nela couber, te saboreio ao petiscar! És refeição completa para mim, como sangue vivo, ao coração, Tuas doses tão prudentes de afecto, é outro nível neste patamar, Orgulho de te cuidar, porque de mim, cuidas tu, como a terra do seu mar! Se eu hoje respiro vida, ao querer cada hora do dia, desde o levantar, Devo-te muito a ti e as palavras que escrevo não são hoje fantasias, Porque cuidas de mim, como terra do seu vazo, da planta, de encantar, Encanta meu sorriso, pelo teu cuidar, nas coisas que fazes e me dizias! Não é falso nem é mentira, acredito na realidade que tu me trazes, Não finjo, não mudo, não acredito que precises tu princesa, de mudar! Olhei-te do chão, mirei-te, e tu com teu jeito doce, levantas-te meu olhar, E eu confie-te nos braços tudo, na hora me deitar, pelo que tu me fazes! A falta de carinho não a sinto hoje, porque a não tenho, A ti te darei respeito, pela dama e senhora que te achei, Encontro-te a ti a cada dia, no meu leito, e no meu cardanho! Porque ele é gíria de tudo aquilo que tenho e em ti encontrei! Autor: António Benigno Código de autor: 2013.09.09.02.20
Continue reading...
30